Ilustrasi Idul Adha. Dok. sayidiy.net
Ilustrasi Idul Adha. Dok. sayidiy.net

Gema takbir berkumandang. Suasana dingin pagi hari, Rabu, 22/08/2018, mengiringi pelaksanaan Salat Idul Adha di Masjid Al-Edroes di bawah asuhan Pengurus Cabang (PC) Rijalul Ansor Kota Banjar.

Khutbah Id disampaikan KH Maskur Notonegoro. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan tentang tiga pelajaran utama dalam sejarah Hari Raya Kurban.

“Kita dapat ambil tiga pelajaran utama dalam sejarah Hari Raya Iduladha. Pertama, totalitas kepatuhan seorang hamba kepada Allah. Kedua, adalah tentang kemuliaan manusia. Ketiga, tentang hakikat pengorbanan,” ujar pengurus Rijalul Ansor Kota Banjar ini.

Nabi Ibrahim sebagai Kholilullah (kekasih Allah) mendapat ujian berat saat kebahagiaannya sedang meluap, karena kehadiran sang buah hati. Ujian itu datang berupa perintah untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail. Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Beliau membuktikan sanggup mengalahkan egonya untuk mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, beliau menapaki jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan diri.

Dalam sejarah kurban itu, seorang hamba diingatkan agar tidak terlalu menganggap mahal sesuatu hal apabila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan.  Di sisi lain kita dianjurkan untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia.

Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, dan waktu. Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran manusia sebagai makhluk sosial. Maka, seseorang perlu “menyembelih” ego kebinatangan dalam dirinya untuk menggapai kedekatan kepada Allah.

Pada bagian akhir Kiai Maskur menegaskan bahwa esensi kurban adalah solidaritas sesama dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah.

(Ahmad Fauzi/Kota Banjar)

Komentari