Ahmad Ginanjar Sya'ban, INC, NU, PWNU Jabar, Jawa Barat
Direktur Islam Nusantara Center Ahmad Ginanjar Sya'ban.

Hari kelahiran ormas Islam Nahdlatul Ulama tanggal 31 Januari, menjadi momen penting. Khususnya para santri untuk melihat kembali warisan ulama-ulama NU berupa naskah-naskah keilmuan.

Ahmad Ginanjar Sya’ban mengatakan bahwa NU ini arsip dan manuskrip data-data sejarahnya luar biasa kaya. “Tetapi yang namanya santri manuskrip itu dibiarkan saja. Jadinya apa, jadinya jimat. Kita nggak berani menyentuh itu, karena takut kualat,” katanya dalam kajian INC beberapa waktu lalu.

Padahal di sanalah sejarah kebesaran NU itu ditulis,” imbuhnya.

Direktur INC ini mengatakan “31 Januari 1926 itu waktu NU diresmikan, bukan didirikan. Karena secara ideologi NU sudah ada sebelum Indonesia ada. NU sudah ada sejak zaman walisongo.”

Ibnu Batutah ketika berkunjung ke Samudra Pasai sekitar tahun 1340 an, dikatakan sultannya orang muslim, namanya Al Malik Adhohir. “Ibnu Batutah menulis orang Pasai itu mazhabnya Syafi’i, otomatis akidahnya Asy’ari, tasawufnya juga Al Ghazali,” katanya.

Sekarang di Indonesia menganut salah satu empat mazhab, mayoritas Syafi’i, akidahnya juga Asy’ari, tasawufnya juga Al-Ghazali atau Junaid al Baghdadi. Ini dianut jamiyyah apa? ya NU,” tambah alumni Pesantren Lirboyo ini.

Beberapa minggu sebelumnya, lanjut Ginanjar, kerajaan Saud yang berideologi Wahabi menduduki Mekah. “Jadi NU didirikan ini skalanya bukan lokal, tetapi Internasional,” tandasnya.

Salah satu tandanya apa? Salah satu anak turun dari mufti mazhab Syafi’i, gurunya Syaikh Nawawi, yaitu Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. Ada dua orang, yang satu namanya Abdullah Shodaqoh Zaini Dahlan dan Hasan Shodaqah Zaini Dahlan. “Keduanya eksil, ngungsinya di Karang Pawitan Garut. Bareng sama siapa, Mbah Maksum Lasem, mbah Muhaimin Lasem, menantunya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari,” terang Ginanjar.

Berdirinya NU tidak bisa lepas pada zaman kekuasaan ustmani abad 17-18. Waktu itu, mayoritas mazhab muslim di seluruh dunia adalah ahlussunnah wal jamaah. Makanya tradisi keilmuan yang ada di Nusantara, juga berlaku di India dan Timur Tengah.

Ya ada muludan, ada ziarah kubur, tahlilan. Ngajinya juga sama, nahwunya dimulai dari Jurumiyyah, alfiah, jawarihul maknun. Fiqihnya, kalau syafii dimulai dari Syafinah, Sulamut taufiq, fathul qarib, fathul mu’in dan seterusnya. Tafsirnya Al Jalalain, al Khozin, dan seterusnya,” ujarnya.

Semua satu kurikulum. Sebagaiamana diungkapkan Ali Pasya Mubarok, bahwa kurikulum Al Azhar tahun 1886, kurikulum Haramain Mekah Madinah, itu sama dengan sekarang sisanya di pesantren-pesantren tradisional seperti Pesantren Lirboyo, Ploso, Langitan, Tegalrejo.

Ginanjar menilai, ini penting diteliti oleh santri. Bagaimana jaringan kurikulum pesantren tradisional saat ini ternyata sama dengan kurikulum Al Azhar. Karena itu dulu, ulama kita bukan hanya menjadi sentral ulama di Nusantara, tetapi juga ulama sentral di Timur Tengah.

Jadi NU didirikan bukan atas respon ormas Muhammadiyah, tapi untuk menyelamatkan Ahlussunah wal Jamaah di seluruh dunia. Di Mesir saat itu dikuasai reformis, aswaja di Mekah diduduki Saudi. Maka ikhtiar para wali Allah, di bawah restu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, lahirlah ormas NU.

(Nizar Fuadi/Jaringan Santri)

Komentari