Ngopi bareng Gus nadir di UIN Bandung.
Ngopi bareng Gus nadir di UIN Bandung.

Jama’ah Nahdiyin UIN Bandung ngariung mungpulung, Ngopi (ngobrol pintar) bersama Nadirsyah Hosen, Ph.D di sebuah rumah makan di Cinunuk, Cileunyi, Bandung (Minggu, 28 April 2019).

Acara yang diadakan oleh forum Jama’ah NU UIN Bandung menyikapi arah politik NU pasca kemenangan Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin, menghadirkan Gus Nadir, demikian rais syuriyah PCINU Australia dan New Zealand ini disapa. Sebagai pembanding adalah Dr. Asep Salahudin, Ketua Lakpesdam PWNU Jabar.

Hadir para penggerak NU di UIN Bandung antara lain Prof. Ulfiah, Dr. Dudang Ghozali, Dr. Husnul Qodim, Dr. Dadan Rusmana, H. Usep D. Rostandi, Dr. Ajid Thohir, Dr. Mujiyo, Dr. Nurohman, Dr. Abdullah Syafii, Dr. Wahyudin Dharmalaksana, Dr. Ali Nurdin, dan para penggerak NU dari kaum muda seperti Wahyu Iryana, Busro, Ali Khosim, Nasrul.

Acara ini didukung pula oleh tokoh UIN Bandung yang tercatat sebagai Pengurus PWNU Jabar seperti Prof. Ali Ramdhani, Prof. Rosihon Anwar, Prof. Muhtar Solihin, dan Prof. Asep Muhyidin.

Gus Nadir memulai pemaparannya dari gerakan NU pasca Muktamar Jombang (2005) sampai kesuksesan KH. Ma’ruf Amin yang didaulat mendampingi Jokowi sebagai Wakil Presiden. Dosen Monash University ini mengingatkan bahwa bukan hanya sekarang ini saja NU berkuasa, namun sejak awal berdirinya negara Indonesia NU sudah memberi saham terbesar lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi ketika Gusdur menjadi presiden, eforia kemenangan ini bukan hanya masuk gedung parlemen dan istana negara saja, namun akan berdampak meluas ketika Muktamar NU mendatang.

“Kader NU bukan hanya ditugasi mengisi khotbah jum’at di masjid-masjid kementerian, kantor-kantor dinas, tapi juga harus menyiapkan kader yang punya basis data dan blue print yang jelas minimal 5 tahun ke depan. Kader NU harus mengerti IT, mengikuti revolusi 4.0 sesuai perkembangan jiwa jaman, struktur dan kultur NU harus sinergis, bersenyawa, satu barisan dan satu jiwa,” tegas peraih dua gelar doktor itu.

Gus Nadir bersama Kang Asep Salahudin.
Gus Nadir bersama Kang Asep Salahudin.

Kader NU yang mempunyai soft skill dan nilai orientasi keagamaan yang mumpuni, yang berdaya saing, harus dikedepankan untuk diberi ruang tampil ke muka memberi garis resultan yang idhar.

Dalam penutup pemaparannya Gus Nadir menegaskan blue print NU secara struktur harus final bukan hanya untuk sekarang tapi juga jangka panjang, agar arah tujuan NU menjadi jelas dan konkrit.

Pembahasan selanjutnya oleh Dr. Asep Salahudin yang memetakan peta politik NU sejak kelahiran 1926, keluar dari Masyumi, Pemilu 1955, jurus zigzag NU pada masa kepemimpinan Gus Dur, fenomena politik Jawa Barat, deklarasi DI/TII Kartosuwidjo hingga kekalahan 01 di wilayah Jabar.

“Karomah dan kesaktian NU tetap digjaya, buktinya walau di Jabar dan Banten Kiai Ma’ruf Amin kalah, namun se-Indonesia sebagai representasi NU, Kiai Ma’ruf menang,” ujar Ketua PW Lakpesdan Jabar itu.

Dalam sessi tanya jawab, Gus Nadir menjelaskan bahwa dakwah via medsos itu penting sekali. Perang via medsos juga harus dilakukan oleh kader-kader NU.

“Kader NU harus masif dan bersatu, maka penguasaan IT itu mutlak,” ujarnya.

Gus Nadir juga menyepakati bahwa kader NU tidak harus semua terjun ke dunia politik praktis, cukup hitungan jari sebagai pionir dan yang lain tetap mengurus umat. Namun, tetap harus ada pendistribusian kekuatan NU di semua lini baik basis maupun untuk penguatan struktur.

“Peran perempuan juga sangat penting dalam pola dakwah. Ingat artis-artis di tanah air mereka haus akan siraman keagamaan, kebanyakan sudah masuk ajaran Islam kanan, yang pola dakwahnya memakai konsep modern dengan nama “hijrah”. Hal ini harus menjadi orientasi penting untuk mengawal dan advokasi dakwah yang rahmatan lil alamin,” lanjutnya.

Sementara Kang Asep Salahudin menambahkan bahwa NU di Jabar harus optimis dengan pemodernan organisasi, karena Indonesia dan NU ini dipagari oleh karomah para wali. Dalam hal ini barometer ukurannya adalah maqom para sufi, bukan maqom para mualaf yang bangga dengan keislamannya.

Acara Ngopi kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Katib Syuriyah Dr. Mujiyo Nurkholis.

(Wahyu Iryana)

Komentari