Khofifah Indar Parawansa, PERGUNU, Storyteller, PWNU Jabar, Jawa Barat
Dra Hj Khofifah Indar Parawansa, M.Si., Menteri Sosial RI dan Ketua Umum PP Muslimat NU. Dok. kabarrakyat.co

Wajarlah kalau Ketua Family Foundation, lembaga di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Taj Hamad mengaku kaget melihat angka perceraian di Indonesia, negeri dengan penduduk mayoritas muslim.

Merujuk data Komnas Perempuan pada Buku Catatan Tahunan 2016 Edisi Launching 7 Maret 2016 yang dikutip Kementerian Sosial, dari 352.070 perkara perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) pada 2015 terdapat 252.587 kasus perkara cerai gugat, disusul cerai talak (98.808 kasus) serta izin poligami (675 kasus).

Sedangkan penyebab perceraian menurut kategorisasi Pengadilan Agama (PA) dari 15 kategori yang dirilis, ada tiga kategori terbesar yakni tidak ada harmonisasi sebanyak 97.418 perkara (32 persen), tidak ada tanggung jawab 73.996 perkara (24 persen) dan ekonomi 66.024 perkara (22 persen). Trend “tiga besar” di 2015 ini sama dengan 2013 dan 2014.

“Tidak harmonis itu macam-macam. Bisa merasa rumahnya kurang mentereng atau mobilnya kurang bagus,” papar Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi.

“Apa saja bisa menjadi penyebab tidak harmonis kalau kita mempermasalahkan, maka masalah itu bisa muncul. Tapi kalau kita anggap itu bagian dari karunia Allah ya kita akan longgar hati.”

Lalu kategori tidak ada tanggung jawab. “Misalnya anak waktunya bayar sekolah, diam. Waktunya bayar cicilan mobil, diam. Itu tidak ada tanggung jawab namanya,” tandasnya.

Karena itu, tambah Khofifah, pernikahan harus ditempatkan kembali di posisi mitsaqon gholidzo (perjanjian/sumpah yang agung). “Apakah akan dimulai dari kepala KUA, ataukah pemberi nasihat perkawinan,” katanya.

Khofifah mencontohkan kalau ada KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), maka para penasihat perkawinan mesti menerjemahkannya dengan ayat wa ‘asiruhunna bil ma’ruf (Dan pergaulilah istrimu dengan baik).

“Kalau perempuan yang menjelaskan rasanya itu akan masuk di dalam bagian mau’idhoh nikah, tapi kalau laki-laki saya khawatir yang terjadi (ayat yang dipilih) arrijalu qawwamuna ‘alan nisa’ (Lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita).

Kekhawatiran Khofifah mungkin tak berlebihan, sebab di negeri ini para penasihat perkawinan masih banyak dari kaum laki-laki.

“Jadi bisa beda ayat yang dijadikan referensi,” katanya.

(Nur/muslimat-nu.com)

Komentari