Pengasuh Pesantren Al-Fauzaniyah Garut KH Aceng Abdul Mujib (Foto: NU Online/Syakir NF) Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/115616/pesantren-al-fauzaniyah-penjaga-nu-dan-nkri-di-garut

Bandung, NU Jabar Online

Pesantren Al-Fauzaniyah merupakan benteng Nahdlatul Ulama (NU) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Garut, Jawa Barat. Hal itu dibuktikan dengan perannya dalam menjaga Garut dari orang-orang yang hendak mengacaukan negeri dan melecehkan NU.

Pengasuh Pesantren Al-Fauzaniyah KH Aceng Abdul Mujib mengatakan bahwa pihaknya tidak segan-segan dengan orang yang berani melecehkan NU dan NKRI. Hal itu ia sampaikan kepada para pengajar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) saat sowan dalam rangka Anjangan Pesantren di Tatar Sunda pada Rabu (15/1).

Pasalnya, hal tersebut menjadi amanat yang tidak main-main dititipkan oleh orang tuanya, KH Muhammad kepada putra-putrinya, bahwa siapa saja yang tidak mengikuti NU, maka tidak akan bersamanya di dunia dan di akhirat. Hal itu disampaikan oleh Aceng Mujib dengan derai air mata dan suara terbata-bata.

Kiai Muhammad butuh waktu tujuh tahun untuk meneguhkan diri bergabung dengan NU. Selama itu, ia beristikharah memantapkan dirinya dalam organisasi masyarakat Islam yang berdiri pada 31 Januari 1926 itu hingga akhirnya tegas menyatakan untuk mengikuti NU, bahkan sampai dawuh sebagaimana di atas.

Maka, ketika Garut kehadiran seorang penceramah yang berafiliasi dengan organisasi yang hendak mendirikan khilafah, ia langsung menginstruksikan santri-santrinya mendatangi tempat tersebut. Saat di sana tersebar bendera-bendera organisasi khilafah, ia memerintahkan panitia untuk menurunkannya.

Sempat polisi berupaya menahan langkah para santrinya. Salah seorang pengasuh Al-Fauzan lainnya pun mengatakan kepada Polisi Daerah (Polda), bahwa mestinya polisi yang bertugas menghadapi hal tersebut. Maka jika tak ingin Al-Fauzan turun, polisi harus lebih dulu datang.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat itu pada intinya hanya meminta dua hal, yakni tidak memprovokasi umat untuk tidak mengakui NKRI dan tidak melecehkan NU. Jika hal itu terjadi, ia dan santrinya tidak segan-segan untuk bertindak.

Pesantren Al-Fauzaniyah didirikan oleh KH Umar Basri. Sanad keilmuan pesantren ini juga bertemu dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Pasalnya, Kiai Umar juga berguru kepada Syekh Mahfud Termas, Syekh Abdul Hamid Dagestani, Syekh Nawawi al-Bantani, dan lainnya di Makkah.

Pewarta: Syakir NF

Editor: Muchlishon

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/115616/pesantren-al-fauzaniyah-penjaga-nu-dan-nkri-di-garut

Komentari