Seekor ikan paus mati karena menelan sampah plastik seberat 5,9 kg.
Seekor ikan paus mati karena menelan sampah plastik seberat 5,9 kg.

Salah satu isu yang akan dibahas dalam Munas Alim-Ulama NU di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo adalah sampah plastik. Sampah plastik sudah menjadi problem lingkungan dalam skala nasional. Dibutuhkan waktu ratusan tahun bagi tanah untuk mengurainya. Karena susah diurai, sampah plastik menjadi ancaman bagi kehidupan dan ekosistem, yaitu dapat menurunkan kesuburan tanah. Menumpuknya sampah plastik di saluran air, selain mencemari lingkungan,  juga bisa menyebabkan banjir. Tak hanya itu, pembakaran sampah plastik juga menghasilkan dioksin yang berbahaya bagi kesehatan.

Pada Tahun 2016, Indonesia adalah negara kedua penyumbang sampah sampah plastik ke laut, setelah Tionghoa. Data dan fakta ini cukup menjelaskan bahwa produksi sampah di Indonesia terus meningkat dan pada tahap yang mengkhawatirkan.

Tahun 2012, beberapa studi dilaksanakan untuk meneliti tentang penanganan sampah. Hasilnya, didapati bahwa sampah-sampah yang diproduksi ini ditindaklanjuti tanpa dikelola (7%), dibakar (5%), dikompos dan didaur ulang (7%), dikubur (10%), dan—yang paling besar—ditimbun saja di TPA alias Tempat Pembuangan Akhir (69%).

Perkembangan zaman, kecanggihan teknologi, minat belanja yang tinggi dan gaya hidup yang instan, membuat penggunaan plastik terus meningkat sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Opini masyarakat bahwa plastik masih merupakan media pembungkus yang murah dan sehat, membuat pemakaian plastik semakin tidak bisa dikendalikan. Produk-produk kebutuhan masyarakat yang mulai menggunakan sachet dinilai perusahaan akan mampu membidik kemampuan ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Dengan alasan lebih hemat, maka banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk membuat produk-produk nya dalam bentuk sachet. Artinya konsumsi akan plastik pun semakin merajalela.

Sampai saat ini, sampah yang paling banyak dibuang adalah botol minuman plastik, plastic kantong, kaleng minuman, putung rokok, dan sedotan minuman. Padahal, jenis-jenis sampah tersebut memerlukan puluhan tahun, bahkan ratusan tahun agar bisa terurai. Ini artinya, sampah plastik sangat berdampak buruk bagi lingkungan karena sifat plastik yang memang susah diuraikan oleh tanah meskipun sudah tertimbun bertahun-tahun. Sampah plastik baru bisa diuraikan oleh tanah setidaknya setelah tertimbun selama 200 hingga 400 tahun.

Banyak usaha yang sudah dilakukan pemerintah, sektor swasta dan masyarakat untuk mengendalikan sampah plastik. Mulai dari program plastik berbayar, Buy Back Limbah Produk sampai Ecobricks yang dilakukan oleh teman-teman Nahdlatul Ulama melalui LPBI NU. Namun menurut BPS, salah satu faktor yang paling dominan yang menyebabkan susahnya pengendalian sampah plastik ini adalah terkait kepedulian masyarakat yang sangat rendah.

Kementerian Kelautan sedang gencar mempromosikan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi ikan. Namun, laut kita sudah tercemari oleh polusi plastik. Ini akan mempengaruhi kesehatan masyarakat kita apabila promosi konsumsi ikan laut tidak dibarengi dengan upaya “kebersihan” laut dari sampah plastik. Apabila sampah plastik termakan (hancur) oleh binatang darat ataupun laut dan binatang itu dikonsumsi oleh manusia, maka binatang itu akan mengandung mikroplastik yang akan masuk ke saluran pencernaan manusia, sehingga bisa merobek usus atau lambung karena pecahan ini tidak bisa dicerna. Bisa saja sebagian keluar bersama kotoran, tapi masih ada yang tertinggal. Apalagi bila masuk sel darah, plastik mikro ini ikut terserap dalam jaringan sel darah dan bisa mengganggu sistem syaraf pusat. Bila terlalu sering bisa menyebabkan gangguan sistem pencernaan atau sistem syaraf, dan perlahan bisa mati.

Masalah plastik tidak hanya masalah darat dan udara saja, tapi juga sudah menjadi masalah di lautan. Bukan hanya masalah kebersihan dan lingkungan saja, tapi juga sudah menjadi masalah kesehatan.

Munas Alim Ulama NU menganggap urusan sampah plastik ini penting untuk dibahas dan mencarikan solusi fiqih untuk ikut mengatasi dampak negatifnya. Munas akan membahas: a) Bagaimana hukum membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik, menurut fiqh? b) Bolehkah pemerintah menerapkan sanksi denda kepada oknum yang membuang sampah sembarangan? c) Bolehkah pemerintah menerapkan sanksi kepada produsen/ industry yang tidak mengelola sampah kemasan/produksinya sebagaimana pasal 15 Undang-Undang RI tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah? d) Bagaimana hukum masyarakat memboikot kepada perusahaan yang tidak mengelola dan menanggulangi sampah kemasan/produksinya? e) Ketika mengakibatkan dampak negatif yang disebabkan kurang seriusnya pengelolaan sampah, siapa pihak yang harus bertanggung jawab?

Komentari