Cep Herry Syarifuddin, Mengapa Saya Memilih NU, PCNU Bogor, PWNU Jabar, Jawa Barat
Cep Herry Syarifuddin, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrahim Mekarsari, Cileungsi, Bogor dan Pengurus Lembaga Dakwah NU Kabupaten Bogor.

Cep Herry Syarifuddin
Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrahim Mekarsari, Cileungsi, Bogor
Pengurus Lembaga Dakwah NU Kabupaten Bogor

Terus terang sebelum mengenal NU, saya lebih dulu mengenal dan mempelajari ajaran-ajaran Wahaby, Syi’ah, Ahmadiyah, Inkarussunnah, Islam kebatinan dan lain-lain, termasuk sejarah tokoh dan ajaran Muhammdiyah, Persatuan Islam, Masyumi, dan al-Irsyad.

Adapun NU dan Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) baru saya kenal saat menginjak tahun ketiga di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya (1991). Setelah membandingkannya dengan ajaran-ajaran yang sebelumnya saya pelajari, maka akhirnya saya kagum dan jatuh hati dengan NU berikut ajaran Aswajanya yang komplit. Sumber Aswaja An-Nahdliyyah tidak hanya Al-Qur’an dan hadits tapi juga ditambah ijma dan qiyas. Ajarannya sarat dengan cinta kasih, toleransi, kebijaksanaan, dan lentur alias moderat. Sungguh hal ini benar-benar mencerminkan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin.

Begitu juga dalam memahami dalil ayat maupun hadits/sunnah, NU sangat teliti dan hati-hati sekali, tidak semberono, asal dipahami oleh kemampuan akal yang terbatas. Semuanya dikupas dengan pendekatan disiplin keilmuan yang lengkap seperti ilmu tafsir, hadits, balaghah (sastra), nahwu, shorof (gramatikal bahasa Arab), sejarah (tarikh), ushul fiqh (teori hukum Islam), yang dibalut dengan pertimbangan falsafah hukum Islam dan maqashid as-Syar’iyyah (maksud ditetapkannya hukum Islam), sehingga didapatkan pemahaman yang utuh, komprehensif (luas), tidak tekstual atau kaku dalam memahami nash (al-Qur’an dan hadits).

Ditambah lagi ajaran syari’atnya sangat canggih (sophisticated) karena disertakan dengan ajaran ahlaq-tashawwufnya. Seseorang tidak hanya mengerjakan syari’at agama sekedar bungkusnya saja, namun dihayati pesan-pesan moral atau falsafah ibadahnya, serta diimplementasikan dalam kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Menegaskan pentingnya berakhlaq yang baik kepada Allah, diri sendiri, orang lain, dan semua makhluk Tuhan, seimbang lahir dan batin, demi meraih kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Selain konsep pemahaman Islam yang sangat baik tadi, kiprah NU dalam pendirian dan keberlangsungan Republik ini pun sangat besar sekali. Tak terbantahkan lagi, tercatat dan terekam dalam sejarah Nasional Indonesia. Fakta historis membuktikan bahwa tokoh NU yang diwakili oleh KH.Wahid Hasyim bersama tokoh Islam dan nasionalis lain (seperti Soekarno, Hatta, Moh Yamin, dan lain-lain) menjadi bagian dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sekaligus merumuskan Pancasila dan UUD 1945. Setelah itu dalam rangka mempertahankan tanah air, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, mencetuskan resolusi jihad melawan tentara sekutu yang bermaksud menjajah kembali bangsa Indonesia.

Di zaman orde lama, NU ikut menjadi penyeimbang ajaran Nasakom (Nasionalis Agama dan Komunia) yang digagas Soekarno, sehingga PKI tidak bisa leluasa mempengaruhi Soekarno untuk menyudutkan Islam. Termasuk juga memiliki andil besar menumpas pemberontakan G30S/PKI. Sementara pada zaman Orde Baru, NU diakui sebagai ormas Islam yang pertama kali menerima Pancasila sebagai asas tunggal dan falsafah bangsa Indonesia. Lalu keputusan untuk keluar dari kancah perpoltikan dan kembali ke Khittah NU 1926 sebagai organisasi kemasyarakatan, dipandang sebagai langkah cerdas para kiyai NU menyikapi realitas sosial dan perpolitikan di Nusantara. Selain itu pula para kyai NU di pedesaan telah ikut menyukseskan program-program pemerintah seperti KB (keluarga Berencana), transmigrasi, Posyandu, wajib belajar, dan lain sebagainya.

Keistimewaan NU lainnya adalah kendati selalu akrab dengan tradisi sarungan, ternyata memiliki konsep tajdid (modernisasi) yang bisa dibanggakan, melebihi pemikiran para pakar sosiologi sekalipun yaitu:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ وَالْٳِصْلَاحُ اِلَى مَا هُوَ الْأَصْلَحُ

“Melestarikan nilai-nilai lama yang baik, serta mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Dan selalu memperbaiki nilai-nilai tersebut kepada kondisi yang terbaik.”

Itulah hal-hal yang menyebabkan saya semakin cinta NU dan bertekad memperjuangkan kejayaan dan kebesaran NU serta membelanya dari berbagai serangan kritik dan tuduhan bid’ah, takfir (mengkafirkan), dan hal-hal negatif lainnya yang dilancarkan golongan Wahabiyyin serta ajaran-ajaran lain yang menyimpang dari Ahlussunnah wal jama’ah An-Nahdhiyyah (ditambahkan an-Nahdhiyyah dikarenakan hanya NU saja yang sejak awal telah menegaskan berpahaman Aswaja), sedangkan aliran lain awalnya tidak begitu. Jika sekarang mereka mengaku Aswaja, itu cuma mengaku-aku belaka.

Kendati demikian, tetap saja dalam hubungan sosial sebagai sesama manusia, kita harus selalu menjalin keakraban dengan mereka dalam pergaulan sehari-hari.

Komentari