Menristek Dikti Muhammad Natsir memberikan pernghargaan kepada 9 PTNU terbaik. Foto: nu.or.id
Menristek Dikti Muhammad Natsir memberikan pernghargaan kepada 9 PTNU terbaik. Foto: nu.or.id

Menteri Riset dan Muhammad Nasir menegaskan bahwa seluruh perguruan tinggi di bawah Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) harus melakukan percepatan pada kualitas dan kuantitas.

“Terus terang, perguruan tinggi di bawah NU belum maju, tapi berpotensi besar,” kata mantan Rektor Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, ini pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LPTNU di Kota Bandung, Sabtu (16/2).

Menurut dia, perguruan tinggi NU baru berkembang belakangan ini. Paling tidak, baru dimulai sejak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden. Jadi, bisa dibilang terlambat.

Namun demikian, itu bukan menjadi alasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama tidak maju. Justru harus melakukan percepatan dalam mengejar ketertinggalan, terutama dalam konsentrasi pendidikan umum.

“Selalu saya sampaikan kepada teman-teman, mari kita lari cepat, mari bersama-sama untuk memajukan PTNU. Tanpa kerja keras, jangan sampai berharap maju,” tegas Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama ini.

Ia mendeskripsikan, saat ini perubahan sangat cepat dalam bidang apa pun. Dulu, pos dan giro merupakan pengantar surat terbesar di Indonesia. Tapi sekarang tidak lagi, karena tergantikan oleh perusahaan yang menggunakan teknologi informasi yang canggih. Begitu juga dengan pembayaran di gerbang jalan tol, sekarang tidak lagi menggunakan tenaga manusia.

Dengan demikian, menurut dia, PTNU juga bisa melakukan hal yang sama dalam pelayanan pendidikan. Syaratnya adalah meningkatkan kualitas dengan cepat. Untuk tujuan itu PTNU bisa melakukan kerja sama dengan beragam pihak, baik di dalam maupun luar negeri.

 

Sembilan PTNU Terbaik

Dalam Rakornas ini, LPTNU memberikan penghargaan kepada PTNU di lingkungan Nahdlatul Ulama yang dinilai maju berdasarkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Internal Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME).

Kesembilan PTNU tersebut mendapat piagam penghargaan yang diberikan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir pada Rapat Koordinasi Nasional LPTNU di Kota Bandung, Sabtu (17/2).

Sembilan kampus terbaik itu ialah: UNU Surabaya, Universitas Islam Malang, Universitas Wahid Hasyim Semarang, Universitas Islam NU Jepara, UNU Lampung, Universitas Sains Al Quran Wonosobo, UNU Al Ghazali Cilacap, UNU Sidoarjo, dan UNU Surakarta.

Menurut Wakil Ketua LPTNU Muhammad Afifi kriteria penghargaan bagi Perguruan Tinggi tersebut dinilai baik dalam penjaminan mutu internal maupun eksternal. Kriterianya berdasarkan penilaian standar penjaminan mutu Kemristek Dikti yang sudah dirangking secara nasonal.

Afifi menambahkan, LPTNU berkomitmen akan meningkatkan terus mutu pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Hal ini sesuai permintaan Ketua LPTNU yang juga Menteri Riset Dikti.

Upaya-upaya tersebut, telah dilakukan sejak 2015 melalui klinik akreditasi. Misalnya bagi perguruan tinggi yang belum terakreditasi, didorong menjadi terakreditasi. Yang terakreditasi C didorong menjadi B. Yang B didorong menjadi A.

(Abdullah Alawi/NU Online)

 

Komentari