Jatman NU Sumedang, PCNU Sumedang, Manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, PWNU Jabar, Jawa Barat
Ijazah Kubro Manaqib Syaikh Abdul Qodir al_jilani oleh Jatman NU Sumedang.

Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh Annahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Sumedang melalui sayap organisasinya Majelis Nurul Burhan menggelar kegiatan ijazah kubro manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jiilani RA, Rabu malam (26/9/2017). Kegiatan yang bertempat di Aula PCNU Sumedang ini diikuti oleh pengurus NU, santri, dan masyarakat umum.

Pemberi ijazah manaqib pada kesempatan itu ialah Habib Syarif Ahmad Mutholib. Beliau putra Habib Hud Muhammad bin Yahya dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Kitab manaqib yang diijazahkan yaitu kitab Nurul Burhan. Kitab Nurul Burhan ini isinya mengisahkan sejarah perjalanan hidup Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Selain kitab nurul burhan, Habib Syarif juga mengijazahkan kitab dzikir Ya Hadiyyu. Kitab Dzikir Ya Hadiyyu merupakan kitab ringkasan dari kitab manaqib Nurul Burhan.

Ketua Majlis Nurul Burhan, Asep Munawar mengatakan bahwa kegiatan ijazah ini merupakan program Majelis Nurul Burhan yang dilaksanakan setiap tahun. Ijazah malam ini merupakan tahun kedua yang dilaksanakan di Aula PCNU Sumedang.

Sementara Ketua PCNU Sumedang, Sa’dulloh, memaparkan bahwa PCNU Sumedang telah memprakarsai kegiatan ijazah manaqib kubro ini. Ijazah pertama yang dilaksanakan di Sumedang bertempat di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah pada tahun 2014. Setelah itu baru dibentuk pengurus baru lembaga Jatman NU Sumedang dan diikuti juga dengan pembentukan organisasi sayap jatman NU Sumedang yang bernama Majelis Nurul Burhan.

Mulai dari sana pembacaan manaqib dan dzikir kitab hadiyyu di Sumedang terus istiqomah dan mulai semarak, lanjut Sa’dulloh. Pengurus PCNU Sumedang akan terus mendorong kegiatan ini karena kami menyadari bahwa ruh NU ada di dua badan otonom NU, yaitu Jatman NU dan JQH NU. Dua lembaga ini mewadahi orang ahli dzikir dan ahli Qur’an. Kalau dua lembaga ini tidak hidup maka akan kelihatan NU nya juga tidak akan hidup.

Oleh karena itu, PCNU Sumedang mendorong dua badan otonom ini untuk terus membentuk kepengurusan sampai ke tingkat ranting. “Kalau pengurus rantingnya sudah terbentuk maka kegiatan manaqib dan dzikir akan semakin semarak,” kata Sa’dulloh.

Ketua PCNU berharap, kegiatan ijazah ini selalu istiqomah terlaksana setiap tahunnya. “Mohon kepada pengurus NU supaya lebih masif lagi dalam mendorong warga NU untuk mengikuti ijazah manaqib ini. Harapan saya, acara manaqib di Sumedang bisa terlaksana di setiap desa atau ranting secara serentak,” tutup Sa’dulloh.

(Ayi Abdul Kohar/PCNU Sumedang)

Komentari