Mendidik dengan Cerita, Dongeng untuk Pendidikan, Abdul Aziz Abdul Majid, PWNU Jabar, Jawa Barat
Almarhum Kak Wes (Wees Ibnu Sayy) saat mendongeng di hadapan anak-anak di Rumah Dongeng Indonesia.

Fase awal belajar adalah masa yang dilalui sebelum anak memasuki fase belajar lanjutan, selepas mereka dari usia balita hingga menjelang akhir masa kanak-kanak. Fase ini mencakup masa pengasuhan, pendidikan di taman kanak-kanak, dan sekolah dasar, sampai anak memasuki sekolah lanjutan pertama. Masa ini adalah masa menjelang usia akil balig.

Anak mulai dapat mendengarkan cerita sejak ia dapat memahami apa yang terjadi di sekelilingnya, dan mampu mengingat apa yang disampaikan orang kepadanya. Hal itu biasanya terjadi pada akhir usia tiga tahun. Pada usia ini anak mampu mendengarkan dengan baik dan cermat cerita pendek yang sesuai untuknya, yang diceritakan kepadanya. Ia bahkan akan meminta cerita tambahan.

Kita ingat ketika kecil, seringkali pada waktu malam sebelum tidur atau pada waktu-waktu santai, kita mendengarkan berbagai cerita dari orang tua kita. Seperti cerita tentang orang yang cerdik, cerita hantu, putri raja, dan sebagainya. Banyak dari kita yang mengharapkan agar waktu cerita menjadi panjang dan ibu atau kakek terus bercerita. Kita juga ingat bahwa kita tak pernah bosan dengan cerita yang diulang-ulang dan sepertinya tidak pernah basi.

Berbagai cerita rakyat juga tersebar di berbagai lapisan masyarakat dari dulu sampai sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tradisional yang hidup secara alami, memiliki cerita yang disampaikan secara turun temurun.

Sebagian cerita-cerita itu ada yang mengandung unsur-unsur negatif. Hal ini –kecuali jika kita menghindarkan yang negatif tadi atau memperbaikinya– barangkali akan memberikan pengaruh negatif bagi pendidikan anak, karena informasi dan peristiwa yang terkandung dalam cerita-cerita ini akan berpengaruh pada pembentukan moral dan akal anak, dalam kepekaan rasa, imajinasi, dan bahasanya.

Di sinilah pentingnya pihak sekolah agar tidak mengabaikan segi pendidikan yang diperoleh anak-anak dari cerita-cerita rakyat itu. Sebab banyak juga dari cerita tradisional ini yang telah membentuk lingkungan yang bodoh, terlebih dalam lingkungan keluarga yang tidak dibimbing oleh seorang ibu yang terdidik. Sekolah diharapkan bisa menyaring cerita-cerita tradisional itu sehingga menjadi lebih bermanfaat bagi perkembangan anak.

TK atau SD menjadi tempat pertama anak-anak memperoleh pendidikan dan menjadi dasar bagi pendidikan yang lain. Di tempat ini anak lebih cepat mendapat pengaruh dan lebih mudah dibentuk pribadinya. Di sinilah pentingnya sekolah sebagai counter untuk menjauhkan anak dari pengaruh lingkungan yang buruk, baik secara jasmani, akal, moral, maupun kepekaan rasanya, sehingga dapat menempatkannya pada lingkungan yang baik. Dari sini terlihat bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi di sekolah dasar lebih banyak dan lebih sulit dibanding pada tingkat berikutnya.

Dalam cerita terdapat ide, tujuan, imajinasi, bahasa dan gaya bahasa. Masing-masing unsur tersebut berpengaruh dalam pembentukan pribadi anak. Dari sinilah tumbuh kepentingan untuk mengambil manfaat dari cerita di sekolah, pentingnya memilih cerita dan bagaimana cara menyampaikannya pada anak. Oleh karena itu, penetapan pelajaran bercerita pada masa awal sekolah dasar adalah bagian penting dari pendidikan.

Pelajaran bahasa mengambil peran pada bagian ini melalui cerita sastra yang baik bagi anak-anak. Sekalipun dalam tardisi sastra lama kurang mendukung penulisan cerita seperti dilakukan oleh bahasa-bahasa di negara lain, saat ini terbuka kesempatan luas bagi penerbitan cerita sastra. Sebagaimana terlihat dalam penerbitan sejumlah besar cerita-cerita anak dan dewasa akhir-akhir ini. Sebagian hasil karangan dan sebagian lagi hasil terjemahan. Kurikulum sekolah dalam setiap tahun ajarannya diharapkan bisa menjadikan cerita sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa yang diajarkan kepada anak-anak.

Ketika anak berada pada tahun pertama TK dan SD, ia belum mampu membaca cerita sendiri dengan baik dan benar. Sebagai gantinya maka tugas gurulah untuk menceritakannya. Dalam penyampaian cerita yang baik, yang terpenting adalah pengungkapan yang baik pula. Jika dilakukan dengan penuh kesabaran, sebuah cerita akan dapat membangkitkan kehidupan yang baru, menambah nilai seni, dan anak sebagai pendengar dapat menikmatinya. Seseorang yang memperhatikan anak-anak saat mereka menyimak cerita di radio, sekalipun usia mereka berbeda-beda, akan tahu bahwa kadar kesungguhan mereka sama besarnya dalam menyimak cerita.

Usaha siswa untuk menyampaikan kembali cerita yang telah didengarnya dari guru –atau menjawab soal yang diajukan kepadanya– adalah latihan untuk mengungkapkan ide-idenya dengan bahasanya sendiri. Dalam hal ini guru dapat memperbaiki susunan ide dan penyampaiannya, mengetahui kemampuan siswa dalam menangkap cerita, dan mungkin juga memperbaiki bahasa dan gaya bahasanya.

Dalam latihan bercerita, murid juga harus diperkenalkan dengan seni bercerita yang dapat menimbulkan kecintaannya. Kecintaan ini tidak akan terwujud tanpa latihan. Dari sini akan tumbuh keberanian anak utnuk bercerita di depan teman-temannya. Guru yang cerdik dan ulet, akan dapat melihat anak-anak yang siap bercerita dan memotivasi mereka.

Peragaan para siswa terhadap beberapa cerita merupakan bentuk lain dari cara pengungkapan yang akan berkesan dengan ekspresi tubuh dan perasaan. Hal itu menjadi salah satu tujuan pengajaran cerita di sekolah dasar yang dapat membantu anak untuk mengungkapkan idenya secara hidup dan ekspresif.

Cerita-cerita rakyat seyogianya tidak membuat anak-anak takut atau cemas. Cerita justru sebaiknya dapat membuat mereka senang dan termotivasi untuk menjadi pemberani. Karena itu orang tua harus dapat memilih cerita yang sesuai untuk disampaikan kepada anak-anaknya. Dapat memilih buku yang baik untuk dibacakan kepada mereka, atau membantu mereka untuk membacanya sendiri. Kita berharap dengan perhatian yang kian intensif terhadap cerita anak, kualitas cerita anak akan semakin meningkat. Dengan demikian kita pantas berharap akan lahirnya generasi yang lebih kreatif dan lebih kaya imajinasi.

*Kutipan dari pengantar buku Al-Qisshah fi al-Tarbiyyah karya Abdul Aziz Abdul Majid (Mendidik dengan Cerita)-IDY

Komentari