KH Amin BAejuri Asnaf, Ketua PW LDNU Jabar.
KH Amin BAejuri Asnaf, Ketua PW LDNU Jabar.

Manusia adalah makhluk yang lengkap dan sempurna memiliki fitrah suci dan harmonis, hal ini harus tetap dijaga dan disiplin melakukan pengabdian secara total kepada Allah Robbul ’izzati dan mensyukuri seluruh nikmat-Nya. Seluruh umat muslim di penjuru dunia saat ini sedang bergembira seusai menjalankan ibadah shalat idul adha di tanah air masing-masing.

Idul Adha adalah satu ritualitas agama yang dimensi sosialnya sangat tinggi. Seorang muslim merasakan dirinya menghamba hanya kepada Allah Swt., dan mampu meningkatkan kebersamaan dengan sesamanya. Ia akan mengatakan: “Sesungguhnya salatku, ibadahku (perjuanganku), hidup dan matiku, hanya untuk dan karena Allah.”

Setelah melaksanakan ibadah ia akan terus berusaha memaknai dan mengaktualisasikan amanah sucinya dalam kecintaan, kepedulian dan kehidupan bersama sebagai bukti nyata kesalehan sosial. Walaupun ibadah Iedul Adha ini hanya dilakukan sekali dalam setahun, namun semangat dan nilai-nilainya tetap dipelihara. Sikap bertauhid beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt dalam situasi dan kondisi apapun seharusnya dipelihara dengan mendayagunakan seluruh potensi diri dalam menunaikan ibadah baik mahdhah (ritual) maupun ghoiru mahdhoh (sosial) secara sempurna. Jika seseorang mampu menjaga hubungan baiknya dengan Allah dan juga dengan sesama manusia, maka akan terkikis sifat sifat negatif seperti permusuhan, ketegangan, kesenjangan, bullying (fitnah), caci maki dan kezhaliman lainnya― baik dalam kehidupan peribadi, keluarga, rmasyarakat, organisasi, politik, berbangsa dan bernegara. Dengan Iedul Adha juga akan mendidik setiap individu muslim untuk memaknai bahwa ibadah yang dilakukan hanya kepada Allah SWT haruslah disertai dengan sikap ikhlash, sabar, istiqomah, tawakkal dan mau berkorban.

Disaat yang sama bahwa saudara kita yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji ternyata semua proses manasiknya-pun memiliki filosofi yang sangat dalam untuk kita teladani. Haji merupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan lambang. Oleh karena itu, ibadah haji dilaksanakan harus memahami dan mengerti makna yang tersimpan didalamnya. Keteladanan atas ibadah haji dapat di terapkan baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pulang berada dalam kehidupan berinteraksi dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebagian dari umat muslimin itu, saat ini sedang menunaikan rukun Islam yang ke lima, melaksanakan manasik haji, dengan tujuan, visi dan misi yang sama, walaupun etnik, suku, bahasa dan bangsa mereka berbeda, menunaikan ibadah haji di tanah suci dengan satu keyakinan ibadah secara total dan memohon ampun kepada Dzat Allah Swt. Mereka mengumandangkan talbiyah, takbir, tahlil, tasbih, tahmid, dan shalawat dengan penuh kepasrahan dan ikhlash, penuh keyakinan dan harapan tertuju kepada Allah Rabbul-A’laa, mereka berbalut dengan pakaian ikhlas, satu warna mengingatkan kita akan hari mahsyar nanti. Mereka hadir bersatu padu dengan langkah dan gerak serta niat yang sama untuk memenuhi panggilan Allah ‘Azza wa Jalla.

Ibadah aji dimulai dengan niat yang dibarengi dengan menanggalkan pakaian sehari-hari untuk digantikan dengan dua helai kain putih yang disebut dengan ihram. Di balik keseragaman tersebut, dalam proses bertauhid dan membangun kesalihan sosial, tersimpan beragam makna;

Pertama, bahwa pakaian atau seragam yang selama ini kita pakai sehari-hari menunjukkan derajat dan status sosial manusia. Oleh karena itu, ketika seorang manusia telah berniat untuk haji dan beribadah serta berniat menghadap-Nya maka segeralah tanggalkan pakaian itu dan gantilah dengan busana ihram yang serba putih, karena manusia di hadapan Allah sejatinya sama.

Kedua, pakaian itu tidak hanya apa yang kita pakai namun juga identitas yang menyelimuti diri manusia hendaknya segera luluhkan pakaian status duniawi ketika menghadap-Nya. Allah tidak akan pernah membedakan antara pejabat dan rakyat, antar penguasa dan hamba, antara pedagang dan nelayan antara aghniya dan dhu’afa semua itu dimata Allah SWT adalah sama. Seperti putihnya seragam yang membalut raga. Rasulullah SAW bersabda;

 “Orang-orang Islam itu satu sama lain bersaudara, tidak ada yang lebih utama seorangpun dari seorang yang lain, kecuali karena taqwanya (HR. Tabhrani)

Ketiga, pakaian itu adalah sifat manusia. Ketika seorang manusia telah berniat menghadap Allah Sang Maha Kuasa, hendaklah ia mencopot segala identitasnya ganti dengan pakaian ikhlas, shabar, tawakkal, khusu’ dan khudur menyatu dengan dzat, sifat dan asma Allah.

Keempat, pakaian itu mengingatkan manusia akan ke-tidak-berdayaannya. Nanti ketika menghadap Allah SWT manusia tidak membawa apa-apa kecuali kain putih yang menemaninya. Sebagai pertanda bahwa sebaiknya manusia hidup dengan sederhana, karena semua akan ditinggalkannya.

Selanjutnya thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah lambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah kekuatan dan kehebatan manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran energi ke-Ilahi-an yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu, tidak ada lagi hal penghubung antara manusia dan Sang Khaliq karena keduanya telah menyatu.

Sa’i berlari kecil dari Shofa ke Marwah. Ini merupakan rangkaian setelah thowaf yang dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail ditinggal oleh Nabi Ibrahim as. Maka ia pun harus berjuang mempertahankan hidupnya dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwah. Jika thowaf menggambarkan hubungan dan kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i menunjukkan bahwa kehidupan haruslah dijalani sesuai dengan hukum kemanusiaan, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan sesama. Maka kehidupan ini haruslah menyeimbangkan antara ke-Ilahiyahan dan ke-Insaniyahan.

Selain itu simbol dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan Ibu Hajar. Dengan ini Allah SWT membuktikan bahwa seorang hamba dapat dimuliakannya dengan memposisikan kuburnya di samping Ka’bah, karena ketaqwaannya.

Sedangkan padang Arafah sebagai tempat para dhuyuufurrohmaan yang sedang berhaji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar untuk menempa diri hingga ma’rifat (mengenal) siapa jati dirinya sebagai manusia. Arafah adalah laboratorium terbuka yang berfungsi untuk introspeksi diri, siapa, dari mana, untuk apa dan mau kemana sosok diri itu dan kembali ke siapa nantinya. Dinamakan Arafah yang mempunyai satu asal kata yang sama dengan ma’rifat yaitu ‘arofa, mengetuhi dan mengerti hakikat diri. Diharapkan setelah menyatu megetahui dan menyadari jiwa di padang arafah jiwa seseorang bisa menjadi lebih arif (bijaksana) dalam mengarungi kehidupan dan mempertimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat seperti yang disimbolkan dalam thowaf dan sa’i. Dari Arafah menuju Muzdalifah guna mempersiapkan diri dan mempersenjatainya melawan setan yang akan dihadapi nanti di Mina. Manusia haruslah selalu waspada bahwa setan ada dimana-mana.

Dengan demikian, Idul Adha memberi kita beberapa teladan untuk direnungkan:

  1. Proses perjuangan pencarian untuk bertauhid yang dilakukan Nabi Ibrahim as sangatlah berat. Nabi Ibrahim sebagai khalilullah (kekasih Allah) berhasil melampaui cobaan itu sebagai bukti bertauhid kepada Allah Rabbul ‘Alamin, Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan hamba-Nya baik ketika terpejam maupun terjaga, baik saat sempit maupun lapang, baik saat sakit maupun sehat, baik saat terang-terangan maupun sembunyi. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan oleh Nabi Ibrahim as harus selalu dikenang oleh umat beragama. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih Ismail sebagai anak tercinta yang di idam-idamkannya, adalah bukti kepasrahan total kepada Allah SWT.
  2. Perjalanan Nabi Ibrahim as adalah garis kehidupan yang memisahkan antara kehidupan positif dan negatif. Dengan perintah penyembelihan terhadap Ismail sebagai simbol kecintaan duniawi yang kemudian diganti dengan seekor domba merupakan tanda bahwa tidak ada proses perjuangan penyembelihan atau pengorbanan dengan cara mengorbankan dan merugikan sesama manusia, dengan melakukan kezhaliman, seperti permusuhan, pembunuhan, penindasan, korupsi, menyebar fitnah (hoax), adu domba. Karena manusia adalah makhluk mulia dan terhormat yang tidak pantas dikorbankan―karena jelas Allah sendiri yang melarangnya. Dengan Kuasa-Nya, Allah ganti Ismail dengan seekor domba.
  3. Untuk meningkatkan jiwa bertauhid, beriman dan bertaqwa. Allah menganjurkan manusia untuk mengingat dan meneladai perjuangan dan kehidupan Ibrahim terutama ketika Nabi Ibrahim as merawat dan merekontruksi Ka’bah sebagai baitullah. Sehingga berbagai ibadah dan ritual peyembahan, kema’rifatan dan ketauhidan kepada Allah SWT menjadi kewajiban bagi umat muslim sedunia yang mampu menjalankan ibadah haji.
  4. Kepatuhan dan ketaatan jiwa yang bertauhid, beriman dan bertaqwa dengan semangat perjuangan dan berqurban karena Allah, divisualisasikan juga secara simbolik oleh kaum muslimin yang melaksanakan ibadah haji. Aktivitas ibadah haji seluruhnya mencerminkan kepatuhan dan ketaatan.

 

KH Amin Baejuri Asnaf, M.Pd.I., Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jabar.

Komentari