Ani Rahmayanti, Bendahara PW IPPNU Jawa Barat.
Ani Rahmayanti, Bendahara PW IPPNU Jawa Barat.

Ani Ramayanti S.Pd

Bendahara PW IPPNU Jawa Barat

 

Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama lahir sebagai organisasi kader, salah satu ciri penting organisasi kader adalah penekannya pada aspek pengkaderan atau kaderisasi. Dengan kata lain , tugas IPPNU adalah mencetak “generasi baru” yang siap berjuang memajukan organisasi dengan ajaran Islam Ahlusuunah Wal Jamaah. Pada zaman era modern ini untuk membentuk organisasi yang ideal tentunya harus dibutuhkan kader yang ideal pula. Gerakan yang masif yang harus dilakukan oleh seluruh kader IPPNU serta dukungan dari para stakeholder lainnya guna mengembangkan ide dan gagasan pergerakan. Kaderisasi adalah kunci.

Kader IPPNU harus mampu menjawab tantangan zaman , realitas sosial, kritis dalam menanggapi kebijakan , ideologis ,militan, professional dan memiliki kepemimpinan yang mumpuni. Di sinilah pentingnya kaderisasi dengan sistem dan aturan terencana serta konsep yang sesuai dengan kebutuhan kader pada saat ini.

Max Schiller pernah mengatakan bahwa setiap sejarah membutuhkan generasi yang dapat “berbuat” untuk zamannya, dalam abad besar, tantangannya pun pasti besar dan dengan demikian pasti membutuhkan generasi yang besar. Untuk menjaga kontinuitas pengkaderan dan produktifitas kader secara komprehensif, maka perlu adanya komitmen bersama dalam kepengurusan IPPNU sebagai penyelenggara kaderisasi. Oleh karena itulah setiap periode kepengurusan IPPNU di setiap tingkatan wajib melaksanakan kaderisasi formal ataupun nonformal minimal satu kali.

PW IPNU, PW IPPNU
Perkusi (Pekan Edukasi Siswa/Siswi): Salah satu bentuk kaderisasi IPNU dan IPPNU Jawa Barat

Dalam kaderisasi formal IPPNU terdapat Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) , Lakmud (Latihan Kader Muda) dan Lakut (Latihan Kader Utama). Sedangkan dalam kaderisasi nonformal IPPNU ada pelatihan jurnalistik, pelatihan profesi, pelatihan keterampilan, dll. Harapan mewujudkan kader yang baik itu menjadi tanggung jawab bersama.

Dalam menjaga keistiqomahan kaderisasi, program perawatan kader menjadi penting untuk dilaksanakan, dengan tujuan:  memantapkan kembali materi pasca kaderisasi  serta menjaring kader potensial yang memiliki komitmen tinggi terhadap organisasi . Karena pelatihan yang dilakukan bukan hanya sekedar ritual-formalistik atau hanya sekedar “menggugurkan kewajiban” tapi terlepas kaderisasi dalam organisasi adalah harga mati yang tidak bisa di tawar lagi. Dengan demikian harapan mencetak jutaan kader yang berkualitas bukan lagi sebatas wacana tapi akan menjadi kenyataan.

Komentari