Dra Hj Mursyidah Thaher, MA, PP Musliman NU, PWNU Jabar, Jawa Barat
Dra Hj Mursyidah Thaher, MA

Dra Hj Mursyidah Thahir, MA

Ketua III Muslimat NU

Majlis taklim merupakan wadah para pecinta ilmu berkumpul untuk menimba pengetahuan keagamaan dan informasi dari para ustadz/ustadzah. Secara tradisional, majlis taklim ini tumbuh dan berkembang hampir di setiap musala, mesjid dan terkadang rumah tinggal, atas dasar keinginan masyarakat khususnya kaum ibu untuk saling kenal, saling tukar informasi, dan saling belajar. Cara yang digunakan juga sederhana, misalnya dengan menghimpun jamaah lewat kegiatan arisan mingguan atau bulanan. Maka anggota arisan itulah yang kemudian secara otomatis menjadi anggota jamaah majlis taklim. Materi yang dikaji terutama Al-Qur`an, hadis, fiqih, tafsir dan akhlak.

Muslimat NU, dari tingkat pusat sampai ranting, memiliki majlis taklim secara berjenjang. Di tingkat ranting, apabila jumlah jamaah mencapai kelipatan 200 orang harus membelah dua. Begitu seterusnya sehingga ada jamaah majlis taklim muslimat NU di salah satu desa di kabupaten Banyuwangi, Jatim, memiliki 5 sampai 10 majlis taklim tingkat ranting dengan jumlah jamaah rata-rata 200 orang. Kalau mereka dikumpulkan dalam satu rapat akbar tingkat kecamatan saja, satu ranting ini bisa mengirim sedikitnya 1.000 jamaah kali 10 ranting, terhimpun 10.000 jamaah. Jumlah yang luar biasa. 10.000 jamaah per kecamatan adalah asset Muslimat NU paling berharga, karena memiliki daya tawar tinggi bukan saja di bidang dakwah agama, akan tetapi juga secara sosial, politik, budaya bahkan ekonomi.

Sesuai karakter yang dimiliki majlis taklim sebagai kekuatan sosial dan aset yang berdaya tawar tinggi dari tingkat pusat sampai akar rumput, peran yang diharapkan dalam penanaman nilai-nilai multi cultural sangat penting. Majlis taklim, secara kultur bisa menjadi agen perubahan, secara politis bisa menjadi perekat bangsa, dan secara ekonomi bisa menjadi pasar yang menguntungkan. Melihat sumber konflik sebagian besar disebabkan oleh perebutan sumber daya ekonomi, maka penanaman nilai-nilai multikultural harus dimulai dari sini.

Di seluruh Indonesia terdiri sekitar 70.000 desa. Dengan rata-rata pendapatan rakyat bersumber dari pertanian, maka focus pencegahan konflik harus diselesaikan lewat pemberdayaan ekonomi petani. Bila setiap desa memperoleh anggaran Negara 1 milyar rupiah saja untuk modal pertanian dan penguatan lumbung desa, ternyata hanya membutuhkan 70 trilyun rupiah. Terlalu kecil bila dibandingkan dana 50 gelintir konglomerat Indonesia yang menyimpan uangnya 800 trilyun di Singapura. Majlis taklim harus turut terlibat mengatasi kemiskinan. Tema yang dibahas juga harus focus pada problem kemiskinan bagaimana agar masyarakat, minimal jamaah majlis taklim memiliki akses mengurangi angka kemiskinan dengan memperoleh bantuan seperti modal UKM dan lainnya.

Langkah berikutnya melalui kekuatan politik. Keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan harus diperhitungkan. Dukungan politik melalui uang yang ternyata mencedrai proses demokrasi harus dihentikan. Hukum harus berjalan dengan baik, agar keterlibatan kaum perempuan tidak terhambat oleh praktik kotor mereka yang mengandalkan uang. Sehingga dengan demikian, dapat diharapkan majlis taklim yang mayoritas jamaahnya perempuan dapat berfungsi optimal untuk menjaga kerukunan sesama bangsa. Dalam hal penanaman nilai-nilai baik agama maupun kultur, perempuan lebih dapat diandalkan ketimbang laki-laki. Pepatah mengatakan, If you educate one man, you educate one person. But if you educate one women, you educate one generation. Kekuatan ini ada di tangan majlis taklim kaum ibu.

Oleh karenanya majlis taklim harus mulai meningkatkan keampuhannya dalam:

1) Membangun penguatan kesepahaman antar jamaah, antar anak bangsa, yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran saling mempedulikan dan bertindak bagi kebaikan bersama.
2) Majlis taklim membuka forum komunikasi yang memungkinkan partisipasi masyarakat untuk saling berbicara dan saling mendengar.
3) Majlis taklim dapat merumuskan landasan bersama agar keragaman budaya dan kemajemukan etnis bias saling bertemu tanpa kehilangan identitas masing-masing.

(mursyidahiiq.blogspot.co.id)

Komentari