Tradisi menyambut malam Lailatul Qodar di Buntet Pesantren, Cirebon.
Tradisi menyambut malam Lailatul Qodar di Buntet Pesantren, Cirebon.

Malam ke-21 Ramadhan di Pondok Buntet Pesantren tetap semarak, meskipun kegiatan pengajian pasaran telah berakhir dan santri sudah banyak yang mudik. Pasalnya, awal dari sepuluh hari terakhir di bulan suci itu disambut gegap gempita oleh masyarakat Buntet. Mereka meyakini, di sepertiga terakhir bulan itu, akan hadir malam yang lebih mulia ketimbang seribu bulan.

Selepas tarawih, Selasa (5/6) malam, masyarakat berkumpul di satu titik yang telah disepakati. Anak-anak usia TK dan SD berjajar sembari membawa oncor, yakni obor yang terbuat dari bambu. Sementara kakak tingkatnya di usia SMP dan SMA mengawal jalannya mereka berkeliling komplek pondok.

“Maleman tanggal selikure (malam tanggal 21),” teriak anak-anak itu berulang-ulang sembari mengangkat oncor mereka.

Teriakan ini mengingatkan masyarakat secara keseluruhan, bahwa malam tersebut sudah memasuki sepertiga akhir bulan Ramadhan. Artinya, ibadah yang dilakukan perlu terus ditingkatkan. Perjalanan mereka juga diiringi tabuh-tabuhan ala kadarnya guna memeriahkan kegiatan tersebut. Selain teriakan pengingat tanggal, anak-anak juga menyanyikan lagu Ya Lal Wathan.

Kegiatan itu akan terus berlangsung hingga akhir bulan Ramadhan. Tentu, tanggal yang diteriakkan mereka disesuaikan malam keberapa mereka melakukan kegiatan. Misalnya “Maleman tanggal rolikure” untuk menyambut malam ke-22 Ramadhan. Begitu seterusnya.

Keyakinan masyarakat Buntet akan hadirnya lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir itu dikuatkan dengan beberapa hadits yang dikutip oleh Imam Ahmad ibn Hajar al-Haitami al-Makki dalam kitabnya, Ithaf Ahli al-Islam bi Khushushiyati al-Shiyam.

Di antaranya, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Abi Hurairah; Imam al-Thabrani dari Ibnu Abbas; Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Nasai, dan Imam Ibnu Majah dari Abi Said; Imam Ahmad dari Abi Said; Imam Abdullah bin Ahmad dari Ali; Imam Muslim dari Ibnu Umar, Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Abu Daud dari Ibnu Abbas dan sebagainya.

Semua hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang kredibel itu berbunyi senada, yakni perintah untuk mencari lailatul qadar di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Dalam kitab yang sama, Al-Haitami juga menjelaskan bahwa Allah secara eksplisit menyebut malam tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Qadr, lailatul qadri khairun min alfi syahr. Hal ini dipertegas dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Nasai, dalam bulan Ramadhan, terdapat malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan.

 

Genjringan

Jika anak-anak menyambut kedatangan sepuluh hari terakhir itu dengan berkeliling sembari membawa oncor, lain halnya dengan yang dilakukan oleh para orang tua dan remaja. Sebagian mereka berkumpul di masjid untuk mengikuti genjringan yang dilakukan selepas tadarus, sekitar pukul sepuluh malam.

Empat penabuh berjajar menghadap timur. Puluhan orang lainnya menghadap ke barat. Mereka saling jawab shalawat sembari diiringi tabuhan.

“Allahu yaf’alu ma yasya wa laa takun muta’arridla,” ucap salah satu penabuh atau yang biasa disebut dalang. Sontak para penjawab menyambutnya, “Yallah ridla, yallah ridla, wal’afwu ‘amman qad madla,” dan para penabuh sibuk menabuh genjring masing-masing.

Kegiatan genjringan ini ditutup dengan doa dan diakhiri dengan makan bersama, satu nampan untuk beberapa orang.

“Ini bagian dari Ihya asyril awakhir (menghidupkan 10 hari terakhir dengan amal baik) dan i’lam(pemberitahuan) sepuluh hari terakhir,” ujar Ketua Dewan Khidmat Masjid Agung Buntet Pesantren, KH Ade Nasihul Umam usai genjringan berakhir, sebagaimana dikutip dari situs resmi Buntet Pesantren.

Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, tulis Al-Haitami dalam kitabnya, lebih giat (dalam ibadahnya) pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) ketimbang hari-hari lainnya.

Oleh karena itu, oncor sebagai penerang dan genjring sebagai sirine merupakan tanda yang berpadu mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan ibadahnya seperti apa yang telah Rasulullah lakukan.

(Syakir NF/Kendi Setiawan/NU Online)

Komentari