Oleh: Iip Dzulkifli Yahya

Sesaat setelah buku bergambar Gus Dur Berbeda itu Asyik siap edar, muncul pertanyaan, kapan buku ini akan diluncurkan? Hari lahirnya ada 3 versi: 4 Agustus 1940 Masehi atau 4 Sya’ban 1359 Hijriah, atau 7 September 1940. Ataukah 11 Juli 1968 saat ia menikah jarak jauh dengan Ibu Sinta Nuriyah?

Buku yang akan diluncurkan ini mewakili kekaguman dan kegembiraan yang perlu dirayakan. Harus dicari tanggal bersejarah dimana Gus Dur pernah berpesta untuk suatu syukuran. Maka ketemulah tanggal 11 September 1971, saat pasangan Gus Dur – Sinta Nuriyah melaksanakan pesta pernikahan yang tertunda. Sebuah pesta sederhana di Jombang, Jawa Timur.

“Gus, kami mau meluncurkan komik Berbeda itu Asyik tanggal 11 September (2004),” ujar Asroru Maula saat melakukan lobi didampingi Adhie Massardi.

“Kenapa tanggal 11 September?” tanya Gus Dur.

“Itu tanggal pesta pernikahan yang tertunda, saat Panjenengan baru kembali ke Jombang tahun 1971.”

“Ooh iya, iya. Ya sudah, atur sama orang di rumah.”

Dua hari menjelang hari H, publik Jakarta dikagetkan dengan peristiwa yang kemudian dikenal sebagai bom Kuningan. Kami sempat gamang dengan kejadian mengerikan ini, tetapi Mbak Yenny memastikan acara akan tetap berlangsung.

11 September 2004. Halaman rumah Ciganjur sudah dipasangi tenda putih, seperti mau hajat pengantenan. Sejumlah tokoh tampak hadir termasuk seorang politisi (waktu itu masih) muda yang sejak kedatangannya selalu menempel dengan Gus Dur. Ia tampak sangat takzim dan penurut. Penyanyi kawakan Hetty Koes Endang menyanyikan sejumlah lagu. Setelah serah terima buku oleh Penerbit Kanisius, sejumlah tokoh memberikan testimoni termasuk Kang Mohamad Sobary. Di acara puncak, Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah bertukar cincin. Ah, pasti ini idenya Mbak Inay.

Untuk ukuran mantan Presiden, pesta yang berlangsung sangat sederhana tetapi khidmat. Saya tentu saja sangat bersyukur, dari sekian ratus buku tentang Gus Dur, inilah buku yang diluncurkan di Ciganjur.

Semoga versi milenialnya bisa pula beredar, menyapa Kids Zaman Now yang (sebenarnya) haus bacaan alternatif, tapi belum tersedia secara memadai. Biar mereka nggak hanya nonton youtube dan terhindar dari hoax medsos yang disebarkan oleh sekelompok orang secara sadar dan penuh kebangaan sebagai bagian dari sebuah perjuangan. (Berjuang kok menyebar hoax). Di situlah kita rindu Gus Dur yang wafat 30 Desember 2009. Sebab keberkahan hidupnya terasa mengalir pada kita semua yang sampai hari ini setengah mati bertahan, menjaga kewarasan berpikir.

Gus, salam takzim dari kami. Alfatihah …

Komentari