Harlah NU ke-92, Halaqah Perkembangan Pemikiran NU, PWNU Jabar, Jawa Barat
Halaqah PWNU Jabar dalam rangka Harlah NU ke-92. (ki-Ka) KH Hasan Nuri Hidayatullah (Ketua PWNU), Ir H Suwadi D Pranoto (Wasekjen PBNU), KH Habib Syarif Muhammad (Mustasyar PWNU), KH Muhammad Aliyuddin (Wakil Rois PWNU), KH M Nuh Ad-Dawami (Rois Syuriyah PWNU), H. Effendi Rahmat (Moderator).

Kelahiran Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926 merupakan persambungan dari perjuangan para ulama dan para wali terdahulu. Terdapai pertautan yang kuat antara berbagai peristiwa besar di kawasan Nusantara, misalnya Perang Jawa 1825 – 1830 yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang didukung oleh para ulama, termasuk mursyid tarekat. Keterkaitan sejarah inilah yang menjawab pertanyaan, mengapa perkembangan NU begitu cepat hingga sekarang menjadi ormas Islam terbesar di dunia. Jamiyyah NU memang lahir pada 1926 tetapi tradisinya sudah ada sejak Islam dikembangkan di kawasan Nusantara. NU adalah pelanjut perjuangan para ulama terdahulu itu yang mengembangkan Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah ‘ala Madzahibil Arba’ah.

Demikian intisari Halaqah Perkembangan Pemikiran Keagamaan dan Dinamika Politik Kebangsaan NU, yang diselenggarakan oleh PWNU Jabar, Rabu, 31/01/2018, dalam rangka Hari Lahir NU ke-92 di Gedung Dakwah PWNU Jalan Terusan Galunggung 09 Bandung.

“Selama ini penulisan sejarah Nusantara, termasuk NU, ditulis oleh para indonesianis yang mempunyai agendanya sendiri,” ujar Ir. Suwadi D. Pranoto, Wasekjen PBNU yang jadi narasumber halaqah. “Setelah ditelusuri oleh para peneliti NU, seperti Agus Sunyoto, terbukti banyak fakta yang selama ini tersembunyi.”

Suwadi mencontohkan kesalahan mendasar trikotomi Santri-Priyayi-Abangan dari Clifford Geertz, yaitu ketidakmampuan sosiolog itu mengungkap fakta banyak kiai (santri) yang sebenarnya priyayi/menak yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Pada bagian lain Suwadi juga memaparkan konsep nasionalisme NU yang digariskan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pada 1914, yaitu, “Hubbul wathon minal iman”. Nasionalisme Indonesia ini mengakar pada tanah kelahirannya sehingga melahirkan santri-santri yang militan saat harus mempertahankan kemerdekaan. Dari sinilah berakar konsep tiga ukhuwwah: islamiyah-wathoniyah-basyariyah.

Rais Syuriyah PWNU KH M Nuh Ad-Dawami menyambut baik kegiatan halaqah ini yang dianggapnya menambah wawasan para pengurus PWNU, Banom serta Lembaga.

“Saya usulkan agar kegiatan semacam ini diadakan tiga bulan sekali agar Gedung PWNU ini bertambah makmur dengan syiar ahlussunnah wal jama’ah an-Nahdliyyah,” ujar pengasuh Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut itu.

Sementara Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah mengingatkan pentingnya kemandirian NU. NU menurutnya, tidak boleh tergantung pada siapapun termasuk pejabat yang “kebaikannya” dibatasi oleh masa jabatannya. “Kita harus mengambil teladan dari para pendahulu yang berhasil mengembangkan NU di tengah tekanan kolonialisme dan rezim pemerintah yang represif, yaitu dengan kemandirian.”

(Iip Yahya)

Komentari