Almagfurlah KH Ahmad Manshur, Pengasuh Pesantren Al-Hidayah Santiong, Cicalengka, Kabupaten Bandung.
Almagfurlah KH Ahmad Manshur, Pengasuh Pesantren Al-Hidayah Santiong, Cicalengka, Kabupaten Bandung.

KH. Ahmad Manshur yang akrab disapa Ceng Amas, pengasuh pesantren Al-Hidayah Santiong, Cicalengka, Kabupaten Bandung, wafat pada hari Selasa, 13 Januari 2018, jam 19.49 WIB. Ceng Amas lahir pada 11 Desember 1954, anak kesembilan dari 10 bersaudara. Ayahnya KH Ahmad Suhrowardi atau Ajengan Emed (1896 – 1993) adalah santri Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Almarhum Ceng Amas adalah aktivis NU sejati. Hingga wafatnya ia masih tercatat sebagai mustasyar PWNU Jawa Barat. Sebelumnya ia pernah menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Bandung dua periode (2006-2011 dan 2011-2016).

Dalam peta pesantren tradisi di Jawa Barat, Pesantren Santiong Cicalengka, termasuk salah satu jugjugan para santri kelana. Pada masa Ajengan Emed, santri dari berbagai daerah berdatangan untuk tabarrukan mengaji kitab tafsir Jalalain. Cara Mama Santiong ini menerjemahkan kitab Jalalain (ngalogat) dirujuk sebagai satu standar, sebagaimana para santri merujuk Ajengan Utsman dari Pesantren Sadang, Wanaraja, Garut untuk pembacaan Alfiyyah dan Ajengan Choer Affandi dari pesantren Miftahul Huda Manonjaya untuk pembacaan Jauhar al-Tauhid.

Sebagai pelanjut, KH Umar Basri (Ceng Emon) dan KH Amas Manshur, mempertahankan Santiong sebagai pesantren tradisi dan tidak membuka sekolah umum. Ajengan Emon menegaskan, “Santri anu anakna teu jadi santri deui, eta santri anu kaduhung jadi santri.” Santri yang anaknya tidak jadi santri lagi, itu berarti ia menyesal pernah jadi santri.

Kini kedua penerus itu telah wafat. Ceng Emon wafat pada 12 Agustus 2018 dan Ceng Amas wafat pada 13 November 2018. Namun para penerus pesantren Santiong sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Anak-anak dari kedua ajengan itu telah dibekali ilmu keislaman dengan mengaji di berbagai pesantren.

Kita bersaksi bahwa almagfurlah KH Ahmad Manshur adalah pribadi yang saleh dan mukhlis. Al-Fatihah …

(Iip Yahya)

Komentari