KODAM III Siliwangi, PWNU Jabar, Jawa Barat
Rais Syuriyah KH M Nuh Ad-Dawami (kanan) dan Ketua PWNU KH Hasan Nuri Hidayatullah (kiri) dan para pengurus Banom serta Lembaga PWNU Jabar, mengapit Pangdam III Siliwangi Mayjend TNI Muhammad Herindara, MA., M.Sc.

Kedekatan antara para ulama, santri dan tentara, tidaklah muncul tiba-tiba, melainkan sudah terjalin sejak institusi tentara lahir (TNI) itu dibentuk. Terbentukanya TNI pada masa awal kemerdekaan merupakah salah satu hadiah terbaik dari para ulama dan santri bagi Republik Indonesia. TNI pada mulanya adalah gabungan dari batalyon-batalyon tempur yang dipimpin oleh para kiai. Batalyon itu sebagian besar bermula dari laskar-laskar ulama dan santri, Hizbullah dan Sabilillah. Setelah situasi terkendali, para ulama yang tentara itu mundur ke belakang, kembali mengurus pesantren yang porak poranda akibat perang, dan TNI pun berangsur-angsur menjadi tentara profesional. Para ulama kembali ke pesantren untuk membangun “jiwa” umat dan tentara menjadi profesional untuk membangun “badan” bangsa sehingga keduanya menjadi sehat.

Itulah poin-poin penting dalam Silaturahmi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat bersama Panglima Daerah Militer (Pangdam) III Siliwangi, Rabu, 30/8/’17. Pertemuan yang berlangsung hangat ini menyepakati diperkuatnya kembali sinergi antara NU (para ulama), santri dan tentara atau disingkat NU-SAN-TARA itu.

KODAM III Siliwangi, PWNU Jabar, Jawa Barat
Silaturahmi PWNU Jabar dan Pangdam III Siliwangi berlangsung hangat dan akrab.

Sejarah harus dikembalikan sebagaimana adanya. Ulama dan santri merupakan unsur penting dalam pembentukan TNI,” tutur Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah. “Jangan lagi ada celah untuk memisahkan antara pesantren dan tentara,” tambahnya.

Hal itu diamini oleh Pangdam III Siliwangi Mayjend TNI Muhammad Herindra, MA., M.Sc. “TNI baru lahir pada 5 Oktober 1945, jadi sebelum itu, peran ulama dan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI, harus diakui sangat besar,” papar perwira yang berkarir panjang di Kopassus ini.

Panglima menegaskan bahwa banyak negara asing yang tidak menginginkan Indonesia menjadi mandiri dan kuat. Jika dulu penguasaan antarnegara dilakukan secara militer, kini digunakan pendekatan ideologi dan ekonomi. Perwira kelahiran Magelang itu mengapresiasi ketegasan NU dalam menolak faham radikal yang ingin mengganti sistem kenegaraan RI, tetapi ia mengingatkan agar kemandirian ekonomi juga menjadi perhatian.

Penduduk bumi ini terus bertambah sementara luas bumi tetap. Jika tidak diantisipasi dengan bijak, maka perebutan pangan akan mengguncang stabilitas dunia,” paparnya.

Pada bagian lain, secara rendah hati, Pangdam III Siliwangi meminta bimbingan ruhani kepada para ulama NU untuk tentara di lingkup Kodam III Siliwangi. Ia tidak memungkiri adanya kemungkinan penyusupan faham-faham radikal kepada tantara dan keluarganya. Pihak PWNU Jabar menanggapi serius permohonan tersebut dan siap menyediakan khatib atau penceramah untuk mengisi masjid-masjid di bawah Kodam III Siliwangi.

Ketua PWNU Jabar dan Pangdam III Siliwangi bersepakat untuk meningkatkan komunikasi dan saling berbagi informasi. Dengan demikian, sinergi NU-SAN-TARA dapat segera diwujudkan sehingga situasi Jawa Barat tetap kondusif dan aman terkendali.

Iip Yahya

Komentari