KH Q Ahmad Syahid, Ayah Syahid, Al-Falah Cicalengka, PWNU Jabar, Jawa Barat
Almagfurlah KH Q Ahmad Syahid, pendiri dan pengasuh Pesantren Al-Falah Cicalengka, Bandung. Foto: dok. Keluarga.

Nahdlatul Ulama dan jejaring pesantren Jawa Barat kembali kehilangan salah seorang tokoh penting. KH Q Ahmad Syahid bin Kiai Sholeh, pendiri dan pengasuh Pesantren Al-Falah Cicalengka, wafat pada Sabtu, 5 Agustus 2017, jam 18.15 WIB di rumah sakit AMC Cileunyi. Kepergian kiai yang lahir pada 9 Januari 1945 ini sangat mengagetkan karena pada hari-hari sebelumnya masih mengikuti kegiatan pesantren sebagaimana biasa. Juara MTQ pertama di Ujung Pandang tahun 1968 ini, masih sempat berfoto memakai medali Honorary Police dari Kapolda Jabar. Almarhum meningglkan seorang istri (Hj. Euis Kultsum) dan 8 orang putera-puteri.

Almarhum adalah sosok yang lengkap, orangtua, guru dan pengayom bagi santri dan masyarakat. Dalam struktur NU beliau adalah tokoh yang sangat berwibawa,” ujar Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah. “Kontribusinya untuk negeri ini, khususnya Jawa Barat, sangat signifikan terutama dalam pembangunan mental dan aqidah,” lanjut Gus Hasan.

Bermula dari tiga orang santri pada 3 Mei 1971, Pesantren Al-Falah berkembang menaungi pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Kecintaan Ajengan Syahid pada Al-Quran dan Nabi Muhammad Saw., sangat dikenang oleh para santrinya. Ayah Syahid, demikian ia akrab disapa, selalu menangis saat melantunkan ayat-ayat azab/siksa, begitu pula saat menyampaikan riwayat Nabi. Suara merdunya masih terjaga kuat hingga usia senjanya. Sebuah link masih mengabadikan suara emasnya sekalipun kualitas gambarnya kurang bagus.

Sanad Keilmuan

KH Ahmad Syahid mengambil jalur keilmuan kepada sejumlah ulama, antara lain: pertama kepada KH Mohammad Sholeh (ayah beliau) dan KH Mohammad Ishaq. Lalu kepada KH Mohammad Toha (Fiqih), KH Mu’thi (Bahasa Arab), KH Ma’mun Bakri (Qiro’atul Qur’an), KH Syuja’i (Balaghoh), KH Mohammad Siroj, (Qiro’atul Qur’an), dan Syaikh Muhammad Nazdim (Tarekat Naqsabandiyah). Beliau juga sempat berguru kepada Sayyid Alwi Al-Maliki di Mekkah.

Dengan sanad keilmuan yang kuat khususnya di bidang qiraatul Qur’an, tak heran jika santri-santrinya juga banyak yang menjadi tokoh dan tidak sedikit pula yang juga sudah memiliki pesantren. Sudah selayaknyalah jika kiprah panjang beliau menjadi suri tauladan para santri dan pendakwah.

Secara khusus Gus Hasan menyampaikan, “Saya sebagai Ketua PWNU, mewakili pengurus dan jamaah nahdliyin Jawa Barat, sungguh merasa sangat sangat kehilangan dengan wafatnya beliau. Kami berdoa semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untuk beliau disisi-Nya.”

(Data diolah dari berbagai sumber/Tim nujabar.or.id)

Komentari