KH Said Aqil Siraj, Rakernas LP Ma'arif NU, PBNU, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ketua Umum PBNU KH Dr Said Aqil Siraj, MA., saat memberikan tausiyah dalam Rakernas LP Ma'arif NU di Bandung. Foto: Ahmed Rijal

Pada pembukaan Rakernas LP Ma’arif NU, Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj selain membuka secara resmi juga menyampaikan tausiyah di depan peserta Rakernas, bertempat di Bandung, Selasa (27/2/2018).


Dalam ceramahnya Kiai Said Aqil mengangkat tema yang diangkat Ma’arif dalam acara Rakernas, menurutnya sangat mentereng dengan berharap mudah-mudahan LP Ma’arif NU bertambah sukses.


Dalam orasinya Kiai asal Kempek Cirebon itu menyatakan kebanggaannya terhadap pesantren.

“Kita harus bangga dengan pesantren karena pesantren memiliki sisi ilmu pengetahuan yang tinggi,” ujarnya.

Gus Hasan, Rakernas LP Ma'arif NU, PBNU, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ketua PWNU Jabar KH Hasan Nuri Hidayatullah ikut menghadiri Pembukaan Rakernas LP Ma’arif NU di Bandung.


Menurut Kiai Said, tokoh-tokoh nasional yang dari pesantren cukup banyak, dia mencontohkan seperti KH Hasyim Asy’Ari, KH A Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang mempunyai jasa besar untuk bangsa ini.


Gus Dur, katanya, berjasa dalam menjaga disintegrasi bangsa dengan berkeliling ke Amerika mengatakan jika Papua ingin merdeka jangan didukung. Begitu pula ketika ke Timur Tengah mengatakan jika Aceh ingin merdeka jangan didukung.


Inilah lobi-lobi yang dilakukan oleh Gus Dur untuk menyatukan bangsa ini agar tidak terpecah,” tandas Kiai Said.


Karena itu, tambah Kang Said, kita harus bangga dengan pesantren karena pesantren memiliki khazanah keilmuan yang tidak ada di luarnya, yakni manhaj ta’lim yakni pelajaran dan ilmu pengetahuan dari kyai ke santri. Misalnya memaknai arti jihad sebagai; ajakan iman kepada Tuhan, menjalankan perintah agama, angkat senjata, memberi perlindungan kepada seluruh warga negara yang baik muslim atau bukan muslim, cukup sandang-pangan, dan tersedianya tempat tinggal.


Dalam dunia pesantren, ungkap Kiai Said, diajarkan tentang tadris, santri dibekali skill dan kyai memberi contoh. Lalu ta’dib (disiplin). Kemudian tarbiyah. Allah itu rabbul alamin. Kyai itu guru atau murabbi yang menyempurnakan atau menindaklanjuti ciptaan Allah. Terkait tarbiyah ini, yang penting adalah tarbiyah ruhaniyah (spiritual).

(Wago/Jamaludin/LP Ma’arif)

Komentari