Kantor PCNU Garut yang megah, selalu penuh dengan berbagai aktivitas. Dok. H. Dasuki
Kantor PCNU Garut yang megah, selalu penuh dengan berbagai aktivitas. Dok. H. Dasuki

Jani Noor

Ketua LTN NU Kota Tasikmalaya

Sejarah berdirinya NU di Kabupaten Garut tidak terlepas dari sosok KH Sufyan Munawar yang terkenal dengan nama Muallim Sufyan. Ia lahir di Kuningan pada  17 Juli 1917.

Sekira tahun 1934, KH Sufyan hijrah ke Garut untuk menuntut ilmu di pesantren KH Musthofa Kamil yang juga pimpinan Sarikat Islam Garut. Tahun 1937, KH Sufyan menikah degan Siti Zahro yang tiada lain adalah putri KH Musthofa Kamil.

Sebagai staf di kantor agama Garut, Muallim Sufyan sering bertugas ke kementrian agama di Jakarta . Pada waktu itu, Menteri Agama-nya dijabat oleh KH Moh. Ilyas.

Merespon situasi yang menimpa Masyumi menjelang akan dibubarkan oleh Presiden Soekarno, Kiai Ilyas meminta Sufyan agar membentuk kepengurusan NU di kabupaten Garut. Padahal saat itu Sufyan adalah pengurus Sarekat Islam.

Kiai Sufyan mendapat kesulitan karena rencana mendirikan NU Cabang Garut ditolak sebagian ulama yang sudah aktif di Sarekat Islam  dan Muhammadiyah. Ia kemudian menemui KH Anwar Musaddad yang pada waktu itu bermukim di Yogyakarta. Kiai Musaddad begitu antusias dengan rencana tersebut dan memberi bantuan sebesar Rp. 2.500 (dua ribu lima ratus rupiah).

Lalu bertempat di rumah Ma Oyoh, di Jalan Ciledug Garut, dilakukan pertemuan pertama untuk merundingkan pendirian NU Kabupaten Garut. Hadir kala itu KH Anwar Musaddad, KH Badruzzaman dan Muallim Sufyan. Selesai pertemuan tersebut, Sufyan menemui beberapa kiai di Kabupaten Garut yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah, di antaranya KH. Rd. Hidayatulloh dan KH. Toha. Rata-rata para Kiai tersebut merespon dengan baik gagasan mendirikan NU di Kabupaten Garut.

Rd. Hidayatulloh kemudian mengumpulkan beberapa Kiai antara lain, KH Tamimi, KH. Mina, KH Furqon, KH Uleh, KH. Abdul Jabbar dan KH. Makmun. Setelah persiapan dianggap cukup, Muallim Sufyan kembali melaporkan persiapan kepada Menteri Agama sekaligus melaporkan perkembangan terakhir. Menteri Agama kemudian memberikan modal sebesar Rp. 5.000,- (Lima Ribu Rupiah).

Rapat pertama pun dilaksanakan di Gedung Front Nasional di Jl. Ahmad Yani (sekarang Gedung KNPI Garut). Hasil dari musyawarah tersebut menghasilkan kepengurusan NU Cabang Garut. KH. Makmun terplih sebagai Rois Syuriah. Tapi sempat terjadi persoalan ketika tidak ada kiai yang siap menjadi ketua tanfidziah, termasuk Muallim Sufyan. Lalu ia beristikhoroh dan mengusulkan agar H. Sulaeman Afif diangkat menjadi ketua tanfidziah pertama di Kabupaten Garut.

Pelantikan 5.000 anggota Banser oleh Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Coumas.
Pelantikan 5.000 anggota Banser oleh Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Coumas.

Tahun 1960 di Kecamatan Pameumpeuk telah berdiri kepengursan MWC NU Pameumpeuk tetapi masih menginduk ke NU Kabupaten Tasikmalaya dengan ketuanya bernama KH Kalyubi. Setelah mengetahui bahwa di Kabupaten Garut telah terbentuk kepengurusan NU. maka KH Kalyubi mengikutinya dengan menjadi bagian dari NU Kabupaten Garut.

Pelan tapi pasti NU di Garut berkembang dengan pesat. Kini di seluruh kelurahan di Garut terlah terbentuk pengurus ranting NU, bahkan sudah mulai terbentuk pula pengurus anak ranting. Anggota Banser NU Garut yang sudah lulus Diklatsar berjumlah 5.000 orang. Tidak mengherankan jika NU Garut selalu mendapat ujian, seperti dalam kasus Bachtiar Nasir atau pembakaran bendera HTI yang sengaja diselundupkan pada peringatan Hari Santri di Limbangan. Dengan berbagai ujian itu, pengurus dan warga NU Garut semakin matang, dan kian siap menghadapi berbagai cobaan.

(Berdasarkan wawancara dengan Komandan Satuan Koordinasi Wilayah (Dansatkorwil) Banser Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi. Yudi sebelumnya menjabat Dansatkorcab Banser Garut).

(mediadesa.id)

 

Komentari