Tolak Sekolah 5 Hari, PBNU, PWNU Jabar, Jawa Barat
KH. Prof. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU) & HA Helmy Faisahl Zaini (Sekjen PBNU).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendorong Pemerintah Indonesia  untuk segera mengambil langkah diplomatis dan ikut andil dalam upaya menciptakan perdamaian di Yaman.

Hal itu menyusul peristiwa bentrokan yang terjadi antara loyalis pemerintah Yaman dengan kelompok pemberontak Houthi di Kota Hudaidah, Yaman yang telah menelan korban 142 jiwa termasuk anak-anak dan perempuan.

“Upaya ini penting dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab internasional yakni turut berperan dalam usaha menciptakan perdamaian dan keamanan dunia,” kata Kiai Said kepada NU Online, Selasa (13/11) malam.

Seruan PBNU agar Konflik Yaman segera dihentikan.
Seruan PBNU agar Konflik Yaman segera dihentikan.

PBNU mengecam segala bentuk dan tindak kekerasan, termasuk di dalamnya adalah perilaku menyerang pihak-pihak yang dianggap berbeda. “Perilaku kekerasan bukanlah bukan merupakan ciri Islam yang rahmatan lil alamin,” ujar Kiai Said.

Ia menegaskan, perdaiman, kebebasan, dan juga toleransi adalah prinsip utama dalam menjalankan kehidupan di samping prinsip Maqaasid Syariah yang terdiri dari hifdud din wal aql (menjaga agama dan akal), hifdzul nafs (menjaga jiwa), hifdun nasl (menjaga keluarga), dan hifdul mal (menjaga harta) dan hifdhul irdh (menjaga martabat). Kelima prinsip tersebut merupakan prinsip utama yang harus ditegakkan di manapun bumi dipijak.

PBNU juga mendesak PBB untuk berinisiatif melakukan mediasi agar tercipta suatu keadaan yang kondusif di Yaman serta agar tumbuh kembali sebagai negara yang berdaulat yang mensejehterahkan rakyat.

Selain itu PBNU juga mengajak kepada masyarakat internasional untuk bersama-sama menggalang bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Yaman.

Dikutip dari kbknews, sejak beberapa pekan terakhir ini, kota al-Hudaidah berpenduduk sekitar 600 ribu orang dibombardir oleh pesawat-pesawat tempur koalisi Arab Saudi dan UAE dalam upaya menyingkirkan milisi Sihite Houthi dukungan Iran yang mempertahankannya.

Konflik Militer yang berkecamuk sejak 2015 antara rezim pemerintah Yaman pimpinan Abdurabbuh Mansour Hadi didukung Arab Saudi dan UAE dan milisi Houthi yang merupakan perpanjangan tangan Iran telah menewaskan sekiar 10 ribu orang, sebagian besar warga sipil yang terperangkap di tengah pertempuran.

(Kendi Setiawan/NU Online)

Komentari