Himpunan Pengusaha Nahdliyin, HPN, Asep Syarifudin, PWNU Jabar, Jawa Barat
Walikota Bandung Ridwan Kamil saat menghadiri Konferensi HPN Jabar, 10/6/'17 di Bandung.

Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Wilayah Jawa Barat menggelar konferensi untuk pertama kalinya di Bandung, Sabtu, (10/06), mengusung tema, “Akselerasi Peran HPN: Wujudkan Keadilan Berkemakmuran dalam Rangka Revitalisasi Ketahanan dan Daya Saing Usaha di Era Milenial”.

Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Jawa Barat terpilih periode 2017-2022, Asep Syarifudin menyampaikan ada beberapa tantangan dan agenda yang akan digarap dalam tahun pertama kepemimpinannya.

Di antaranya mendukung ekonomi pesantren, dengan menghadirkan konteiner, pom bensin, warungmart dan bengkel. Selain itu, memberdayakan benih-benih unggulan, mengambil karya – karya pondok pesantren seperti handycraft atau kerajinan – kerajinan yang bagus berkualitas yang baik akan dipasarkan ke lintas negara.

“Selanjutnya kita akan mengadakan pelatihan pengkaderan supaya HPN ini kuat dan dalam waktu dekat kita juga kerjasama dengan pemerintah dan beberapa BUMN juga pengusaha – pengusaha besar supaya lebih kuat,”katanya pada Sabtu 20 Juni 2017.

Selain itu, kata dia, akan merancang pembentukan lembaga keuangan termasuk merancang pendirian koperasi untuk mengembangkan usaha di tiap kabupaten dan kota se-Jawa Barat.

“Semua target akan di dahulukan di tahun 2017. Untuk di tahun 2018 kita sudah merancang program lanjutan dari tahun ini,”katanya.

Himpunan Pengusaha Nahdliyin, HPN, Asep Syarifudin, PWNU Jabar, Jawa Barat
Pengurus Himpunan Pengusana Nahdliyin Jabar.

Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Ir. H. Abdul Kholiq berpesan agar para pengusaha nahdliyin dapat semakin konsentrasi memberi manfaat bagi masyarakat. Ia mewanti-wanti agar jangan sampai para pengusaha dimanfaatkan untuk kepentingan publikasi program pemerintah.

“Oleh karena itu juga saya pesan kepada teman-teman agar program-program yang ditawarkan itu tidak hanya di ambil manfaatnya dari kacamata manfaat sesaat, tetapi manfaat jangka panjang,”ungkapnya.

Menurutnya, program pemerintah harus dilihat esensinya yakni bertujuan membangun agar kemampuan ekonomi yang tertinggal dapat bangkit mewarnai khazanah perekonomian masyarakat kaum lemah.

“Jangan sampai program itu nanti yang mengisi pemain-pemain besar yang itu-itu juga. Jangan jadi bancakan. Jadi artinya kita hanya jadi pasar saja,”tandasnya.

Oleh karena itu, ia berharap para pengusaha Nahdliyin yang dilibatkan dalam program pemerintah dapat mengedepankan strategi pengelolaan program yang progresif. Langsung menyentuh pada pokok masalah yakni keaejahteraan masyarakat.

“Sehingga melalui program itu pengusaha-pengusaha Nahdliyin ini naik kelas. Bukan cuma sekedar di manfaatkan pasarnya saja,”katanya.

“Karena kita juga misalkan pom bensin di sebelahnya warung, kita punya program Mikromart agar supaya produk- produk Nahdliyin bisa masuk dalam toko-toko itu dan terkelola dengan baik. Itu esensi yang paling penting,”terangnya.

Selanjutnya ia mengharapkan agar kepengurusan HPN Jabar yang baru, mulai berkonsentrasi menggalang potensi kaum Nahdliyin dengan cara membangun jaringan yang kuat. Sebab, lanjut dia, pengusaha besar di seluruh dunia bisa kuat karena membangun jaringan seperti pengusaha China di Indonesia.

“Jadi kalau kita tidak membangun jaringan kita akan kalah. Tujuan kita berkumpul di HPN ini kan untuk membangun jaringan. Sekarang wadah jaringannya sudah ada yang sudah dibangun dalam-dalam dua tahun ini, sekarang kedepan tinggal bagaimana memanfaatkan dan mengepektifkan jaringan ini agar bisa sebesar-besarnya menghasilkan manfaat bagi peningkatan ekonomi kaum lemah. Saya kira itu,”pungkasnya

Sementara Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Dr. KH. Suryani Ikhsan berpesan agar para pengusaha nahdliyin di tubuh HPN Jabar dapat berkoordinasi baik dengan mengadakan pembinaan agar kompetensinya meningkat. Ia juga menyitir panduan berbisnis dalam Al-Qur’an, yakni surat Al-Fathir ayat 29, agar para pengusaha selalu membaca dan memahami kitab suci Al-Qur’an, menegakkan salat dengan baik, dan kalau punya keuntungan segera berinfaq.

“Tiga prinsip tersebut merupakan bisnis dengan Allah yang tidak akan ada ruginya,” ujarnya. “Usaha yang seperti itulah yang akan selalu mendapatkanberkah,” sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, Walikota Bandung, Ridwan Kamil ikut mengajak kepada para pengusaha yang bernaung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) untuk bekerjasama membangun ekonomi yang berkeadilan, berinovasi memudahkan urusan ekonomi agar menyentuh langsung kepada umat.

“Sekarang cenderung masih belum berkeadilan. Minoritas jumlah manusia menguasai mayoritas sumber ekonomi, Kuncinya adalah umat harus bersatu kemudian negara harus turun. kan tadi rumusnya gitu,”kata Emil.

Salah satu terobosoan Emil yang diusulkan kepada para pengusaha nahdliyin Jabar adalah memuluskan program penyediaan pom bensin bagi pesantren-pesantren. Langkah ini, kata Emil, guna meningkatkan tingkat kesejahteraan pesantren itu sendiri. Sementara ini ia mengusulkan dua pesantren di masing-masing kabupaten kota untuk mengawali program tersebut.

“Saya minta HPN mencari lokasi dua pesantren saja untuk permulaan program ini. Ini hanya testing aja. Kan bisa menjadi contoh pesantren hidup oleh ekonominya sendiri kedepannya bisa lebih. Hasilnya demi kesejahteraan pesantren bersangkutan,”terangnya.

Dikatakan Emil, upaya tersebut merupakan salah satu trik memperluas pemerataan ekonomi hingga ke level terbawah. Sehingga ekonomi tidak hanya dikuasai kelompok kecil saja melainkan merata, terutama kewilayah ekonomi Islam, pesantren-pesantren yang selama ini kurang mendapat sentuhan.

“Jadi saya dukung gerakan-gerakan HPN ini supaya gapnya mengecil, jangan hanya sekelompok kecil yang menguasai tapi merata ke bawah terutama ke wilayah ekonomi Islam, termasuk pesantren,”jelasnya. (*)

Komentari