Komik untuk Pendidikan, Iip Yahya, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ilustrasi: Beberapa komik islami yang pernah berjaya pada era 1970-80-an.

Ada pakar bacaan anak mengatakan bahwa komik tidak baik untuk perkembangan intelektual anak. Apakah komik kemudian sama-sama kita vonis buruk dan tak layak buat anak? Tidak serta merta demikian. Dalam dunia ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya bacaan anak, tidak pernah ada pendapat tunggal. Setiap pakar mempunyai sudut pandang sesuai latar belakang keilmuannya. Seorang penulis buku anak akan menyebutkan buku adalah yang terbaik untuk anak. Namun seorang komikus akan mengatakan bahwa komik adalah sarana pendidikan yang efektif untuk anak.

Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak segera mengiyakan atau menafikan setiap pendapat di seputar pendidikan anak kita. Baik kata seorang pakar, belum tentu tepat buat anak kita. Penting kata seorang ahli, belum tentu orang tua mampu secara finansial untuk mewujudkannya. Yang terbaik ialah yang paling sesuai dengan minat-bakat anak, kemampuan orang tua, dan dukungan lingkungan sekolah serta masyarakat.

Selintas Sejarah Komik

Pada awalnya, komik disebut cerita bergambar (cergam). Cergam diterbitkan dalam surat kabar mengambil tema humor, kehidupan sehari-hari, legenda, petualangan, dan tentang kemerdekaan Indonesia. Tahun 1931, surat kabar Sin Po mempublikasi serial komedi Put On yang ditulis Kho Wong Gie. Serial ini merupakan salah satu pelopor komik strip Indonesia. Para komikus lokal saat itu banyak dipengaruhi oleh komik-komik luar negeri seperti Flash Gordon, Rip Kirby, Prince Valiant, Tarzan, dan Superman. Misalnya komik Wiro Si Anak Rimba karya Kwik Ing Hoo yang mendapat inspirasi dari cerita Tarzan.

Memasuki tahun 50-an, ketika nasionalisme sedang tumbuh-mekar, para komikus membuat karya berlatar budaya lokal. Pilihannya jatuh pada wayang. Beberapa komikus bertema wayang adalah Ardisoma (Wajang Purwa), R.A. Kosasih (Mahabharata), Suherlan (Sang Hyang Djaja Rantunan), dan lain-lain. Ada juga komik humor yang mengambil tokoh Petruk dan Gareng. Karya Kosasih mengenai Mahabharata termasuk legendaris. Karyanya diakui mampu memandu pembaca untuk memahami epos yang mengisahkan pertikaian dua keluarga Pandawa dan Kurawa. Kosasih juga menciptakan hero bernama Sri Asih yang dipengaruhi dari komik Superman dan Siti Gahara yang terinspirasi kisah Seribu Satu Malam.

Pada era 60 dan 70-an, komik mengalami masa booming. Kisah dengan latar dunia persilatan menjadi pilihan utama sebagai pengaruh dari cerita-cerita Cina. Mereka antara lain Hans (Panji Tengkorak), Djair (Jaka Sembung), dan Ganes TH (Si Buta dari Goa Hantu, Si Djampang). Ada pula komikus yang melahirkan superhero semisal Godam karya Wid N.S., dan Gundala Putra Petir karya Hasmi. Komik-komik berdasarkan cerita pengarang H.C. Andersen juga banyak dibuat dan mendapat tempat tersendiri bagi publik pembaca terutama anak-anak. Begitu pula komik agamis yang “menggambarkan” surga dan neraka sangat populer dan digemari. Memasuki paruh pertengahan 80-an, golden age komik Indonesia mulai meredup. Secara perlahan komik asing mulai masuk dan mencapai puncaknya hingga sekarang.

Memasuki tahun 2000, sejumlah ‘pendekar’ komik mencoba bangkit kembali. Mereka memanfaatkan peluang yang diberikan oleh sejumlah penerbit seperti Elex Media Komputindo, Mizan, Studio Komik Bajing Loncat, Komik Karpet Biru, SP Komik, Mikon, dan lain-lain. Pengaruh komik Amerika dan Jepang tak bisa dipungkiri sangat kuat pada karya-karya komik. Keunggulannya adalah pada tema-tema yang lebih membumi. Nama-nama tokoh dan setting sejarah atau tempat yang mudah dikenal, dengan kualitas yang tidak kalah baik.

Di era medsos sekarang, komik juga tetap tampil. Misalnya produsen komik asal Prancis BDouin, menyebarkan serial Muslim Show yang sudah ada versi Indonesianya. Menyesuaikan ruang medsos yang terbatas, serial komik ini menyampaikan satu pesan khusus dalam setiap tampilannya. Pesan yang disampaikan kadang serius tetapi kerap juga tampil jenaka.

Komik tentu saja dapat pula digunakan untuk meneguhkan citra pesantren di tengah umat, menyebarkan pesan-pesan kedamaian Islam dan keluasan cakrawala kelimuan Islam. Umat perlu terus diingatkan pentingnya sanad keilmuan dan perlunya rujukan yang kuat dalam menyampaikan pendapat. Dengan demikian dapatlah dihindari kesemberonoan jari-jari dalam menekan huruf-huruf pada gadget, tak sembarangan copy-paste (copas) atau sekedar share sesuatu yang tak diteliti terlebih dahulu. Dengan kecermatan bermedsos inilah, wibawa tradisi akademik pesantren akan diakui kembali.

Komik untuk Pendidikan, DBdouin, Muslim Show, PWNU Jabar, Jawa Barat
Salah satu produksi DBdouin-MuslimShow, pesan tentang dua jenis anak, yang patuh dan yang tak patuh karena gadget.

Komik untuk Pendidikan

Komik juga dilirik sebagai media pendidikan. Misalnya komik yang mengandung materi pelajaran fisika untuk siswa SD. Karya yang diprakarsai Dr. Yohannes Surya ini dilatari kisah petualangan masa depan lengkap dengan karakter robot terbang dan kucing ajaib. Presiden Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) itu bekerjasama dengan perusahaan animasi dari Bandung, Megindo Tunggal Perkasa dan PT Saraswati Pariwara. Lokasi cerita dan penokohannya anak-anak Indonesia, berseragam SD hem putih celana atau rok warna merah, lengkap dengan logo SD berwarna coklat di saku baju. Materi ceritanya berisi pelajaran-pelajaran fisika, seperti bab berjudul “Archimedes”, “Sifat Air”, “Permukaan Air yang Tenang Selalu Datar”.

Dalam komik ini, dikisahkan petualangan anak kembar Archy & Meidy, dua siswa SD penggemar pelajaran Fisika. Dibantu Prof Yosu, teman ayah mereka, keduanya melaksanakan eksperimen-eksperimen fisika sederhana yang dilukiskan dalam gambaran komik. Eksperimen ini diharapkan merangsang pembacanya untuk melakukan yang sama, sehingga memotivasi kecintaan pada fisika. Dengan demikian, pelajaran fisika tidak lagi dianggap menakutkan, tetapi bisa dipelajari dengan lebih relaks dan selalu membuat penasaran.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga pernah memanfaatkan komik sebagai sarana kampanye perdamaian bagi anak-anak dan remaja. Sebab tak bisa dipungkiri, anak-anak dan remaja adalah kelompok masyarakat yang paling rawan dari tindakan kekerasan. Karya yang sudah diproduksi ialah komik berjudul Cinta itu Damai, Hancur itu Lebur karya Nugraha Watishta. Komik tersebut dibagikan ke sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) se-Indonesia, terutama di daerah konflik seperti Pontianak, Makassar, dan Jayapura. Komik ini membawa misi kepada anak dan remaja agar meninggalkan bentuk-bentuk kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Dengan membaca komik ini diharapkan pelajar sadar untuk tidak menjadikan kekerasan sebagai budaya bangsa. Sebaliknya, komik ini menjadi sarana pendidikan agar mereka memilih tindakan antikekerasan (non-violens) sebagai budaya bangsa ini.

Dalam kondisi ekonomi yang belum stabil seperti sekarang, seyogianya kita pandai memilih alternatif pendukung pendidikan anak. Komik boleh jadi salah satu pilihannya. Persoalannya kembali pada selektivitas orang tua. Tidak semua komik yang beredar layak dibaca anak, sebagaimana halnya tidak semua film anak di televisi layak ditonton. Intinya, memang kembali pada ada atau tidaknya perhatian orang tua pada pertumbuhan pendidikan anak. Sebagai sarana menumbuhkan dan melatih minat baca, komik bisa menjadi alternatif. Selain harganya cenderung lebih murah, anak juga dapat asyik menikmati gambar-gambarnya.

(Iip Yahya, dari berbagai sumber)

Komentari