Ketua Umum PBNU KH Dr Said Aqil Siroj, saat memberikan tausiyah dalam puncak Hari Santri Nasional 2018 Kabupaten Bekasi.
Ketua Umum PBNU KH Dr Said Aqil Siroj, saat memberikan tausiyah dalam puncak Hari Santri Nasional 2018 Kabupaten Bekasi.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan bahwa agama Islam membawa tiga hal. Salah satunya adalah syari’at. Sedangkan syari’at Islam yang dianut oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) mengikuti Imam Syafi’i.

“Imam Syafi’i itu muridnya Imam Malik, Imam Malik muridnya Imam Robiah, Imam Robiah muridnya Imam Khorijah. Imam Khorijah adalah putra dari Sahabat Zayd bin Tsabit, Ketua Tim Penulis Al-Qur’an,” ungkapnya dalam perayaan puncak Hari Santri 2018 Kabupaten Bekasi, di OSO Sport Centre, Grand Wisata, Tambun Selatan, Ahad (4/11).

Menurut Imam Syafi’i, lanjut Kiai Said, memahami syari’at Islam harus dengan Al-Qur’an, Hadits, dan akal. “Akal ada dua, pertama akal kolektif, yakni yang disebut ijma’ atau konsensus para ulama. Kedua akal sendiri, yaitu qiyas atau analogi,” jelas Kiai Said.

Perintah shalat, misalnya. Di dalam Al-Qur’an, perintah shalat dijelaskan sebanyak 62 kali. Tapi tidak ada penjelasan mengenai nama dan jumlah waktu atau rakaatnya.

“Hadits menjelaskan soal itu, tapi, hadits pun tidak menjelaskan soal rukun shalat. Begitu pula soal haji,  zakat, dan lain sebagainya. Begitu juga syarat-syaratnya. Itu semua dari ijma’ ulama. Imam madzhab empat sepakat rukun salat ada 17,” terang Kiai Said.

Jadi, lanjutnya, kalau ada orang yang hanya mengikuti Al-Qur’an dan Hadits tapi tidak mengikuti ulama, maka tidak akan bisa shalat. “Kita bisa shalat berkat para ulama,” kata Kiai Said.

Ia mengungkapkan bahwa ada orang-orang yang senantiasa berpaku pada hadits tapi tidak merujuk Imam Syafi’I, itu adalah keliru. “Imam Bukhori adalah muridnya Imam Syafi’i. Imam Bukhori wafat tahun 256 H, sedangkan Imam Syafi’i wafat tahun 204 H,” jelasnya.

Selain itu, para ulama juga menggunakan qiyas atau analogi. Salah satu metodologi berdasarkan pada fakta, misalnya mengenai hukum dari narkoba.

“(Penyalahgunaan) narkoba itu memabukkan dan dapat menghilangkan akal, sama dengan khamr. Dalam Qur’an, disebutkan bahwa khamr itu haram, jadi setiap yang memabukkan itu masuk kategori khamr,” tambah Kiai Said.

Kemudian ada pula Qiyas Burhani. Misalnya, memukul orang tua dan anak yatim tidak ada larangannya di dalam Al-Qur’an. Penjelasan yang ada di dalam Al-Qur’an itu hanya mengatakan bersuaralah yang halus kepada orang tua dan muliakan anak yatim.

“Jadi, berkata kasar atau membentak saja tidak diperkenankan apalagi memukul,” katanya.

Sementara itu Allah dalam Al-Qur’an juga berfirman, wa laa taqrabuzzina. Artinya, dilarang mendekati zina. “Mendekati zina saja dilarang, apalagi berbuat zina. Maka kalau seseorang hanya membacanya secara tekstual, ya akan salah kaprah. Oleh karena itu, orang NU tidak memahami Islam secara tekstual saja,” pungkas Kiai Said.

(Aru Elgete/Muiz/NU Online)

 

Komentari