Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.
Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Dok. alif.id

 

“Alangkah indahnya hidup ini andai dapat kutatap wajahmu, Ya Rasulallah Ya Habiballah.” Begitulah petikan lagu selawat yang sering dilantunkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf yang biasa dipanggil Habib Syech.

Dalam panggung dakwahnya (mungkin lebih tepat memakai istilah tablig, lebih khusus dari dakwah), Habib Syech menjadikan selawat sebagai pintu masuk membangkitkan jemaahnya: jemaah Ahbabul Mushtofa (artinya para pecinta Nabi Muhammad).

Hampir dalam tiap acara Habib Syech yang pernah penulis ikuti, selawat demi selawat yang dilantunkan Habib Syech ibarat lari estafet yang tak ada putusnya. Ia terus disenandungkan nyaris tanpa jeda. Kalaupun berhenti, tidak lama kemudian berselawat kembali.

Tabuhan alat terbang yang mengiringi lantunan selawat membuat jemaah makin bersemangat. Sambil membawa berbagai bendera merah putih dan bendera Nahdlatul Ulama, para jemaah ikut bersenandung. Selain nama Ahbabul Mushtofa, nama “Syechermania” juga melekat pada jemaah Habib Syech.

Tak pelak, selawat menjadi ajang kegembiraan. Terkait manifestasi kerinduan terhadap Sang Nabi susah diverifikasi, ini tergantung isi hati masing-masing. Yang pasti, mereka bergembira. Tetapi memang, selawat yang dilantunkan Habib Syech menjadi sarana untuk berdoa dan bermunajat sekaligus sarana berharap syafaat dari Nabi Muhammad. Di sini, kita seperti diingatkan bahwa membaca selawat adalah sarana untuk membuat hati dan jiwa bergembira dan berbahagia. Ia seperti obat bagi jiwa-jiwa yang sedang gundah dan resah.

Yang menarik, Habib Syech tidak hanya berselawat yang berbahasa arab saja tetapi juga terkadang berbahasa Indonesia bahkan bahasa Jawa. Lagu selawat seperti “Alangkah Indahnya Hidup Ini”, “Padhang Mbulan” atau “Syiiran NU” menjadi lantunan selawat yang seolah menjadi cara Habib Syech menyampaikan wejangan atau mauidhohnya kepada umat.

Ini mengingatkan kita tentang bagaimana para wali menciptakan lagu yang kemudian memudahkan umat untuk bernyanyi dimana isinya sebetulnya berupa nasehat-nasehat agama.

Di era ketika orang suka bernyanyi atau berdendang, lagu selawat yang berisi nasehat dan kemudian dipopulerkan Habib Syech dalam dakwahnya menjadikan anggota jemaah atau umat lebih mudah ingat terhadap pesan-pesan yang disampaikan tinimbang pesan yang hanya disampaikan dengan cara pidato. Apalagi melihat bahwa jemaah yang datang tidak hanya dari kalangan orang tua tetapi ada pula remaja bahkan anak-anak. Jemaah perempuan tak ketinggal. Jemaah perempuan sekaligus menjadi pembeda dengan kelompok Islam puritan yang menerapkan “disiplin tubuh” secara penuh terhadap kaum Hawa.

Penulis sendiri membuktikan bahwa anak penulis yang berumur lima tahun menyukai “Syiir Padhang Mbulan”. Ia selalu manggut-manggut setiap kali Habib Syech melantunkan lagu tersebut, entah ketika pengajian atau ketika memutar kasetnya. Suara khas beliau yang pulen dan empuk saya kaira juga menjadi keistimewaan tersendiri.

 

Mencintai Indonesia
Selain lantunan selawat sebagai ikhtiar meningkatkan cinta dan meneladani Nabi Muhammad, dakwah selawat ala Habib Syech juga mengajak jemaah mencintai dan mendoakan Indonesia. Dalam beberapa kesempatan pengajian yang penulis ikuti, lagu “Syubbanul Wathan” atau yang populer dengan “Ya Lal Wathan” menjadi salah satu selawat yang didendangkan dan dengan riuh diikuti para jemaah. Terkadang, di akhir pengajian, Habib Syech mengajak para jamaah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Hal ini menunjukkan bahwa dakwah selawat ala Habib Syech tidak hanya berdimensi mengajak jemaah mencintai Nabi Muhammad saw, tetapi pada saat yang sama juga mengingatkan jemaah untuk mencintai dan mendoakan keselamatan untuk Indonesia tercinta. Dari sini terlihat bahwa Habib Syech ingin menjalankan dua misi sekaligus: menjunjung Islam dan sekaligus mencintai Indonesia.

Mengajak jemaah selawat untuk mendoakan Indonesia menjadi penting terutama karena dalam beberapa tahun terakhir muncul gerakan-gerakan yang mengajak umat Islam untuk membenci negara dan para aparaturnya.

Pendekatan budaya melalui jalur dakwah untuk membangun karakter cinta terhadap Indonesia sungguh tepat agar generasi pecinta selawat tidak hanya mencintai Nabi Muhammad tetapi pada saat bersamaan memiliki kesadaran kebangsaan.

(M Zainal Anwar/alif.id)

Komentari