Ratusan santri mengikuti pelatihan Industry 4.0: Knowing, Transforming, Adapting Pondok Pesantren Nurulhuda Cibojong Garut.
Ratusan santri mengikuti pelatihan Industry 4.0: Knowing, Transforming, Adapting Pondok Pesantren Nurulhuda Cibojong Garut.

Menggagas acara Industry 4.0: Knowing, Transforming, Adapting Pondok Pesantren Nurulhuda Cibojong Garut (3/6) yang diasuh Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Nuh Addawami ini, hendak membekali para santri dengan gambaran dunia yang akan dihadapi di masa depan.

“Zaman berubah cepat seiring dengan datangnya digitalisasi ekonomi, teknologi dan peradaban manusia. Acara ini kami harapkan bisa menjadi pemantik kesadaran para santri untuk mempersiapkan dirinya dalam kompetisi global di masa mendatang,” jelas KH Cecep Jayakarama, pengasuh muda Pondok Pesantren Nurulhuda.

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut, pemerhati teknologi dan ketenagakerjan Irham Saifuddin merasa yakin bahwa kaum santri akan berhasil memenangkan kompetisi di era digital.

Sosok yang sehari-hari bekerja di International Labour Organization (ILO) tersebut kemudian mengungkapkan beberapa alasan atas keyakinan tersebut.

“Pertama, industry 4.0 mempersyaratkan terasahnya kecakapan kognitif untuk bisa merebut pekerjaan-pekerjaan di masa yang akan datang. Pola pendidikan di pesantren selama ini kebetulan lebih difokuskan pada kemampuan kognitif para santri. Belajar di pesantren itu tidak mekanis, tetapi sangat dinamis dengan memadukan multi disiplin keilmuan dan sekaligus melekatkannya pada realitas sosial. Dari sisi kognitif, pesantren sangat kompatibel dengan tuntutan Industry 4.0,” ujar Irham.

Selanjutnya, Irham mengungkapkan alasan kedua. Para santri yang sedang belajar di pesantren saat ini akan menjadi angkatan kerja produktif pada tahun 2045. Tahun tersebut diprediksikan oleh beberapa lembaga periset global sebagai masa keemasan Indonesia.

“Bahkan McKinsey memprediksikan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-3 dunia. Ini merupakan masa dimana Indonesia akan memanen bonus demografi. Santri adalah kunci,” papar Irham.

Terakhir, Irham juga menyoroti besarnya ruang yang bisa dimanfaatkan oleh para santri di masa depan. Ruang dakwah misalnya, masih menjadi blue ocean bagi para santri untuk memanfaatkan dalam dunia digital. Selain itu, santri juga harus memasuki ruang-ruang non-konvensional yang selama ini belum menjadi perhatian pesantren.

“Harus berbagi tugas dan ruang juang. Para santri harus mulai membangun mimpinya dari sejak dini sehingga bisa mempersiapkan kecapakan apa yang akan mereka fokusnya untuk masa depannya,” tutup Irham.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 santri. Rencananya, Pondok Pesantren Nurulhuda juga akan menggelar acara-acara berbagi pengetahuan untuk isu-isu lainnya untuk membekali para santri dengan keilmuan yang cukup beragam.

(Ali/Abdullah Alawi/NU Online)

Komentari