KH M Nuh Ad-Dawami, Munas & Konbes NU 2017, Lombok NTB, PWNU Jabar, Jawa Barat
Rais Syuriyah PWNU Jabar KH M Nuh Ad-Dawami (bersurban putih) bersama delegasi PWNU Jabar di Munas dan Konbes NU di Lombok, NTB.

Kakaren Munas dan Konbes NU 2017 (2)

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2017 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi ajang pembuktian bahwa NU memang gudangnya ulama; kiai, ajengan, dan tuan guru. Jika Konbes menjadi ajang konsolidasi organisasi dan mengevaluasi pelaksanaan keputusan-keputusan Mukatamar 2015, maka Munas menjadi hajatnya para kiai untuk membahas 18 persoalan yang diseleksi dari 77 masalah yang diajukan. Selain utusan PWNU, Munas juga dihadiri oleh perwakilan pesantren dari seluruh Indonesia.

Forum kedua terbesar setalah Muktamar ini masih menjadi daya tarik, terbukti dengan hadirnya 217 peneliti dan peninjau dari dalam dan luar negeri. Apalagi 18 masalah yang dibahas merupakan persoalan penting yang rekomendasinya ditunggu oleh berbagai pihak.

Bahtsul Masail Zaman Now

NU dan para kiainya boleh disebut yashluh likulli zaman, adaptif dengan perkembangan setiap zaman. Jika pada masa lampau bahtsul masail akan diwarnai dengan tumpukan kitab-kitab tebal, kini yang tampak hanyalah layar infocus di bagian kanan dan kiri. Setiap peserta memegang laptop, tablet atau perangkat digital lainnya. Dengan kecanggihan teknologi, kitab-kitab tebal itu sudah bisa masuk ke dalam piranti berukuran kecil dalam format pdf.

Ujaran kebencian itu haram, bahtsul masail, Munas ALim Ulama, Darul Falah Lombok, PWNU Jabar, Jawa Barat
Bahtsul Masail Maudlu’iyah Munas Alim Ulama di Pesantren Darul Falah Lombok, membahas masalah tematik-konseptual.

“Hanya untuk Al-Kutub as-Saymilah, masih harus diverifikasi dengan kitab aslinya, terkadang ada proses yang membuat sebagian teks tidak terkompresi dengan sempurna,” ujar KH Ahmad Ishomuddin, Syuriyah PBNU yang mengkoordinir bahtsul masail. “Kitab dalam format pdf justru lebih baik,” lanjutnya.

Hal lain yang menonjol dalam bahtsul masail ialah tampilnya kiai-kiai muda di semua komisi. Pemandangan inilah yang membuat Rais Syuriyah PWNU Jabar KH Mohammad Nuh Ad-Dawami merasa reueus (bangga).

“Saya sangat senang dan bangga dengan tampilnya para ajengan muda yang pintar-pintar ini di arena bahtsul masail,” tutur Ajengan Nuh. “Hal ini membuat orang tua seperti saya reugreug (merasa tenang),” sambungnya.

Memang, baik pemandu bahtsul masail maupun peserta, prosentasi kiai muda sudah di atas 50 persen.

“Jangan salah, banyak di antara mereka itu doktor lulusan kampus dalam dan luar negeri,” ujar Gus Ishom.

Bahtsul masail terbukti tetap hidup dan menjadi “api” bagi jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Munas Lombok 2017 menjadi saksi hidup bahwa gairah untuk berbagi ilmu yang bersumber dari kitab-kitab kuning itu tetap menggelora. Perdebatan-perdebatan alot masih berlangsung dalam suasana hangat dan saling menghormati. Semangat inilah yang harus menular dan ditularkan ke PCNU, MWC NU hingga Ranting NU.

(Iip Yahya)

Komentari