KH Dr Ahsin Sakho Muhammad, Oase Al-Qur'an, Ka'bah, PWNU Jabar, Jawa Barat
KH Dr Ahsin Sakho Muhammad.

Nabi Ibrahim bukanlah orang pertama yang membangun Ka’bah, tapi Ka’bah sudah ada sebelumnya. Seiring dengan perjalanan waktu, bangunan Ka’bah itu hancur. Yang tersisa tinggal pondasinya. Al Qur’an menyebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim mengangkat ( يرفع ) pondasi Baitullah, Allah tidak mengatakan membuat pondasi. Ungkapan ini menandaskan bahwa batas-batas bangunan Ka’bah sudah ada. Nabi Ibrahim hanya melanjutkan pondasi yang sudah ada.

Nabi Ibrahim membangun Ka’bah dibantu oleh anaknya Ismail. Pada saat bangunan semakin meninggi, Nabi Ismail memasang batu untuk digunakan sebagai pijakan kaki Nabi Ibrahim. Ternyata ketika Nabi Ibrahim memijak, batu itu menjadi lunak sehingga kedua telapak kaki Nabi Ibrahim membekas di batu itu. Batu itulah yang akhirnya dinamakan “Maqam Ibrahim”. Inilah barangkali benda purbakala di kawasan Masjidil Haram yang masih tersisa hingga saat ini selain Hajar Aswad. Amblesnya kaki Nabi Ibrahim menunjukkan satu kemukjizatan tersendiri.

Pada mulanya tempat “Maqam Ibrahim” menempel di dinding Ka’bah, sampai pada masa Nabi Muhammad. Ketika Nabi membebaskan kota Mekah, pada tahun ke 8 hijriyah, beliau memerintahkan untuk memindahkannya ke tempat yang ada sekarang ini, yaitu dihadapan pintu Ka’bah menyerong ke kiri. Pada saat itu sahabat umar mengusulkan agar “Maqam Ibrahim” dijadikan sebagai “mushalla” yaitu tempat salat. Lalu turunlah ayat 125 surah al Baqarah. Ada isyarat dari ayat ini yaitu bahwa keberadaan Maqam Ibrahim di depan orang yang salat menjadikan Nabi Ibrahim sebagai imam kaum muslimin. Hal ini sejalan dengan perintah Allah agar kaum muslimin mengikuti millatnya Nabi Ibrahim.

Ka'bah, Ibrahim, Ismail, Oase Al-Qur'an, KH Dr Ahsin Sakho Muhammad, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ilustrasi: Ka’bah di masa lalu.


(An Nahl:123), Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad adalah panutan yg baik bagi kaum muslimin (uswah hasanah). (Al Mumtahanah: 4, 6; Al Ahzab: 31). Apa yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini dalam bidang keagamaan sama dengan dasar-dasar keagamaan yang dibawa oleh Nabi Ibrahim seperti Haji dan seluruh manasiknya, kurban, dan lain-lain. Pantaslah jika Islam mengklaim dirinya sebagai satu satunya agama penerus agama Nabi Ibrahim yang sah.

Do’a-do’a yg dipanjatkan Nabi Ibrahim, sangat pas dengan pribadi Nabi Muhammad dan sejalan dengan perilaku peribadatan kaum muslimin saat ini. Bandingkan hal itu dengan perilaku peribadatan dari mereka yang menyebut dirinya sebagai pengikut agama Nabi Ibrahim. Dari situlah bisa diketahui mana agama yang hak dan mana agama yang batil.

Semoga kita selalu mendapat bimbingan dari Allah agar terus berjalan di rel agama yg lurus sampai akhir hayat kita. Amin.

Komentari