Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin.
Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menekankan pentingnya penumbuhan karakter bagi anak didik di madrasah atau sekolah. Sebab itu menurutnya, guru harus mendidik dengan cinta, tidak dengan benci.

“Saya mengajak pada diri saya sendiri dan para guru agar menanamkan cinta pada diri kita. Hanya dengan cinta, kita bisa mendidik anak-anak kita, tidak dengan benci, tidak dengan murka, tidak dengan amarah, karena kita sedang mendidik,” ujar Menag dalam Puncak Hari Guru Nasional 2018 di Surabaya.

Sebab itu menurut Menag, pola pendidikan bisa diperluas ukuran-ukuran kebaikan dan kebajikan tidak hanya pada aspek kognitif atau pengetahuan saja dan keterampilan saja, tetapi juga sikap.

“Karena pada hakikatnya, agama adalah akhlak dan kebajikan bagi sesama,” terangnya.

Menag berharap, guru bisa memahami dan memperluas pemahaman tersebut. Sebab itu menurutnya, guru tidak hanya bertanya kepada anak didik, sudah shalat atau belum? Atau sudah membaca Al-Qur’an atau belum?

“Tetapi bertanyalah, Nak, kebajikan apa yang sudah kamu lakukan hari ini? Apakah kamu sudah menolong orang lain? Apakah kamu sudah membantu kakak atau adikmu?” ungkapnya.

Menag menerangkan, hal-hal demikian merupakan kebijakan riil yang sangat mendasar dan harus dididikan kepada anak-anak.

Apalagi menurut Menag, saat ini manusia telah hidup di dua dunia sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Dinamika dunia maya dapat berpengaruh pada tindakan dan perilaku manusia serta tata nilai yang dianut. Maka dari itu para pendidik dan tenaga kependidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Globalisasi tentu saja membawa pengaruh positif, namun di sisi lain juga membawa paham-paham yang tidak saja bertolak belakang dengan nilai-nilai keindonesiaan, tetapi juga nilai agama yang dianut masyarakat Indonesia.

Selain perkembangan globalisasi, Menag juga menekankan tantangan disrupsi teknologi. yang ditandai munculnya berbagai inovasi perangkat yang berbasis artificial intelligence (kecerdasan buatan). Saat ini anak didik kita tak bisa dilepaskan dari perangkat digital virtual dari hidupnya.

Dalam dunia pendidikan era ini bisa positif, tetapi hal itu dapat menyebabkan dehumanisasi atau ketercerabutan sisi kemanusiaan dari diri bangsa. “Kita sering mengalami, berkumpul dengan keluarga tetapi tidak saling bicara. Itu bukti bahwa dehumanisasi sudah mempengaruhi kehidupan kita,” katanya.

Dengan fenomena ini, kata Menag, pendidik mendapat tantangan yang amat serius. Maka dari itu para guru dituntut lebih memberikan perhatian terhadap persoalan ini. Guru harus dapat meneguhkan posisi anak didik agar tetap berada dalam jatidiri bangsa Indonesia.

(Fathoni/NU Online)

Komentari