Istighotsah Kebangsaan dalam rngka Harlah NU ke-96 di Mesjid PWNU Jabar.
Istighotsah Kebangsaan dalam rngka Harlah NU ke-96 di Mesjid PWNU Jabar.

Sholawat Asygil yang dilantunkan ratusan jamaah terdengar syahdu dan membuat sejumlah orang merinding. Sholawat Asygil menjadi pembuka dan penutup istighotsah dalam rangka peringatan Hari Lahir NU ke-96 menurut hitungan tahun hijriyah. Kegiatan dilaksanakan di Mesjid PWNU Jabar, 16 Rajab 1344 – 1440 Hijriyah, Sabtu, 23 Maret 2019.

Istighotsah ini dipimpin oleh KH Dr. Mujiyo, Dr. Ramdan Fawzi, M.Ag, dan Ustadz Nur Zabidin, dihadiri oleh 400 jamaah Majelis Ta’lim An-Nahdliyyah, siswa-siswi MA Nurul Iman dan SMA Ma’arif NU.

“Saya merinding saat membaca Sholawat Asygil tadi,” ujar Dr. Ramdan Fawzi yang memimpin istighotsah. “Semoga dengan sholawat ini kita terlepas dari efek negatif hoax dan upaya-upaya kelompok makar,” lanjutnya.

Jika dibaca dengan memahami artinya, sholawat ini memang bisa dirasakan sebagai ungkapan keprihatinan yang luar biasa atas sebaran fitnah yang dilontarkan oleh orang-orang hasud. Dalam keprihatinan itulah jamaah nahdliyyin berdoa, memohon pertolongan kepada Allah agar diselamatkan dari berbagai fitnah itu.

“Sholawat Asygil ini muncul setelah wafatnya Sayyidina Husein,” jelas KH. Dr. Mujiyo, Wakil Katib Syuriyah dalam sambutannya atas nama PWNU Jabar. “Di Indonesia, seingat saya, sholawat ini dibacakan di masjid-mesjid pada tahun 1971,” lanjutnya.

Istighotsah ini diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Nur Zabidin, imam rawatib mesjid PWNU Jabar. Seperti anjuran PBNU, istighotsah berlangsung dari jam 06.00 hingga 08.00 WIB.

Komentari