Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari Jakarta.
Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari Jakarta.

R Kurnia P Kusumah

R Kurnia P Kusumah (Kang Udeng)

Di negara-negara bukan negara Islam,  ternyata kehidupan rakyatnya Islami. Misalnya di Canada, Finlandia, Jepang,  tapi di negara-negara Islam malah masyarakatnya tidak islami, seperti Suriah, Sudan, Libya. Pakistan, Saudi Arabia.

Ukuran islami atau tidak Islami bisa dilihat dari perilaku sosialnya; toleran, pelayanan fasilitas sosial,  tingkat korupsi, tingkat kriminal,  kebebasan berekspresi, berpendapat, beribadah, kebersihan, kesehatan, dan lain-lain.

Jika negara-negara Islam tidak menjamin akhlak islami masyarakatnya, maka konsep negara khilafah sebenarnya tidak menjamin apapun.

Narasi tersebut kemudian ternyata disanggah oleh teman diskusi saya, KH. Hadi Hadiyatullah. Menurutnya, perilaku islami harus lahir dari agama Islam. Kalau tidak beragama Islam, bagaimana bisa disebut Islami? Maksudnya, negara-negara non-Islam tidak akan mungkin melahirkan masyarakat berperilaku islami.

Kalau hanya perilaku secara sosial, kenapa hanya islami? Tidak Hindi, Kristiani? Pendefinisian harus konfrehensif (jami’) dan ada batasan (man’i). Demikian ajengan Hadi menjelaskan.

Begitulah repotnya kalau beragama serba fiqih. Saya teringat ungkapan alahyarham KH. Ahmad Siddiq, “Jika semua ditinjau secara fikih, maka dunia terasa sempit.” Fikih akan selalu bermuara pada fatwa halal atau haram, sesat atau lurus.

Kaidah fikih sangat dinamis, akan selalu mengikuti perkembangan zaman, maka ilmu fiqih berkembang sedemikian rupa membentuk serpihan-serpihan: fikih sosial, siyasi, kesehatan, keuangan, mungkin sebentar lagi akan ada fikih medsos.

Perilaku islami adalah buah dari pengamalan agama Islam dalam konteks sosial-budaya. Jika keislaman Anda mantap maka akan melahirkan sikap-sikap islami;  jujur, amanah, dermawan, kasih sayang, suka menolong. Bahkan, surat An-Nisa ayat 167 menjelaskan eratnya hubungan ibadah ritual dan ibadah sosial (salat dan zakat) sebagai dua hal yang tak terpisahkan.

Bagaimana jika non-muslim berperilaku seperti tersebut di atas? Bukankah kita sering menemukan orang non-muslim yang jujur, amanah, berkasih sayang, bisakah mereka dibilang islami?

Islami adalah pelabelan kata sifat perilaku sosial-budaya (bukan agama), meski kata “Islam” sendiri merupakan nama agama.  Imbuhan “i” dalam kata “islami” diambil dari bahasa sansekerta, mengandung pelabelan kata sifat terhadap subyek, seperti, manusiawi, surgawi, duniawi.

Perhatikan kalimat berikut, “Si Poni membantu membawa tas belanjaan emak ke pasar, menyuguhkan minuman untuk tamu. Si Poni adalah seekor kera, dia sudah berperilaku seperti manusia. Si Poni binatang yang manusiawi.”

Sikap suka memberi salam (biasanya dilakukan oleh orang Islam) dilakukan pula oleh orang non-muslim; maka mereka  itu telah berperilaku islami.

Dulu, gubernur  non-muslim bernama Ahok membangun masjid, mengirim para marbot pergi umroh, menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Apakah ia berperilaku islami? Silakan tafsirkan sendiri.

Puncak perilaku islami adalah kemanusiaan. Di ruang kemanusiaan agama-agama bisa bertemu. Di ruang kemanusiaan pula berkembangnya toleransi.

Wallahu a’lam bis shawab.

*) Penulis, alumni PMII.

Komentari