KH Dr Said Aqil Siroj saat berziarah ke Makam Bung Karno.
KH Dr Said Aqil Siroj saat berziarah ke Makam Bung Karno.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengungkapkan dalam sejarah Indonesia, terjadi penyatuan antara elemen santri dan nasionalis. Oleh karenanya, santri-nasionalis bukan jargon politik semata.

“Berkali-kali kaum santri dan nasionalis menyelamatkan Indonesia dari perpecahan,” katanya saat menghadiri Haul Presiden pertama Soekarno (Bung Karno) ke-48 di Kota Blitar, Jawa Timur, Rabu (20/6) malam.

Kiai Said mencontohkan kerja sama antara Bung Karno dan pendiri NU, KH Hasyim Asyari di masa pergerakan kemerdekaan. Bung Karno bertanya tentang hukum membela Tanah Air, dan dijawab KH Hasyim secara tegas sebagai jihad fisabilillah.

“Kerja sama Bung Karno dan Mbah Hasyim menunjukkan kepada kita semua bahwa menjadi Muslim juga bisa menjadi Indonesia pada saat yang bersamaan,” ujarnya.

Nasionalisme Bung Karno juga lahir dari rahim keimanan. Itulah yang dalam bahasa Mbah Hasyim disebut sebagai hubbul wathan minal iman; cinta tanah air sebagian dari iman. “Agama dan nasionalisme bukan dua kutub berseberangan, keduanya saling menguatkan,” beber Kiai Said.

Kiai Said juga menjelaskan, kedatangannya pada haul Bung Karno dilakukan secara sengaja, karena hal itu bagian dari ibadah dan rasa cinta kepada tanah air Indonesia. Ia meminta kepada seluruh elemen masyarakat terkhusus Nadliyin untuk mengikuti jiwa Soekarno dalam kecintaan kepada Indonesia.

“Bung Karno mencintai Indonesia dengan pikiran dan tindakan yang konsisten dan sepenuh hati,” kata Kiai Said yang pada kesempatan tersebut memimpin tahlil dan doa untuk Bung Karno.

Kiai Said menambahkan, momen yang bisa dipetik pada haul Bung Karno sangat banyak. Di era media sosial yang dipenuhi dengan kebencian, permusuhan, dan adu domba, pemikiran dan tindakan Bung Karno sangat dibutuhkan. “Yaitu pemikiran yang tulus mencintai Indonesia, tindakan yang membela keutuhan bangsa apa pun resikonya,” papar pengasuh Pesantren Luhur Atsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Bagi Kiai Said, Indonesia beruntung memilik tokoh sekelas Bung Karno. Keberadaan tokoh asli Jawa Timur ini membuat Indonesia terhindar dari perpecahan yang justru terjadi di negara-negara di Timur Tengah. “Bung Karno ini hebat karena mampu menjahit nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas,” ungkap Kiai Said.

Rasa kebangsaan dan ketaatan kepada agama seperti yang dimiliki Bung Karno harus diteruskan oleh generasi masa kini dan yang akan datang. “Tugas kita tinggal meneruskan, membangun, mengisi kemerdekaan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PBNU H Saifullah Yusuf mengatakan Jawa Timur adalah pondasi nasionalis dan Islam. Dari provinsi ini, lahir seorang tokoh besar dan Bapak Bangsa yakni Bung Karno, Putra Sang Fajar. “Dari Jatim pula tumbuh kesadaran pergerakan umat Islam, antara lain tercermin dari terbitnya Resolusi Jihad yang menggelorakan semangat melawan penjajahan,” ungkap Gus Ipul.

Menurutnya dua kekuatan itulah yang mesti terus dijalin kebersamaannya demi utuhnya bangsa Indonesia. “Dengan keutuhan bangsa, kita bisa membangun dan menyejahterakan rakyat dalam bangunan Indonesia Raya,” pungkas Gus Ipul.

Haul Bung Karno diisi dengan tahlil dan doa, serta tabur bunga di makam Bung Karno. Puluhan kiai sepuh juga terlihat dalam rangkaian haul, di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Ploso, Kediri KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Jazuli; Pengasuh Pesantren Al Amin Kediri, KH Anwar Iskandar; Wakil Rais Aam PBNU, KH Miftachul Ahyar; serta sejumlah kiai lainnya.

Haul Bung Karno mengacu pada tanggal kewafatannya yakni 21 Juni 1970. Soekarno lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta pada umur 69 tahun. Sukarno menjabat kursi Presiden pada periode 1945–1967. Bersama Mohammad Hatta, ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia, yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno pula yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

(Syarif Rahman/Kendi Setiawan/NU Online)

Komentari