KH Masdar Farid Mas'udi, PBNU, PWNU Jabar
Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi. Foto: NU Online.

Lailatul Ijtima perdana PWNU yang diselenggarakan atas kerjasama tiga lembaga (LD PWNU, LTM NU, JQH NU), yang menampilkan narasumber KH Masdar Farid Mas’udi, Jumat, 2 Maret 2018, masih meninggalkan wacana yang terus diperbincangkan. Rais Syuriyah PBNU itu berhasil memancing rasa penasaran para pendengar yang berasal dari berbagai lembaga dan banom PWNU Jabar itu.

“Kembali ke Khitta 1926 itu seharusnya tak sekedar meninggalkan politik praktis, tetapi juga kembali ke Nahdlatut Tujjar, aktivitas para ulama sebelum mendirikan NU, yakni berbisnis,” ujar Kiai Masdar.

NU menurutnya harus masuk ke wilayah ekonomi umat.  Kalau mau dihargai orang, NU harus berposisi tangan di atas. Dengan serius menggarap potensi ekonomi jamaah inilah wacana kemandirian NU dapat dicapai.

 

Ekonomi Berbasis Masjid

Kiai Masdar menawarkan konsep ekonomi berbasis masjid. Takmir masjid diharapkan berinisiatif untuk mengelola warung atau koperasi yang diawali dengan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok (Sembako) para jamaahnya. Dari sana kemudian bisa berkembang sesuai permintaan dari jamaah.

“Dengan cara ini akan ada perputaran uang di antara jamaah melalui koperasi atau warung masjid ini,” jelas Kiai Masdar.

Ulama yang menggairahkan kembali bahtsul masail NU di tahun 1990-an itu mengajukan rujukan hadits Nabi Muhammad yang menjelaskan bahwa 90 % rizki Allah itu diperoleh melalui berdagang.

Pertanian itu menurutnya, tingkat kehalalannya tinggi tetapi hasil yang diperolehnya sedikit. Sementara berdagang itu dekat dengan tipu-menipu tetapi hasilnya maksimal. Boleh tetap bertani tetapi penjualan hasilnya harus dengan pendekatan bisnis. Misalnya, seperti singkong,  tidak menjual mentahan tetapi diolah terlebih dahulu, umpamanya jadi keripik, agar hasilnya jauh lebih meningkat.

Warga NU bisa berdagang dan hasilnya tetap halal, seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad yang berniaga ekspor/impor antara Makkah dan Syam dengan jujur sehingga dijuluki Al-Amin.

“Sebulan lagi saya akan telepon, apakah konsep ini sudah bisa diterapkan di Masjid PWNU Jabar ini,” kata Kiai Masdar.

(Iip Yahya)

Komentari