PBNU serukan Qunut Nazilah.
PBNU serukan Qunut Nazilah. Foto: NU Online

Merespons kejadian bencana alam gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Barat dan gempa bumi disusul tsunami di Sulawesi Tengah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginstruksikan warga NU untuk membacakan qunut nazilah.

“Salah satu bentuk keprihatinkan kita PBNU telah membuat seruan qunut nazilah dimulai pada pelaksanaan shalat Jumat 5 Oktober,” kata Sekjen PBNU, H Ahmad Helmy Faishal Zainy di Gedung PBNU, Selasa (2/10) petang.

Pembacaan qunut nazilah diimbau dilakukan di seluruh masjid, rumah warga NU, pesantren-pesantren dan dilakuan serentak secara nasional. “Qunut nazilah ini untuk keselamatan bangsa jadi NU melakukannya serentak,” imbuh Sekjen Helmy.

Selain pada hari Jumat 5 Oktober, doa bersama juga akan dilakukan pada 11 Oktober pada pelaksanaan istighotsah dan manaqib yang juga dilakukan secara nasional oleh warga NU. Selanjutnya doa untuk keselamatan bangsa termasuk yang terdampak bencana juga akan dilakukan pada pembacaan shalawat Nariyah dalam puncak peringatan Hari Santri yakni tanggal 21 Oktober.

Seruan Qunut Nazilah untuk keselamatan bangsa dari PBNU.
Seruan Qunut Nazilah untuk keselamatan bangsa dari PBNU.

Pembacaan qunut nazilah, istighotsah sebagai dukungan moral PBNU dalam membangun mental dan spiritual masyarakat terdampak bencana. Selain itu, doa dan istighotsah tersebut merupakan nasihat para sesepuh NU.

“Banyak kiai, masayikh, ulama NU yang menyampaikan saran ini (pembacaan qunut nazilah dan istighotsah) kepada PBNU,” kata Sekjen Helmy.

Lebih dari itu, berdoa menjadi senjata utama kaum Muslim sehingga memang harus dilakukan di mana wilayah Indonesia yang berada di daerah cincin api dan banyak daerah yang rawan bencana alam.

Monemtum Doa Bersama

Sementara itu Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa bencana alam berupa gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Barat dan gempa yang diikuti tsunami di Sulawesi Tengah harus dijadikan momentum untuk mengadakan doa bersama.

“Ini kesempatan yang penting untuk ber-istighosah secara nasional ataupun daerah yang atsar-nya (pengaruhnya) bersifat nasional itu betul-betul dapat dirasakan secara nyata,” kata Kiai Miftach di sela-sela rapat persiapan Hari Santri 2018 di Gedung PBNU, Jakarta (2/10).

Terkait upaya doa bersama ini, Kiai Miftah mengutip Al-Qur’an Surat Nuh, ayat 10-13 yang berbicara tentang permintaan ampunan kepada Allah.

Menurutnya, ayat tersebut dipakai oleh Syekh Hasan Al-Bashri untuk menjawab keluh-kesah masyarakat yang sedang tertimpa musibah. “Selain memberikan suatu jalan keluar, ayat ini juga memberi penguatan-penguatan keyakinan yang sama-sama kita harapkan,” ucapnya.

Oleh karena itu, kegiatan doa bersama harus masuk di tengah-tengah berbagai agenda Hari Santri 2018 yang tengah dipersiapkan panitia.

“Mudah-mudahan istighosah dan peringatan Hari Santri berjalan dengan maksimal. Dan mudah-mudahan berkah hari santri dan istighotsah bisa diwujudkan untuk keselamatan bangsa dan negara,” jelasnya.

(Kendi Setiawan/Husni Sahal/Abdullah Alawi/NU Online)

Komentari