Ngadulag, Lebaran, Abdullah Alawi, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ngadulag, salah satu kreasi seni orang Sunda saat Lebaran tiba.

Abdullah Alawi

Di dalam bahasa Sunda ada istilah baju, sandal, sarung, atau kopiah “dulag”. Benda-benda itu artinya barang bagus atau baru dibeli. Kata “dulag” biasanya dihubungkan dengan pakaian. Jarang atau mungkin juga tidak pernah dikaitkan dengan, misalnya rumah dulag, ponsel dulag, laptop dulag, atau mobil dulag.

Meski demikian, menurut saya, kata tersebut sangat terbuka untuk dihubungkan dengan benda-benda tersebut pada konteks sekarang. Namun, yang pasti kata tersebut berkaitan erat dengan hari raya Idul Fitri.

Pada zaman dahulu, pakaian baru dan bagus sepertinya hanya didapatkan ketika menjelang hari raya. Setahun sekali. Semuanya seolah sepakat mendapatkannya selepas bersusah payah menjalani puasa selama sebulan. Sebagai imbalan. Namanya imbalan, tentu saja bukan barang biasa. Harus bagus dan baru. Soal barang tersebut didapat dengan berutang atau menyicil, itu urusan lain. Meski demikian, orang yang tak berpuasa pun turut ingin mendapatkan baju dulag.

Jika pakaian dulag tak didapatkan, seorang anak akan menangis kepada orang tuanya. Seorang istri akan merengek kepada suaminya. Ada nuansa kesedihan di situ. Kesedihan tersebut diekspresikan pada ringkasan suara dulag “Dag dulugdug dag”. Kata tersebut dipelesetkan “hayang baju teu kabedag” (ingin baju, tapi tak mampu mendapatkannya).

Apakah dulag? Kata ini berkaitan dengan bedug, dalam KBBI daring disebut beduk. Tapi saya menyesuaikan dengan lidah orang Sunda, bedug. Dulag adalah suara bedug yang dipukul diiringi suara kentongan dengan irama tertentu. Sementara ngadulag, kata kerjanya.

Berbeda dengan alat musik seperti gitar atau piano, ngadulag tak memiliki aturan tertentu dalam memainkannya. Cara memainkan tidak diperhitungkan, tapi hasil suara atau iramanya. Jika iramanya enak didengar, maka akan dinilai bagus.

Berbeda pula dengan alat musik lain, ngadulag hanya dilakukan di dua hari raya dan selama bulan puasa. Pada hari raya ngadulag semalam suntuk. Sementara bulan puasa hanya sesekali, biasanya selepas tarawih dan saat membangunkan untuk sahur.

Pada malam hari raya, ngadulag dilakukan selepas isya sampai subuh. Suara itu mengiringi takbiran. Orang-orang, anak-anak maupun dewasa, kecuali perempuan, berkumpul di masjid. Orang tua biasanya takbiran. Sementara anak muda ngadulag. Kadang diiring pula dengan mercon atau petasan. Masjid menjadi pusat keramaian.

Keramaian itulah kemudian melahirkan peribahasa “jauh ka bedug anggang ka dulag” (jauh dari bedug, jauh dari dari dulag). Peribahasa ini mengsyaratkan suasana yang sepi. Suasana tersebut tak ada keriuhrendahan seperti adanya ngadulag.

Sejak kapan istilah ngadulag muncul di Sunda? Saya tidak tahu persis. Namun, di buku Dongeng enten ti Pasantren” Karya Rahmatullah Ading Afandie atau biasa disingkat RAF muncul istilah tersebut. Sebagaimana diakui pengarangnya, meski pertama kali diterbitkan tahun 1961, kisah otobiografi tersebut mengangkat latar kisah tahun 1943, awal pendudukan Jepang di Indonesia. Pengarang mengisahkan saat ia menjadi santri. Dulag pun ada beberapa jenis berikut seninya.

“Demi ngadulag tea di pasantren mah aya senina. Malah nakol kohkol oge aya senina. Da beda atuh, kohkol memeh dur bedug, kohkol munajat jeung saterusna. Kitu deui ngadulag. Kapan aya dulag kuramas, dulag janari, dulag tadarus, dulag malem Lebaran. Beda-beda eta teh. Tara pacorok. Tara aya dulag tadarus malem Lebaran atawa dulag janari dipake tengah poe mun lilikuran.”

“Di pesantren, ngadulag ada seninya. Memukul kentongan juga ada seninya. Ada perbedaan memukul kentongan sebelum memukul bedug waktu shalat, kentongan munajat, dan seterusnya. Dulag pun ada dulag keramas, dulag janari, dulag tadarus, dulag malam lebaran. Semuanya berbeda. Tidak tumpang tindih. Tidak ada dulag tadarus di malam lebaran atawa dulag janari (dini hari) dilakukan di siang hari.”

Hingga kini, meski telah ada pengeras suara, urang Sunda masih melakukan ngadulag di malam lebaran. Tapi sepengetahuan saya, beberapa jenis dulag yang disebutkan pada buku tersebut, sudah jarang ada yang mengetahuinya.

Lalu, jika bedug kemudian dianggap bid’ah, maka sebagian ekspresi kegembiraan orang Sunda di hari raya akan hilang. Kalaupun orang membid’ahkan tersebut tetap gembira tanpa bedug, tanpa ngadulag di malam lebaran, ia akan kehilangan kekayaan berbahasa. Tak ada lagi istilah baju dulag, sarung dulag atau kopiah dulag.

Selamat ngadulag, selamat berhari raya.

(NU Online)

Komentari