KH Amin BAejuri Asnaf, Ketua PW LDNU Jabar.
KH Amin BAejuri Asnaf, Ketua PW LDNU Jabar.

KH Amin Baejuri Asnaf, S.Ag., M.Pd.I.

Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat

 

ألله أكبر  ×٩ الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لآإله إلاالله  ولانعبد إلاإياه مخلصين له الدين ولوكره الكافرون لآإله إلاالله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده لآإله إلاالله والله أكبر  الله اكبر ولله الحمد

الحمد لله الذي جعل العيد ضيافة وكرامة للصائمين.  صلاة وسلاما دائمين متلازمين الى يوم الدين.  على رسوله الكريم محمدا المصطفى المتبع فى الدنيا والدين.  وعلى اله واصحابه الذين بد لوا نفوسهم لعزة الاسلام والمسلمين.  أشهد ا ن لا اله الاالله وحده لاشريك له الملك الحق المبين.  وأشهد ان محمدا عبده  و رسوله صادق الوعد الامين.  فاتقوالله جعلنا الله و ايا كم من العا ئدين. أما بعد. أيها المسلمون اوصى وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون, قال الله تعالى فى كتابه العزيز الكريم  أعوذ بالله من الشيطان الرجيم,  بسم الله  الرحمن الرحيم . يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران:١٠٢)     يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة : ١١٩).

Ma’asyiral muslimin yarhamukumullaah …

 

Hari ini kita berkumpul bersama di pagi yang penuh curahan rahmat Ilahi, untuk menyambut panggilan, undangan dan seruan Dzat Yang Maha Suci dengan melakukan ruku’, sujud, serta takbir, tahmid, tasbih dan tahlil kepada-Nya untuk mengharap Ridha dan Ampunan serta Rahmat-Nya.

Mari kita melatih untuk menanggalkan kehidupan rutin yang menggiring manusia pada kehidupan serba materialis syahwat duniawi. Saat ini kita mentraining dan mendiklat diri menghentikan putaran kesibukan dan menata kehidupan dunia yang seringng melalaikan guna untuk memberikan pengalaman dan penghayatan spiritual agar kita tidak terlena dalam kehidupan fana. Hari ini kita gunakan untuk shilaturrahim qolbu dengan qolbu untuk mencairkan dan menghilangkan ketegangan dan kerenggangan diantara kita. Suasana seperti ini kita sama dihadapan Allah SWT, karena masing-masing tidak terikat oleh status kepangkatan, kedudukan, kekayaan, atau kebangsawanan bahkan kebangsaan sekalipun, kita bersama menghadap Allah SWT dengan merundukkan kepala yang biasa pongah dan sombong, kepala yang selalu ingin ditopang oleh leher, kepala yang selamanya ingin berada di atas, saat ini kita tundukkan mencium tanah yang biasa kita injak sebagai perwujudan ibadah dengan khusyu’ dan khudhur untuk ruku’ dan sujud kepada-Nya.

الله أكبر  الله اكبر الله أكبر  ولله الحمد   

Baru saja kita akhiri ibadah shaum Ramadlan, kita lalui jarak waktu selama sebulan yang kita isi dan hayati ruang gerak bulan tersebut dengan segala kegiatan dan pengalaman ruhaniyah dan jasmaniah, kita penuhi sepanjang bulan tersebut dengan segala aktifitas ibadah kepada Allah SWT dan amal kebajikan untuk kesejahteraan, kedamaian, ketenteraman dan perniagaan yang tidak merugi.

Sekarang kita sedang melanjutkan kehidupan hari kemarin, kita jalani bulan ini sebagai kemulyaan, bulan Ramadhan yang telah mengantarkan kita untuk menyongsong hari esok yang hakiki. Pasca Ramadhan kita lihat dan dengar berbagai informasi seperti gairah dan gaya hidup manusia, gemerlapnya kota-kota besar yang dihiasi dengan gemerlap sinar lampu saat malam hari, bangunan yang terus tumbuh mengisi lahan-lahan kosong dan menjulang tinggi, bertebarannya kendaraan yang melaju sehingga tidak sedikit kemacetan yang menjadi pemandangan kerap terjadi.

Suasana seperti ini mari kita jadikan sebagai momentun untuk merenung (bertafakur) dan muhaasabah (introspeksi) diri, dalam kehidupan sosial terlihat adanya pergeseran nilai positif (akhlaq al kariimah) sudah mulai terkikis, kejujuran dan kesantunan sudah mulai asing diantara sesama, seseorang melakukan dan berbuat baik kepada orang lain dilakukan karena ada misi atas imbalan duniawi semata. Lahirnya amal shaleh dilakukan karena atas dasar kepentingan sesaat, baik peribadi, kelompok, dan golongan yang pada gilirannya hanya akan melahirkan halusinasi, frustasi dan saling menggugat, menghujat serta saling salah menyalahkan. Perilaku manusia yang didasari hanya dengan kepentingan duniawi dan sesaat itu justeru akan lenyap manakala kepentingan tersebut tidak terpenuhi, tanpa disadari-seolah-olah bahwa dirinya merasa paling besar, paling hebat, paling kuat, paling pintar, paling benar, paling berkuasa, paling kaya dan seterusnya, seolah-olah semua manusia kecil dan harus takluk dihadapanya, Na’uudzu billaahi min dzalik.

Tidakah sadar, bahwa manusia sesungguhnya tidak lain adalah makhluk yang sangat lemah, tidak berdaya, semuanya butuh kepada Dzat Yang Maha Kaya, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Mengetahui Maha Bijaksana Maha ‘Aliim Maha, Mengadili yakni Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka kepada siapa lagi manusia berharap kecuali kepada Allah SWT yang telah menciptakan kita dan dengan kasih sayang-Nya kita diberi kesempatan telah selesai melaksanakan ibadah shaum ramadhan tahun ini dan menikmati menghirup nafas setiap detik tidak pernah berapa kita harus menghabiskan biaya untuk membelinya. Dengan menghayati ibadah shaum ramadhan dan merasakan nikmat yang ada pada diri kita maka pada hari yang fitri ini diharapkan kita mampu menjadikan ramadhan untuk membentuk pribadi menjadi jujur dan santun, mari kita tanyakan pada diri kita.

Apa sesungguhnya yang menahan diri ini untuk beribadah kepada-Nya? Mengapa kaki ini merasa berat untuk melangkah ke masjid ? Apakah yang menahan kepala ini sehingga tidak mau bersujud kepada Allah Dzat Maha Pencipta? Apakah yang menahan lidah ini sehingga kaku dan bisu membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada-Nya? Apakah yang menahan hati ini sehingga keras dan sulit merindukan Allah Yang Maha Mulia? Apakah yang menahan pikiran ini sehingga tidak mendambakan Rahmat, Ridha dan surga-Nya? Mengapa tindakan dan perilaku ini sering menimbulkan maksiat dan dosa? Apakah yang mendorong jiwa ini sehingga cenderung melakukan zhalim dan maksiat? Mengapa harta kekayaan ini dibiarkan bercampur dengan yang haram dan syubhat? Mengapa diri ini selalu merasa benar padahal kebenaran utlak ilik Allah SWT? Apakah yang menahan diri kita sehingga mengabaikan hak-hak Allah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu, padahal hawa nafsu itu mendorong kepada keburukan, keangkuhan dan kesombongan? Apakah kesombongan kita sudah demikian memuncak, sehingga sedemikan lantang berani melanggar perintah dan larangan-Nya? Na’uudzu billaah min dzaalik.

الله أكبر  الله اكبر الله أكبر  ولله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin yarhamukumullaah.

Ramadhan telah melewati kita, ramadhan telah mengantarkan kita baik secara indifidu maupun secara kolektif untuk membentuk pribadi yang jujur dan santun baik dalam kehidupan sosial maupun ritual untuk menata dengan baik dengan berbagai bentuk amaliah dan ibadah kepada-Nya. Kegiatan-kegiatan yang islami dan positif tentu kita harapkan akan terus berlanjut, niat kita untuk konsisten (istiqomah) dalam kepatuhan ilaahiyyah merupakan pengejawentahan dari penghambaan secara ikhlash dan jujur kita kepada-Nya, hal ini sesuai dengan petunjuk-Nya, seperti dalam Firman-Nya QS. al Bayyinah [98]:5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Komitmen dalam beribadah yang diungkapkan dengan lafadz لله تعالى (karena Allah Yang Maha Tinggi) pada setiap memulai ibadah yakni saat niat, hal ini diperlukan untuk kepentingan masa depan supaya tidak menghadapi kerugian atau kebangkrutan. Dengan demikian hikmah ramadhan tahun ini dapat membentuk pribadi menjadi jujur dan santun, dengan harapan semua amal ibadah diterima serta semua dosa apapun diampuni dan kita kembali pada posisi fitri, mulus tanpa dosa bagaikan seorang bayi yang baru lahir “MINAL ‘AAIDIIN WALFAA-IZIIN” kita kembali menjadi posisi suci dan kita menjadi hamba yang beruntung telah diampuni segala dosa-dosa kita. Amaliah ramadhan yang baru saja kita lakukan dan amal shalih lainnya kita tidak ingin menjadi rugi (bangkrut) kelak di hari kemudian? Seperti digambarkan oleh Rasulullah SAW. dalam hadits shahihnya :

أتذرون من المفلس؟ قالوا المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال عليه الصّلاة والسّلام إنّ المفلس من امّتى من يأتى يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتى من قدشتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دام هذا وضرب هذا. فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته. فأنّ فنيت حسناته قبل أن يقضى ماعليه أخذ من خطا ياهم. فطرحت عليه ثمّ طرح فى النّار. رواه مسلم عن ابى هريرة 

Artinya : “Tahukah kalian semua, siapakah orang yang bangkrut itu ? Tanya Rasulullah kepada para sahabatnya – merekapun menjawab : orang yang bangkrut menurut kita adalah mereka yang tidak memiliki uang dan harta benda yang tersisa.” Kemudian Rasulullah menyampaikan sabdanya : “Orang yang benar-benar pailit (bangkrut) diantara umatku – ialah orang yang di hari kiamat dengan membawa (seabrek) pahala shalat, puasa dan zakat; tapi (sementara itu) datanglah orang-orang yang menuntutnya, karena ketika (di dunia) ia mencaci ini, menuduh itu, memakan harta si ini, melukai si itu, dan memukul si ini. Maka di berikanlah pahala-pahala kebaikannya kepada si ini dan si itu. Jika ternyata pahala-pahala kebaikannya habis sebelum dipenuhi apa yang menjadi tanggungannya, maka diambillah dosa-dosa mereka (yang pernah di dzaliminya) dan ditimpakan kepadanya. Kemudian dicampakkanlah ia ke api neraka.” Na’uudzubillah. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Ternyata mulut, tangan, kaki, perut dan anggota tubuh kita lainnya yang biasa kita gunakan untuk beribadah, ruku’, bersujud, berdzikir, berpuasa, memberikan zakat, dapat membuat kita pailit (bangkrut) kelak. Tidak hanya menghabiskan modal, pahala yang kita tumpuk sepanjang umur kita―tapi juga dapat menarik kepada kita kerugian dari orang lain. Ini semua tentunya karena kita tidak jujur dan tidak santun kepada diri kita sendiri, kita terlalu meremehkan dosa dan kesalahan yang kita perbuat.

الله أكبر  الله اكبر الله أكبر  ولله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin yarhamukumullaah.

Bulan Ramadhan yang telah melatih diri kita sebagai hamba yang لله تعالى merupakan perwujudan dari niat ikhlash dan jujur yang totalitas yakni “ إيمانا واحتسابا   telah mengantarkan kita mampu melewati ujian yang menghadang dan mampu memerdekakan diri dari karakter negatif. Oleh karenanya pengabdian dan kepasrahan dengan ikhlash dan jujur merupakan satu-satunya simbol dan modal yang akan bertahan dan berkelanjutan untuk mengawal kehidupan kita dimasa datang. Sebagaimana sabda Nabi SAW;

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa yang shaum di bulan Ramadhan dengan motivasi iman dan mengharap ridha Allah SWT, pasti ia mendapat ampunan dari Allah atas segala dosanya yang sudah lewat.

Jiwa yang suci dalam suasana fitri merupakan pribadi yang siap membentuk pribadi lebih jujur dan santun; jujur dirinya pada diri sendiri, jujur dirinya kepada sang Khaliq Allah SWT, jujur dirinya dengan sesama manusia, jujur dirinya dengan alam semesta untuk menyongsong masa depan yang penuh harapan, siap membangun bangsa dengan jiwa, motivasi dan tujuan terarah. Dengan jiwa yang fitri, jiwa yang memiliki tali-tali ikatan kuat dengan Allah, jiwa yang memancarkan tauhid―diharapkan akan senantiasa tegar, mampu berbuat yang terbaik bagi diri sendiri, bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Di hari fitri ini kita berusaha untuk mengkikis, membebaskan dan memerdekakan diri dari karakter negatif, dari dosa dan noda, dan menjaga―memeliharanya agar jiwa menjadi jujur dan santun tetap berada dalam fitrah Allah dengan senantiasa beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Kita jauhi virus-virus serta polusi kebohongan, kemunkaran, kefasikan, kemunafikan, kezhaliman, kesombongan, keangkuhan, riya, hasud, merasa paling benar, dengki, kemusyrikan yang menyebabkan raib dan ruginya keberuntungan yang telah didapatkan. Allah SWT berfirman QS. Asy Sams : 7-10.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

 

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Melalui ramadhan, kita dituntut untuk tampil secara syaamil (menyeluruh) dan kaamil (sempurna), dengan pribadi yang jujur dan santun kita saling menghargai dan menghormati perbedaan sebagai rahmah dan hikmah, kita bantu saudara, teman dan kerabat yang membutuhkan bantuan. Kita santuni fakir dan miskin karena Allah. Kita dukung para sesepuh kita dengan utuh. Kita dorong pemuda remaja dengan gagah. Kita tebar harta kita dengan ikhlas. Kita sampaikan ma’af kita kepada sesama dengan lapang. Satu-satunya harapan kita bahwa tampilan kita adalah tampilan mencari ridha, rahmat, ampunan Allah semata. Sebagaimana yang telah digariskan oleh undang undang syari’at-Nya. (QS. al An’aam [6]:162)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

الله أكبر  الله اكبر الله أكبر  ولله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullaah.

Hidup dalam beribadah berarti hidup mengikuti konsep syari’at yang membutuhkan petunjuk, memerlukan rahmat, menghasratkan maghfirah menuju titik akhir kehidupan dunia yang pasti, yakni keridloan-Nya. Hidup dalam warna dan gaya ibadah seperti ini pasti menyatakan diri dalam keramahan dan kesantunan tatkala harus berhubungan dengan sesama dan penuh penerimaan dan penyerahan secara total ketika berhubungan dengan sang Maha Pencipta secara jujur dan santun. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).(QS. At-Taubah [9]:119).

Perjalanan dalam sisa umur menjadi sangat pasti menuju kematian. Hanya dengan berserah diri kepada-Nya dan dengan; jujur dan santun terhadap diri―dengan tidak memaksa berbuat maksiat dan dosa, jujur dan santun terhadap keluarga―dengan segala kesanggupan membimbing dan rela saling mengisi, jujur dan santun terhadap sesama manusia dengan saling menghormmati dan menghargai perbedaan serta saling tolong menolong, jujur dan santun terhadap masyarakat luas―dalam kesanggupan menghadapi kenyataan dan tidak lari menjauh dari dunia ramai, jujur dan santun kepada Bangsa dan Negara―berarti menerima segala peraturan serta undang-undang yang telah disepakati bersama dan tumbuh dengan kuat mengatur hidup kebersamaan saling menjaga dan membangun untuk keutuhan NKRI. Hanya dengan sikap jujur dan santun seperti itulah hidup akan di bimbing oleh Allah SWT, sampai pada status dambaan, selalu merasa cukup dalam kebutuhan lahir, berserah dalam kehidupan batin dan mampu melihat kenyataan yang sedang tumbuh. Itulah konsep hidup yang tidak bangkrut dan tidak merugi menurut ajaran Rasulullah SAW.;

قد أفلح من أسلم وكان رزقه كفافا وقنعه الله بما أعطاه

Berbahagialah mereka yang berserah diri pada Allah, dan merasa cukup dengan rizqi yang ada padanya dan mampu menerima kenyataan yang ada.

Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullaah.

Dengan shaum ramadhan dan pelaksanaan ‘iedul fitri ini, kita berharap pribadi kita mampu mencapai nilai kemanusiaan yang fitri dan terhormat, sempurna dan mulia sehingga pribadi yang fitri mampu menggetarkan jiwa yang jujur menyatakan puja dan puji serta rasa syukur kepada Dzat yang Maha Ghafur dengan mempergunakan segala kondisi yang diberikan Allah SWT yang Maha Pengatur, Maha Pemberi, Maha Bijaksana, Maha Membatasi dan Maha Mengadili. Kita berusaha untuk hidup dalam Agama yang dapat membawa rasa batin dekat kepada Rabb ‘Azza Wa Jalla Allah SWT, rohani yang tenteram karena menerima ketentuan-Nya dan hidup di dunia dengan sejahtera dan akhirnya harapan akhirat yang baik, yakni kehidupan akhirat yang terbebas dari siksa-Nya.

الله أكبر  الله اكبر الله أكبر  ولله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin yarhamukumullaah.

Sebelum kita mengikrarkan maaf dengan jujur dan santun kepada sesama mari  kita mengikrarkan permohonan ma’af kita dengan jujur dan santun kepada diri kita  sendiri, baru kemudian sungkem dan meminta ma’af kepada kedua orang tua Bapak-Ibu kita, meminta ma’af kepada suami-isteri kita, para Masyayikh dan guru-guru kita, juga antar sesame. Kita ungkapan ma’af dengan jujur dan santun untuk pribadi kita. Selamat ‘iedul fitri.

Wahai  mata, maafkanlah  aku  selama  ini  kau hanya kugunakan untuk melihat maksiat dan kemunkaran. Wahai  telinga, maafkanlah aku,  selama  ini  kau hanya kurekam ghibbah dan kefasikan kata. Wahai mulut,  maafkanlah aku, selama ini kau hanya kujejali dan kubuat memuntahkan kebohongan,fitnah, adu domba dan kekejian. Wahai tangan,  maafkanlah aku, selama ini kau hanya kugunakan untuk menzhalimi dan mengambil hak orang lain tanpa idzin. Wahai  kaki,  maafkanlah  aku,  selama  ini kau hanya kuajak menendang kanan dan kiri serta berjalan di lorong-lorong kegelapan dan kemaksiatan mengikuti hawa nafsu. Wahai akal budi maafkanlah aku, selama ini ku―biarkan kau terpenjara sendiri. Selamat  ‘iedul   fitri, wahai pribadi yang jujur dan santun. Marilah menjadi manusia yang kembali fitri menuju Ridla Ilahi.

Aamiin Yaa Mujiiba al saa-iliin.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTHBAH KEDUA

ألله أكبر  ×٩.. . اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِه  وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهّ أَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Komentari