Gus Hasan, PWNU Jabar, Jawa Barat
KH Hasan Nuri Hidayatullah, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat.

Pengasuh Pesantren Asshiddiqiyyah Karawang

Mengapa orang yang akan wafat harus mengedepankan roja’ (penuh harap) dari pada khouf (rasa takut)? Seseorang harus mengedepankan roja agar kematiannya berada dalam keadaan berbaik sangka (husnuzzhan) kepada Allah Swt.

Berbaik sangka kepada Allah dan makhluk-Nya merupakan dua kebaikan yang paling utama. Kita dianjurkan untuk berbaik sangka sekalipun itu salah. Sebaliknya menjadi kerugian bagi seseorang yang berburuk sangka (su’uzzhan) sekalipun itu benar atau nyata.

Ulama terdahulu sangat menganjurkan untuk berbaik sangka bahkan terhadap hewan. Dikisahkan oleh Syaik Baijuri, ada seekor kucing yang memakan tikus, lalu ia menghilang dari pandangan mata. Tak lama kemudian kucing itu datang lagi dan minum dari ember yang akan dipakai untuk berwudlu. Bagaimanakah hukum air tersebut? Hukum airnya tetap suci, karena kita dianjurkan untuk berbaik sangka bahwa saat kucing itu menghilang ia telah membersihkan mulutnya.

Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallhu wajhah adalah seorang sahabat yang sangat kuat menjaga sikap husnuzzhan-nya sekalipun terhadap orang yang dikenal buruk perangainya. Beliau selalu mengemukakan kemungkinan-kemungkinan baik bagi orang tersebut hingga 70 kemungkinan. Dikisahkan ada seseorang yang dikabarkan keluar dari tempat hiburan. Sahabat Ali tidak langsung menyangka bahwa orang tersebut berperilaku buruk. Sahabat Ali beprasangka baik bahwa mungkin saja saat memasuki tempat hiburan itu orang tersebut menutup matanya sehingga tidak melihat apapun.

(Khoirul Imam dan Iin Mustainnah)

Komentari