KH M Nuh Ad-Dawami, Ceng Enoh, Rais Syuriyah, PWNU Jabar
KH M Nuh Ad-Dawami (berbaju putih), Rais Syuriyah PWNU Jabar.

Ajengan bil-Kalam
Sejak aktif di PCNU Garut awal tahun 1990an, ia kerap ceramah ke berbagai MWC-NU. Tapi kemudian mulai tahun 1998, hal itu menjadi kegiatan rutin bulanan. Di wilayah Garut Selatan ia berceramah di tiga titik; Bungbulang, Cisompet, dan Singajaya. Pengajiannya dihadiri para ajengan NU yang bertempat di masjid atau pesantren.

Pengajian ke Cisompet kemudian berhenti setelah salah seorang tokoh penggerak pengajian, Ajengan Anwar, meninggal dunia tahun 2005. Sementara di Singajaya berhenti di tahun 2010 karena jalanan hancur berat. Sementara ke Bungbulang masih berlanjut karena panitia masih aktif dan jalanan masih bisa ditempuh.

Menurut penilaian Ajengan Nuh, orang Garut selatan tetap memintanya berceramah bukan karena ia dianggap ajengan kharismatik. Tapi lebih karena dia tidak menyalahkan dan mencaci pihak lain. Di Masjid Besar Bungbulang, misalnya, ia dijadikan penceramah penyeimbang. Sebab di situ berkembang pesat pemahaman agama berhaluan keras. Orang Bungbulang menyebutnya Islam Baiat. Islam jenis itu, menganggap orang yang belum masuk golongannya sebagai kafir, harus diislamkan kembali. Islam tersebut sudah merambah setiap desa di Garut Selatan. Selain itu, masih kuat juga Islam beraliran DI/TII.
Selain ke Bungbulang, ia juga rutin berceramah ke Selaawi, Garut Utara, juga tiap bulan. Di samping mengajar santri di pesantren yang dipimpinnya, Nurul Huda, ia juga sering diundang ceramah ke hampir seluruh kecamatan Garut. Kemudian jangkauannya semakin meluas ke daerah-daerah lain di Jawa Barat dalam berbagai acara, mulai peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, pernikahan, dan lain-lain. Tetapi ia memang sosok yang sederhana. “Level ceramah saya mah untuk masyarakat bawah. Saya ini dicetak untuk orang kampung,” tuturnya dengan rendah hati.

Salah satu kebiasaannya adalah tepat waktu. Ada cerita khusus soal waktu ini. Ketika ia masih mengaji di pesantren Cilendek, Tasikmalaya, sekitar tahun 1966, kampungnya menyelenggarakan peringatan Hari Besar Islam. Ratusan orang sudah berkumpul di depan panggung. Panitia gelisah menanti penceramah yang tak kunjung datang. Tapi sampai waktunya habis, penceramah itu tidak hadir tanpa kabar berita.

Waktu itu, Nuh muda sampai menitikkan air mata melihat kekecewaan hadirin. Dalam hati ia berjanji, jika Allah memberinya kemampuan berceramah, pertama, ia akan mendatangi tiap undangan. Walaupun tidak diberi apa-apa, pasti akan datang. Kedua, ia tidak akan membuat panitia gelisah menunggu, ia akan hadir paling lambat satu jam sebelum waktunya. Janji itu ia tepati. Sampai kini, ia tak pernah abai mengahadiri undangan yang sudah disepakati san selalu datang lebih awal.

“Penceramah harus tahu kapan, di mana, dan siapa yang dihadapi. Jangan pernah datang ke undangan dengan sombong untuk memberi tahu mereka. Niatkan saja dengan mengingatkan mereka dan diri sendiri.”

Karena semua orang senang dengan heureuy (humor), menurut Ajengan Nuh, penceramah harus pandai berhumor. Tapi ia membatasi humor ceramahnya dengan ketat. Bukan humor jika membuat satu pihak senang, tetapi pihak lain tersakiti . “Contohnya melecehkan orang pincang atau buta mata sebelah, itu bukan humor, tetapi penghinaan,” tegasnya.
Soal tarif, ia mengkritik sebagian penceramah, meski dengan gaya humor, menyebut amplopnya harus besar. Ia mencontohkan perkataan yang mengatakan, karena perjalanannya jauh, amplopnya harus tebal. “Itu memberi contoh tidak benar kepada jamaah. Itu menunjukkan tandanya orang cinta duniawi.”

Menurut dia, penceramah seperti itu merendahkan harga dirinya sendiri. Perkataan penceramah seperti itu akan diterima oleh telinga manusia, tapi ditolak hati manusia. “Saya sering malu, jika ada orang mengundang bertanya berapa tarifnya. Bagi saya, selagi saya sehat, saya akan sampai.”

Dalam urusan uang, ia tak ingin membuat susah orang mengundang. Sebab menurutnya, wama min dabbatin fil-ardhi ila ‘alallahi rizquha (Semua yang melata di muka bumi pasti diberi rejeki oleh Allah). Ia pernah punya pengalaman menghadiri undangan ke Kuningan. Waktu itu hanya punya bekal cukup untuk bensin, tetapi Ia tidak risau. “Belum sampai pengajian, saya sudah menerima uang,” kenangnya. Di sana, ada orang-orang yang mengaku kenal dan sudah lama menunggunya datang. Padahal ia merasa belum pernah bertemu dengan mereka. “Jadi, saya tidak pernah risau dengan urusan rejeki,” katanya.
Ia juga mengkritik gaya penceramah yang terkenal di televisi yang pernah datang di kampungnya. Penceramah itu menyebutkan bahwa tarif biasanya 10 juta, tapi untuk orang kampung di sini boleh kurang. Menurutnya, janganlah seperti itu. Orang akan mendengar dengan telinganya, sementara hatinya menolak.

Berceramah itu harus ikhlas, jangan dijadikan lapangan untuk menumpuk kekayaan, melainkan pangabdian. Ketika masih menggunakan motor, ia pernah mendorongnya karena ban kempes hingga belasan kilometer, melewati tanjakan Halimun yang panjang dan curam. “Kejadian itu tidak menjadi kekecewaan, tapi inilah ujian berjuang di jalan Allah. Zaman Rasulullah, beliau dan para sahabat berdakwah dengan bercucuran darah. Kita mah cuma bercucuran keringat,” tuturnya.

Ketika awal-awal menjadi penceramah tahun 1968, ia selalu berjalan kaki. Sekali waktu ia diundang ke Cukang Batu. Ia berjalan kaki sejauh jarak 40 km, melewati hutan dan sungai. Pulang dari ceramah, ia tak menerima uang. Waktu itu, jamaah pengajian paling juga memberikan gula atau ayam.

(Abdullah Alawi/NU Online, dengan tambahan dari berbagai sumber)

Komentari