Halal Bihalal, PBNU, KH Dr Ma'ruf Amin, KH Dr Said Aqil Siroj, PWNU Jabar, Jawa Barat
Halal Bihalal PBNU 1438 H/2017. Foto: Kang Niam.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jumat (7/7) malam, ini menggelar Halal Bihalal di auditorium Lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Forum yang digelar secara lesehan ini dihadiri segenap pengurus PBNU, pimpinan pusat badan otonom NU, sejumlah pejabat negara, dan warga secara umum.

Di hadapan hadirin, Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan, NU berkewajiban mengutuhkan bangsa Indonesia, yang dimulai dari mengutuhkan Nadliyin dan mengutuhkan umat Islam. Ia berharap momentum halal bihalal kali ini menjadi sarana mengembangkan pengabdian organisasi.

“Kita jadikan suasana Idul Fitri ini untuk meningkatkan kinerja kita ke depan,” ujar Kiai Ma’ruf.

Menurutnya, saat ini bangsa Indonesia sedang terganggu oleh munculnya kelompok radikal. Ia menyebut dua jenis radikalis, yakni radikalis agama dan radikalis sekuler. Dua-duanya tidak cocok untuk Indonesia karena negara ini bukan negara agama juga bukan negara sekuler.

Mengutip pandangan Imam al-Ghazali, Kiai Ma’ruf berpendapat, negara terbentuk karena adanya hubungan saling membutuhkan atau interdependensi. Kondisi inilah yang menjadi karakter asli manusia yang harus dipertahankan.

Kiai Ma’ruf juga menyinggung soal tradisi halal bihalal yang merupakan khas Indonesia. Dalam tinjauan gramatika Arab, frase halal bihalal tidak dikenal. Karena yang benar, menurutnya, istihlal (meminta halal) dan ihlal (memberi halal). Namun bagi orang Indonesia, istilah halal bihalal lebih mudah diucapkan.

Sementara itu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, halal bihalal merupakan budaya khas Islam Nusantara yang tidak didapati di belahan dunia mana pun, termasuk tempat lahirnya Islam, yakni Arab. Halal bihalal adalah produk budaya dan ini penting untuk memperkuat nilai-nilai agama. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai kreativitas dan kerarifan ulama terdahulu. Menurutnya, budaya harus menjadi infrastruktur bagi tumbuhnya agama.

“Agama tidak akan kuat tanpa budaya. Budaya tak akan punya nilai tanpa agama,” tuturnya.

Menurut Kiai Said, budaya halal bihalal memberikan sumbangsih yang besar dalam melestarikan hubungan kekerabatan atau persaudaraan (silatul arham). Ia lalu membandingkan dengan negara-negara di Eropa yang tak begitu peduli tentang hubungan ini.

Selain silatul arham, lanjut Kiai Said, ada aspek lain yang penting pula diperhatikan, yakni silatul afkar (usaha penyamaan persepsi), silatul a’mal (membangun jaringan kerja sama), dan silatul arwah (berhubungan dengan orang yang sudah wafat seperti dengan ziarah, mendoakan, dan sejenisnya).

(Mahbib/NU Online)

Komentari