Nishfu Sya'ban.
Nishfu Sya'ban.

Senin (30/4) petang nanti adalah momen betepatan dengan malam Nisfu Sya’ban atau separuh bulan bulan Sya’ban 1439 Hijriah. Hal ini berdasarkan ikhbar PBNU melalui Lembaga Falakiyah yang mengumumkan bahwa awal bulan Sya’ban 1439 Hijriah jatuh pada Selasa (17/4), persisnya sejak Senin petang sebelumnya.

Pengumuman awal bulan Sya’ban disampaikan setelah tim rukyat Lembaga Falakiyah PBNU yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia berhasil menyaksikan hilal, antara lain di Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur; juga di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Selain memperbanyak puasa, ibadah yang dianjurkan di bulan ini adalah menghidupkan malam pertengahan bulan Sya’ban atau Nisfu Sya’ban. Menyadari keutamaan bulan ini, sebagian ulama menganjurkan umat Islam pada malam mulia ini untuk meningkatkan frekuensi doa, memperbanyak dua kalimat syhahadat, dan istighfar.

Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban mencatat bahwa para salafus shalih (ulama klasik) mentradisikan tadarus Al-Qur’an dan mengeluarkan harta mereka untuk membantu kelompok dhuafa dan orang-orang miskin selama bulan menyongsong Ramadhan ini.

Di banyak daerah di Tanah Air, malam nisfu sya‘ban menjadi momen yang ditunggu masyarakat. Mereka memanfaatkan waktu setelah sembahyang Maghrib untuk membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali. Aktivitas ini biasanya diiringi dengan berdoa kepada Allah agar diberikan umur panjang, rezeki yang halal, wafat dalam keadaan husnul khatimah, atau lainnya.

Di samping diyakini sebagai momen penyerahan rekapitulasi keseluruhan amal kepada Allah, Sya’ban juga mengandung jejak sejarah penting dalam Islam. Di antaranya, pengalihan kiblat yang semula Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, serta turunnya ayat anjuran untuk bershalawat untuk Nabi Muhammad, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56.

Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam urutan kalender qamariyah. Sya’ban berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Bulan ini menjadi jalan umat Islam untuk kian mempersiapkan diri menghadapi bulan paling istimewa sesudahnya, yakni Ramadlan.

(Mahbib/NU Online)

 

Komentari