Refleksi HSN 2017, PWNU Jabar, Jawa Barat
H Deden Kiagus ZM, Wakil Ketua PWNU Jabar.

H Deden Kiagus ZM

Wakil Ketua PWNU Jabar, Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjadjaran, Ketua Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS)

 

 

Hari Santri Nasional dimeriahkan oleh sebagian besar umat Islam terutama kalangan pondok pesantren. Kenapa jadi meriah? Karena penetapan Hari itu dianggap sebagai titik balik pengakuan secara formal terhadap kontribusi Santri dalam dinamika perjuangan sejak masa meraih kemerdekaan sampai Indonesia menjadi sebuah negara yang terus tumbuh dan berkembang. Namun demikian, alih-alih  berbagai komponen bangsa mereguk peran politik dan kesejahteraan sosial-ekonominya, secara historis dan sosiologis kaum sarungan pesantren tetap berada di pinggiran, karena secara sosial politik dan ekonomi bukan penentu dari arus besar “pembangunan”. Hal itu seharusnya diraih sebagai konsekuensi logis kontribusi besar perjuanganya dalam meneguhkan dan memelihara eksistensi negara yang namanya Indonesia ini.

Sebagai bagian integral bangsa Indonesia, pemetaan peran diri Santri dalam kancah dinamika Indonesia yang cukup kompleks pada level lokal, nasional, maupun global memang tidak mudah. Sebagian besar komponen bangsa ingin dan berlomba unjuk eksistensi, supaya kuasa politik dan perolehan kue nasional ekonomi dapat direngkuh.  Namun demikian tradisi komunitas pesantren fokus perannya lebih tertumpu pada penjagaan moralitas dan etika masyarakat melalui pendidikan pesantren dan domain agama secara luas. Masyarakat merasa tetap terayomi dengan peranan kiayi dan santrinya dari kehidupan yg cukup menekan sebagai akibat perubahan sosial yg terus berlangsung, tetapi kaum sarungan tetap saja bukan aktor utama dalam kancah kepemimpinan nasional. Walaupun sempat menempatkan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden, tetapi diraih dan berakhir dengan cukup alot dan dilengserkan secara politik.

Oleh karenanya, komunitas pesantren yang dalam struktur patrimonialnya terbentuk melalui peran kiai-santri, memang menjadi gamang ketika masuk dalam kancah dinamika manajerial kenegaraan dan kebangsaan yg bersifat plural. Pengakuan secara formal sdh diberikan, apakah cukup hanya dimeriahkan secara seremonial dan gebyarnya dirasakan sebagai panggung yang hiruk pikuk. Ini problem sosial yang besar bagi kaum sarungan, karena dari pentas diorama ini seyogyanya ditransformasikan dalam peran-peran spesifik sebagai manifestasi dari perebutan kuasa politik dan ekonomi dengan kebutuhan kompetensi sumber daya manusia profesional yg berkualitas.

Persaingan Terbuka

 

Oleh karena itu, Hari Santri Nasional dapat menjadi momentum untuk terus melakukan evaluasi diri, tidak sekedar mengenang sejarah gemilang peran para Kiai dan Santri masa lalu dengan segala romansanya, sealigus role-model yang tidak dapat tergantikan. Santri pada saat kekinian mempunyai tantangan dan peluang yang jauh lebih luas dalam persaingan dunia yang terbuka. Sebutan Santri seyogyanya menjadi penggugah elan vital pembelajar, karena dihadapan para Kiai, Santri itu adalah murid yang seyogyanya memperbaharui dan mengembangkan kualitas dirinya. Modal sosial yang dimiliki dalam masa kawah candradimuka pesantren, yang dibekali dengan pengetahuan akidah, syari’ah (fikih), dan akhlak, menjadi penting ketika dilengkapkan dengan pengetahuan dan keahlian dari kompetensi keilmuan lainnya, karena mandala pengkhidmatan Santri masa kini tidak hanya di dunia nyata tetapi juga dunia maya.

 

Pada dunia maya, selain terdapat konflik dalam bentuk baru, secara bersamaaan tantangan kerjasamanya pun harus mengekplorasi modus yang baru pula. Aktor aktifis pada semua segmen akan berselancar dalam persaingan terbuka pada level lokal, nasional, dan global secara timbal balik dengan momen existing time yang tidak pernah terperkirakan terjadi pada modus lama. Moralitas dan Etika sosial yang bersumber dari agama, sebagai pembelajaran bersama yang bersifat sangat strategis. Kedalaman pengetahuan agama para Santri, selain menjadi pengontrol perilaku dirinya sendiri, bisajadi dapat mengendalikan pembelajar agama secara instan, karena apabila agama dipelajari secara instan akan mengarah kepada konservatisme agama, yang menyebabkan sikap dan perilaku ekstrim  yang menyebabkan konflik sosial yang counter productive.

 

Persimpangan Jalan

 

Selanjut jalan panjang perjuangan Kiai-Santri yang sudah dipetakan dan mulai terpetakan dalam catatan sejarah perjuangan negara dan bangsa ini akan diteruskan menjadi rute yang seperti apa? Desain jalan panjang sudah berulang kali dievaluasi dan dirumuskan dalam berbagai pertemuan rutin jam’iyyah (organisasi), Namun ketika perencanaan dirumuskan, kembali tahapan implementatif selalu terjadi tarikan-tarikan kepentingan yang jauh lebih kompleks dari apa yang dirumuskan. Pengurus dan aktifis selalu sangat memahami apa yang menjadi problem dan tantangan organisasi secara sistemik, baik secara internal maupun eksternal. Namun persoalan yang terpetakan selalu kembali pada tradisi pengambilan keputusan yang bersifat patrimonial, berhadapan dengan kompleksitas manajerial yang seolah merumitkan dan melelahkan.  Oleh karenanya, bisajadi tetap kita harus belajar bersama secara sabar dan konsisten bahwa perjuangan ke depan perjuangan kiai-santri akan tetap pada jalur “memelihara tradisi/nilai lama yang baik dan menyerap tradisi/nilai baru yang lebih baik”.

 

Hari Santri Nasional harus selalu menjadi momentum yang relevan dan strategis bagi Kiai-Santri dalam memetakan  jalan panjang perjuangan ke depan, dengan jalan dan rute panjang yang tidak terpetakan dengan modus lama. Kita akan dikejutkan dengan bentuk tradisi dan nilai yang tidak terperikan sebelumnya. Selamat hari Santri, semoga kita selalu menjadi pembelajar yang baik.

Komentari