Oleh : KH. Amin Baejuri Asnaf, S.Ag., M.Pd.I.
(Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat.)

Setiap tahun di bulan Desember berbagai tulisan terkait masalah ucapan SELAMAT NATAL banyak muncul di bahas melalui ceramah, tulisan baik di surat kabar maupun medsos, termasuk dialog di kajian-kajian. Pembahasan ini pandangannya kerap kali berbeda mengenai boleh dan tidaknya mengucapkan selamat atas hari besar agama lain, seperti hari Natal, Nyepi, dan seterusnya. Perdebatan ini sering muncul terjadi, baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial. Perbedaan ulama ada kelompok ulama yang membolehkan dan ada pula ulama yang mengharamkan. Mengenai hal ini para ulama sama-sama hanya berpegang pada generalitas (keumuman) ayat atau hadits yang mereka pandang terkait dengan hukumnya. Sehingga oleh para ulama, hal seperti ini dimasukkan dalam kategori persoalan ijtihadi. yang berlaku kaidah:

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ
Permasalahan yang masih diperdebatkan tidak boleh diingkari (ditolak), sedangkan permasalahan yang sudah disepakati boleh diingkari.

Pandangan ulama dimaksud adalah dengan pedapatnya :

  • Boleh mengucapkan

Sebagian kelompok ulama yang membolehkan ucapan selamat atas hari besar umat beragama lain berpedoman Firman Allah SWT

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah:8)

Dalam ayat tersebut, Allah tidak melarang seorang Muslim untuk berbuat baik kepada siapa saja yang tidak memeranginya dan mengusirnya. Nah, mengucapkan selamat hari raya non-Muslim dinilai sebagai salah satu bentuk perbuatan baik kepada non-Muslim. Dengan demikian, adalah boleh hukumnya melakukan hal demikian. Ulama yang memperbolehkan juga menjadikan hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Anas bin Malik sebagai dalil atas pendapat mereka. Bunyi hadits tersebut adalah:

كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ: أَسْلِمْ. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَسْلَمَ. فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ) ـ

“Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: “Masuk Islam-lah!” Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata:‘Taatilah Abul Qasim (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam).” Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar seraya bersabda: ”Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR Bukhari).

Dalam hadits tersebut, Nabi Muhammad memberikan teladan kepada umatnya agar berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memerangi mereka. Begitupun dengan mengucapkan selamat hari raya atas agama lain kepada mereka yang memperingatinya. Ulama yang membolehkan menilai hal itu sebagai bentuk berbuat baik kepada non-Muslim. Maka memberi selamat hari raya kepada mereka hukumnya boleh. Kelompok ulama ini juga berpendapat bahwa mengucapkan selamat hari raya kepada non-Muslim bukan berarti mengakui apa yang dipercayai mereka, namun lebih pada sebatas penghormatan dalam hubungan kemanusiaan, bermasyarakat, bertetangga dan menjaga kerukunan bersama. Di antara ulama yang membolehkan adalah Syekh Ali Jum’ah, Syekh Muhammad Rasyid Ridla, Syekh Yusuf Qardhawi, Syekh al-Syurbashi, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Ishom Talimah, Syekh Musthafa al-Zarqa’, Prof. Dr Abdussattar Fathullah Sa’id, Prof. Dr. Muhammad al-Sayyid Dusuqi, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir, dan lainnya.

  • Tidak boleh mengucapkan

Sementara itu, di sini ulama yang lain, terdapat pendapat yang mengharamkan dengan berpedoman pada Firman Allah SWT.

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon:72).

Kelompok ulama ini menafsirkan ayat di atas bahwa ciri orang yang akan mendapatkan martabat tinggi di surga adalah orang yang tidak memberikan kesaksian palsu. Sementara seorang Muslim yang memberikan ucapan selamat atas hari raya agama lainnya dianggap sama dengan memberikan persaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat non-Muslim tentang hari rayanya. Sebagai konsekuensinya, dia tidak akan mendapatkan martabat yang tinggi di surga. Atas dasar itulah, mereka mengharamkan ucapan selamat atas hari raya non-Muslim. Dalil lain yang mereka gunakan untuk menguatkan argumentasinya adalah hadits riwayat Ibnu Umar, yaitu Rasulullaah SAW bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyeru suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut.” (HR. Abu Daud).

Hadits ini sangat terkenal dan sering dipakai oleh sekelompok umat Islam untuk mengkafirkan umat Islam lainnya, hanya karena mereka dianggap ‘menyerupai’ non-Muslim. Hadits di atas juga dipakai dalam menghukumi ucapan selamat atas hari besar agama lain. Bagi ulama yang mengharamkan, seorang Muslim yang memberi ucapan selamat atas hari raya agama lain berarti dia menyerupai tradisi umat tersebut. Karena menyerupai, maka dia termasuk dari kaum tersebut. Oleh karena itu, memberi selamat kepada non-Muslim menjadi haram hukumnya. Di antara ulama yang mengharamkan seorang Muslim mengucapkan selamat atas hari raya agama lain adalah Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Haqil, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-Thalhawi, dan lainnya.

  • Saling menghormati

Karena sifatnya yang ijtihadi,
Melihat perbedaan pandangan ulama tersebut maka hukum memberi selamat hari raya non-Muslim tidak lantas mutlak haram dan juga tidak multak boleh. Perbedaan situasi dan keadaan membuat setiap Muslim tidak bisa diseragamkan hukumnya dalam hal mengucapkan selamat atas hari raya agama lain. Misalnya, seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada seseorang yang memiliki kedekatan dengannya—seperti hubungan keluarga, saudara, tetangga atau partner bisnis semata hanya sebagai bentuk penghormatan kemanusiaan karena mereka juga menghormati Islam, juga diniatkan untuk menunjukkan keutamaan ajaran Islam dari sisi akhlak. Maka hal itu boleh di lakukan (diucapkan), sepanjang tidak diiringi keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam seperti mengikuti rangkaian kegiatan (ritual), pada Hari Natal atau hari raya agama lainnya. Namun dalam situasi dan keadaan sebaliknya, bisa jadi hukum mengucapkan selamat hari raya non-Muslim hukumnya haram.

*Yang perlu dan penting untuk digarisbawahi adalah jangan sampai perbedaan pendapat tersebut menjadi penyulut konflik, kebencian dan permusuhan di dalam tubuh umat Islam dan Bangsa. Sekali lagi, karena hal ini bersifat ijtihadi, maka jangan sampai ada satu pihak yang mengklaim bahwa pendapatnya-lah yang paling benar dan yang lainnya salah. Alangkah baiknya kalau kita saling menghormati dan menghargai dengan pilihan masing-masing tanpa harus memaksakan pendapat kita kepada orang lain. Apalagi mengkafirkan mereka yang tidak sependapat dengan kita. Na’uudzu billaah.

Semoga kita tetap menjaga dan memelihara ukhuwah islamiah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah insaniyah/basyariyah (persaudaraan sesama manusia) ukhuwah wathoniah (persaudaraan sesama anak bangsa) demi terciptanya kehidupan ummat dan masyarakat yang religi, kuat, rukun, damai, aman, sejahtera dan harmonis,”
Wallahu ‘Alam.

Diambil dari beberapa rujukan.

Komentari