Raya Kupat, Silaturahim, KH Masduki Ali, Babakan, Ciwaringin, Cirebon, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ilustrasi: Para Santri Bersilaturahim di Hari Raya Kupat, menjemput barokah dari para kiai dan ulama yang dihormati.

Pernahkah kita membayangkan berlebaran tanpa ketupat? Hari Idul Fitri atau lebaran memang identik dengan ketupat. Hari lebaran tanpa ketupat, ibarat sayur tanpa garam dan bumbu lainnya. Hambar. Namun, tradisi makan ketupat itu sebenarnya ada “aturannya”. Makan ketupat, sesunggunya baru dianggap “sah” pada tanggal delapan Syawal. Yakni setelah menjalani puasa enam hari dari tanggal 2-7. Tradisi ini diakui sebagai warisan dari para wali penyebar Islam.

Selain di Cirebon, tradisi ini juga bisa dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namanya Raya Kupat atau Bada Kupat. Pada hari inilah kupat dimakan bersama menandai usainya puasa Syawwal. Sesuatu yang agak berbeda dari raya kupat di Cirebon adalah kunjungan ribuan warga ke sejumlah pesantren secara bersamaan pada tanggal delapan. Hal itu membuat raya kupat menjadi meriah oleh hilir-mudik tamu. Dari sekitar 400 pesantren di Cirebon, hanya beberapa tempat saja yang menjadi lokasi kunjungan bersama itu, di antaranya Pesantren Miftahul Muta’allimin Babakan Ciwaringin.

Mulai jam 08.00 WIB, halaman pesantren yang sempit semakin sesak oleh angkot dan elf. Halaman berubah menjadi terminal dadakan. Tamu silih berganti mendatangi rumah kiai dan nyai. Laki-laki, perempuan, remaja, dan anak-anak, bergiliran menunggu waktu bersilaturahim. Tanpa ada pengaturan khusus, mereka dengan tertib mendatangi rumah pengasuh pesantren satu per satu. Setelah bersamalam dengan pengasuh, mereka berbasa-basi sebentar lalu minta didoakan. Lalu bubar dan bergegas menaiki angkutan yang akan membawa mereka ke pesantren yang lain.

Kalau tamu membludak, mereka akan diterima di halaman rumah Kadang tuan rumah menerima mereka sambil berdiri, karena di dalam rumah tidak cukup dan tamu yang lain sudah menunggu giliran.

Warisan Kiai Masduki

Desa Babakan adalah salah satu komplek pesantren tertua yang masih bertahan hingga hari ini. Pesantren ini dirintis oleh Kiai Hasanuddin yang populer sebagai Kiai Jatira pada 1715. Dari kiai yang masih keturunan Sunan Gunungjati inilah Babakan menjadi komplek pesantren besar hingga berjumlah 30 buah dengan santri sekitar 10.000 jiwa. Miftahul Muta’allimin termasuk salah satu cabang dari pesantren Babakan, yang dirintis pada 1942 oleh KH. Masduki Ali. Kiai Masduki adalah seorang santri kepercayaan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dari Tebuireng Jombang. Dialah yang antara lain dipercaya mengajar Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika masih kecil.

“Kelebihan Kiai Masduki yang dikenang warga adalah sikapnya yang sangat mengayomi,” papar Nuruzzaman, peneliti masalah sosial yang getol melakukan advokasi bagi masyarakat. “Semua rumah warga di Babakan pernah beliau kunjungi. Beliau hafal berapa anaknya si Fulan dan bekerja di mana saja. Dengan sikapnya yang telaten itu beliau tahu persis kondisi masyarakat sekitarnya. Maka tak heran kalau kesempatan bersilaturahim ke rumah beliau pada 8 Syawwal selalu dipenuhi warga. Sekalipun beliau sudah wafat pada 1992, kunjungan masyarakat tak pernah surut,” sambungnya.

Sebuah tradisi memang tidak muncul begitu saja. Ia adalah hasil panen dari buah yang ditanam sejak lama dan dirawat dengan telaten. Dari ketelatenan ini pula Kiai Masduki berhasil menciptakan tradisi pengajian Syawalan, yang dilaksanakan bersamaan dengan puasa sunnah enam hari. Belajar dan mengajar pada saat orang lain berpesata hari raya, memerlukan perjuangan yang luar biasa. Dan di Miftahul Muta’allimin, tradisi yang berat itu berhasil dipertahankan hingga tahun saat ini.

Masih berduyunnya masyarakat hingga ribuan orang pada saat raya kupat, diakui oleh Hj. Hamidah Masduki, sebagai berkah dari orang tuanya. “Alhamdulillah, ternyata masyarakat masih mengingat kami. Ini semua berkah dari pembinaan terhadap masyarakat yang sudah dilakukan ayah kami almarhum. Mudah-mudahan kami bisa terus melestarikan warisan kegiatan pesantrennya,” tutur putri Kiai Masduki yang alumni Universitas Ummul Quro Makkah itu. “Sekalipun sangat melelahkan, kami dengan senang hati menerima mereka. Dari pagi hingga malam hari, kami melayani tamu yang ingin bersilaturahim,” tambahnya.

Kepercayaan yang Tersisa

Kunjungan ribuan warga pada saat raya kupat, itu juga menjadi hiburan bagi para pengasuh pesantren yang konsisten tidak bepolitik praktis. Kunjungan itu menjadi tanda masih adanya kepercayaan di hati masyarakat terhadap pesantren. Setelah dihantam prahara politik dengan berbagai kepentingan yang silih berganti, pesantren memang harus mengais-kais kembali kepercayaan masyarakat dengan susah-payah. Raya kupat menjadi bukti bahwa pesantren masih dihargai sebagai sumber spiritual. Masuk akal kalau keluarga besar Kiai Masduki menjaga warisan pengajian Syawalan dan selalu terbuka menerima tamu pada saat Raya Kupat itu.

Pada saat semua kegiatan massif ditinjau dan dianggap dari sisi politis, memang sangat menarik melihat ribuan orang datang tanpa pretensi apa pun, selain bersilaturahim. Mereka semua minta didoakan. Kegiatan ini menjadi jawaban bahwa tidak semua hal harus dilihat dari aspek politik. Politik memang penting tetapi bukan segala-galanya. Bagi pengasuh pesantren seperti di Babakan, ikatan sosial dan moral seperti silaturahim Raya Kupat, itu jauh lebih penting dan membuatnya tetap bersemangat istikomah di jalur non-politik.

Selain minta doa, ada pula di antaranya yang datang untuk bernostalgia. Mereka datang setiap hari raya kupat karena enam hari sebelumya ia pun menjalani puasa sunnah. Mereka membawa anak-anak dan keponakannya, memperkenalkan keluarganya satu per satu. Dengan demikian, sepeninggalnya nanti, kebiasaan silaturahim itu bisa diteruskan oleh keluarganya. Jadi, warga bangsa Indonesia boleh berdebat kapan hari Idul Fitri dilaksanakan. Bagi warga Babakan Ciwaringin, kapan pun hari Idul Fitrinya, makan ketupat yang sesungguhnya tetap dilaksanakan pada 8 Syawal. Itu pun setelah berpuasa dan menyelenggarakan pengajian pasaran enam hari sebelumnya.

(Iip Yahya)

Komentari