Dhilla Nuraeni Az-Zuhri, IPPNU, UNINUS, PWNU Jabar, Jawa Barat
Dhilla Nuraeni Az-Zuhri, Aktivis IPPNU Kota Bandung, Mahasiswi Pascasarjana UNINUS.

Dhilla Nuraeni Az-Zuhri

Aktivis IPPNU Jawa Barat, Mahasiswi Pascasarjana UNINUS

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun Indonesia bukanlah negara Islam yang hanya memakai hukum dan perundang-undangan Islam. Indonesia adalah negara yang memiliki beraneka ragam budaya, adat, kepercayaan dan agama. Indonesia memiliki agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu dan berbagai kepercayaan yang selalu terpelihara di bawah naungan dasar Pancasila. Keanekaragaman tersebut tidak begitu saja tercipta, tanpa adanya upaya maksimal yang komprehensif dari seluruh elemen masyarakat yang didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah.

Sebenarnya, arti kata toleransi adalah sikap terbuka dan menghormati perbedaan. Meski kaitan toleransi lebih sering pada perbedaan suku dan agama. Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotype yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap.

Anak dapat diperkenalkan konsep tentang toleransi sejak dini, yaitu pada sekitar usia empat tahun. Sebelum mencapai usia tersebut, bukan berarti anak tidak akan sama sekali menyerap berbagai contoh atau mengetahui nilai-nilai toleransi tersebut. Sejak usia satu tahun, alam bawah sadar anak dapat menyerap contoh yang dilakukan oleh orangtua dan orang-orang di sekelilingnya.

Namun pada usia dua tahun, sebagian besar anak masih cenderung memiliki sifat egosentris. Artinya, anak menganggap bahwa dirinya adalah segalanya. Yang membuat mereka sulit berbagi atau belum bersedia bermain dengan orang lain.

Di sinilah peran penting orang tua dalam menanamkan nilai toleransi kepada anaknya. Terutama, menstimulasi anak agar dia siap menerima keberadaan orang lain. Secara bersamaan, juga menanamkan karakter toleran terhadap orang lain yang berbeda dari dirinya.

Banyak orang tua yang hidup dalam komunitas yang beragam dan memiliki teman-teman yang memiliki perbedaan asal-usul, jenis kelamin, agama, dan sebagainya. Mengajari toleransi pada anak-anak, sebaiknya dimulai dari sikap orang tua yang menghargai perbedaan-perbedaan itu dengan baik, yaitu dengan menjadi diri mereka sendiri, tanpa sikap yang dibuat-buat. 

Lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting dalam mengembangkan toleransi beragama. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui anak bersifat heterogen maka anak dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing agama.

Anak-anak di masa depan, terutama dihadapkan pada era globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.  Maka pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi masa depan mereka. Apalagi kelak jarak antarnegara dan benua, sudah semakin dekat berkat kemajuan teknologi. 

Bila anak sejak dini sudah diajarkan pentingnya sikap saling menghormati terhadap semua orang, tanpa peduli pada latar belakangnya, tentu anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki nilai moral baik, termasuk kerukunan dan toleransi.

Komentari