KH As'ad Said Ali, PBNU, PWNU Jabar, Jawa Barat
KH As'ad Said Ali saat memberikan paparan tentang Pemetaan Ideologi Radikal di Indonesia, 28 November 2017.

Pengurus Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan hendaknya dapat menjaga jarak dengan penguasa. Prinsip tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah, harus dipegang kuat. Untuk mencapai hal itu NU harus mandiri sehingga disegani dan mempunyai marwah. Demikian antara lain paparan yang disampaikan oleh Mustasyar PBNU KH Dr As’ad Said Ali dalam Halaqoh Nasional Penguatan Ideologi Aswaja di Lingkungan Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Selasa, 28 November 2017.

“Saya mendukung sikap Ketua PWNU Jabar, Gus Hasan, yang menjaga jarak dengan penguasa,” ujar Kiai As’ad. “Dengan sikap tersebut terbukti PWNU Jabar jauh lebih diperhitungkan oleh pihak penguasa.”

Halaqoh diikuti oleh Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU se-Jawa Barat dan perwakilan lembaga di lingkungan PWNU Jabar. Halaqoh ini, menurut Ketua Pengarah KH Hadi Hadiatullah, MA., diadakan sebagai upaya mengembangkan nilai-nilai Aswaja di kalangan Nahdlatul Ulama Jawa Barat. Juga untuk merawat basis pengembangan Aswaja, khususnya di Pesantren dan majelis taklim yag diasuh oleh para kiai NU.

“Halaqoh juga ingin memberi pengetahuan terbaru tentang pemetaan pemikiran kelompok kelompok Islam yang berkembang saat ini dan meluruskan faham serta ideologi yang dianggap bertentangan dengan ideology negara,” papar Kiai Hadi.

KH As'ad Said Ali, Penguatan Ideologi Aswaja, PWNU Jabar, Jawa Barat
Halaqoh Penguatan Ideologi Aswaja diikuti Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU se-Jawa Barat.

Pada bagian lain mantan Wakil Ketua Umum PBNU itu menjelaskan pentingnya pengurus NU memahami kekuatan dan kelemahan “lawan” dengan cara pemetaan (mapping). Mengutip pendapat KH Idham Chalid, Kiai As’ad mengatakan, “Kenali, siapa kita? Siapa lawan kita? Bagaimana cara mengatasi lawan kita?”

Terkait kelompok fundamentalis agama yang kerap membuat resah publik, Kiai As’ad mengingatkan bahwa kaum fundamentalis itu ada di setiap agama dan semuanya masuk ke Indonesia. Sementara untuk kalangan Islam, kelompok fundamentalis terdiri dari tsauriyah (jihadi) seperti Al-Qaeda dan ISIS serta tadrijiyyah (Islam politik) seperti Ikhwanul Muslimin dan HTI.

Sementara soal kelompok Salafi, Mantan Waka BIN ini memaparkan adanya tiga pihak yang berhadapan. Pertama, salafi sururi yang berpolitik sehingga diusir dari Arab Saudi dan mengembangkan gerakannya di Inggris. Kedua, salafi tarbawi yang lebih mengedepankan pendidikan dan menjauhi politik. Ketiga, salafi jihadi yang melahirkan ISIS.

“Jadi kelompok salafi ini tidak tunggal, di antara mereka juga ada yang moderat. Dengan kelompok yang moderat ini, kita masih bisa berdialog,” uajr Kiai As’ad.

(Iip Yahya)

Komentari