KH Ma'ruf Amin, PBNU, PWNU Jabar
KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum MUI Pusat dan Rais Aam PBNU.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Ma’ruf Amin menceritakan, beberapa waktu lalu ia menemui rombongan dari Afghanistan, High Peace Council. Pihak Afghanistan terkejut dengan Indonesia karena bisa utuh dan bersatu meski ada perbedaan yang banyak sekali di masyarakat Indonesia, mulai dari dari bahasa hingga Agama.

Menjawab hal itu, Kiai Ma’ruf membeberkan beberapa resep mengapa Indonesia tetap utuh dan masyarakatnya rukun.  Menurut Kiai Ma’ruf, Indonesia bisa tetap ada dan utuh karena masyarakatnya memiliki kemauan untuk tetap mempertahankan adanya Indonesia.

“Kita juga punya kesepakatan. Kemauan kemudian kesepakatan,” kata Kiai Ma’ruf dalam acara Pembukaan Rapat Kerja Nasional MUI di Bogor, Selasa (28/11/17).

 

KH Ma'rug Amin, Ketua Umum MUI Pusat, rais Aam PBNU, Raker MUI, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ketua Umum MUI Pusat KH Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja MUI di Bogor, 28/11/2017.

 

Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kesepakatan bersama yang telah dibuat oleh para pendiri bangsa Indonesia ini. Lalu kemudian kesepakatan tersebut dijaga dan dirawat oleh generasi selanjutnya.

“Kita juga bisa menjaga kesepakatan itu. Ini yang penting bagaimana menjaga kesepakatan itu,” lanjut Rais ‘Aam PBNU itu.

Kiai Ma’ruf juga menilai, antar pemeluk agama di Indonesia bisa membuat kesepakatan bersama untuk hidup rukun dan damai. Di Indonesia, ada aturan-aturan terkait dengan bagaimana menyiarkan agama, membangun rumah ibadah, dan lain sebagainya. Sehingga konflik antar umat beragama bisa dicegah.

Indonesia juga memiliki lembaga-lembaga yang bisa mengawal kerukunan antar umat beragama seperti Kementerian Agama, ormas antar umat beragama, ormas-ormas Islam, majelis agama, dan lain sebagainya.

Islam Wasathiyah

Pada bagian lain KH Ma’ruf Amin mengatakan, pemahaman Islam wasathiyah atau moderat harus terus-menerus disuarakan di tengah masyarakat mengingat paham-paham ekstrim kanan atau kiri juga terus berkembang. Islam moderat yang dikembangkan bukan hanya menyangkut soal pemikiran, tetapi juga gerakan.

“Pemikiran yang ingin kita bawakan adalah pemikiran yang moderat,” paparnya.

Rais ‘Aam PBNU itu menerangkan, ada kelompok yang berpikiran sangat tekstual dan ada juga kelompok yang memiliki pemikiran sangat liberal. Keduanya sangat ekstrim. Yang satu menganggap tidak ada perubahan-perubahan dalam Islam, sementara yang satunya lagi menganggap semua di dalam Islam boleh berubah.

“(Mereka kelompok liberal menganggap) Agama ini seperti adonan. Bisa dibuat apa saja. Bisa berubah setiap hari,” ucapnya.

Kiai Ma’ruf menjelaskan, cara berpikir Islam moderat itu ada tiga yaitu tawassuthiyyan (moderat), tathowwuriyyan (dinamis), dan manhajiyyan (menggunakan metodologi yang jelas).

Menurut Kiai Ma’ruf, pada dasarnya Islam itu adalah agama yang sangat toleran. Hal itu tercermin dalam Al-Qur’an Surat Al Kafirun ayat enam. Tidak ada paksaan di dalam memeluk agama Islam.

“Teologi Islam itu toleran,” tegasnya.

Ia meminta agar Islam moderat Indonesia dikembangkan ke seluruh dunia, terutama dunia Islam. Mereka bisa belajar dari Indonesia tentang bagaimana Islam bisa berinteraksi dengan yang demokrasi dan modernitas dan juga umat Islam berhubungan dengan umat agama lainnya.

(Muchlishon Rochmat/NU Online)

Komentari