Buka bersama dan kosolidasi organisasi PW LDNU Jabar.
Buka bersama dan kosolidasi organisasi PW LDNU Jabar.

Silaturahmi, Konsolidasi, dan Restrukturisasi

H. Ucup Fathudin Al Ma’arif, M.Ag

Sekretaris PW LDNU JABAR

 

Tetiba saja Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat (LDNU Jawa Barat) mengadakan “bukber” atau buka bersama di bulan suci Ramadlan tahun ini. Acara yang dihelat pada 10 Juni 2018 tersebut, mengambil tempat di Ruang Rapat PWNU Jawa Barat. Acara ini dikhususkan sebagai ajang silaturahmi, konsolidasi, dan restrukturisasi LDNU Jawa Barat.

Acara yang berlangsung dalam suasana akrab itu, dipimpin langsung oleh Ketua LDNU Jawa Barat, KH. Amin Baejuri Asnaf. Dalam sambutannya, Kiai Amin menekankan beberapa hal. Pertama, pentingnya menyamakan ferkuensi tiga matra utama berjam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama, yakni fikrah, ‘amaliyah, dan harakah. Semua hal yang disebut terakhir, lanjut Kiai Amin, bukan saja harus menjadi identitas dakwah LDNU Jawa Barat, melainkan harus melekat pada setiap individu para da’i nahdliyyin.

Kedua, LDNU Jawa Barat perlu segera merespon berbagai tantangan dan permintaan dakwah di lapangan. Yang dimaksud tantangan, jelas Kiai Amin, adalah berbagai resistensi terhadap fikrah, amaliyah, dan harakah NU dari berbagai kelompok di luar NU maupun di luar Islam. Bagi para da’i NU Jawa Barat, tantangan tersebut perlu menjadi motivasi untuk senantiasa fokus melakukan pendampingan kepada jama’ah dan masyarakat, agar tiga matra tadi diketahui oleh mereka. Bisa jadi resistensi yang muncul itu, disebabkan oleh ketidaktahuan mereka. Kiai Amin mengutip pribahasa al-mar’u ‘aduwwu maa jahila, seseorang cenderung resisten terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui. Jadi teruslah berjuang menyebarkan dan meyakinkan ke-NU-an di masyarakat, tegas Kiai Amin.

Kemudian Kiai Amin berbicara tentang permintaan dakwah khas NU. Ketika banyaknya tantangan yang dihadapi, papar Kiai Amin, pada saat yang sama justru permintaan terhadap dakwah yang disampaikan oleh para da’i NU juga meningkat. Sebut saja, banyak kelompok masyarakat berbasis profesi dan komunitas, yang sangat mengaharapkan para da’i NU mengisi kajian-kajian yang mereka selenggarakan. Hal ini perlu direspon dengan menyiapkan silabus atau kurikulum dan strategi dakwah yang tepat. Respon ini dimaksudkan, agar permintaan masyarakat terpenuhi dan pada saat yang sama misi utama mengenalkan dan mengokohkan NU di masyarakat juga terlaksana.

Ketiga, sebagai ikhtiar secara kelembagaan, dalam rangka merespon dua hal di atas, LDNU Jawa Barat dalam waktu dekat, akan menyelenggarakan Madrasah Kader Da’i Nahdlatul Ulama (MKDNU) Jawa Barat.  MKDNU akan dihelat dengan tujuan menyamakan persepsi tentang pola dan strategi dakwah khas NU, bagi para ketua dan sekretaris LDNU di Kabupaten/Kota se-Jawa Barat. Mereka adalah ujung tombak NU yang langsung bersentuhan dengan jama’ah dan masyarakat umum. Untuk kemudian, informasi dari MKDNU Jawa Barat tersebut, diharapkan bisa secara estafet diteruskan sampai tingkat MWC Kecamatan di Kabupaten/Kota masing-masing.

Acara ini juga menjadi ajang saling berbagi informasi dari lapangan dakwah, yang dilalui oleh para pengurus LDNU Jawa Barat. Masing-masing peserta yang hadir bercerita tentang pengalaman, sekaligus menyampaikan usulan strategis untuk ditindaklanjuti di level LDNU Jawa Barat secara organisatoris. Suasana konsolidasi dakwah sangat terasa pada saat bertukar informasi dan pengalaman ini.

Beberapa catatan misalnya, para da’i NU telah, sedang, dan akan terus berdakwah. Hanya saja, harus jujur diakui, bahwa pengorganisasian dakwah perlu banyak di-up grade, untuk proses pelaksanaan dakwah yang efektif dan efisien. Salah satu peserta yang hadir, KH. Shohibul Ali Fadhil, yang akrab dipanggil Gus Ali menyapaikan, bahwa di berbagai level, dakwah khas NU masih lemah pada dimensi “figurisasi” atau penokohan. Dimensi “figurisasi” ini menjadi kata kunci gelombang besar model-model dakwah millennial yang ada di luar NU, tegas Gus Ali. Untuk mengimbangi hal tersebut, lanjut Gus Ali, LDNU Jawa Barat perlu melakukan hal yang sepadan, yaitu “figurisasi”. Banjir dan keberlimpahan figur di NU, menjadi sesuatu hal yang menarik dalam rangka mewujudkan upaya “figurisasi” ini, ungkap Gus Ali dalam logat Jawa yang khas.

Gayung bersambut kata berjawab. Habib Umar Assegaf, yang khas dipanggil Habib Umar Majalaya, menegaskan hal yang senada dengan dengan Gus Ali. Habib Umar mencontohkan, bahwa dakwah khas NU bahkan telah melintasi batas-batas negara. Ia mencontohkan, PCINU yang berada di Malayasia, malah rutin mengadakan pengajian dengan mengundang beliau. Ini artinya, secara faktual dakwah khas NU berjalan melalui khidmat tiap pribadi para da’i NU. Tinggal bagaimana, tegas Habib Umar, secara kelembagaan LDNU Jawa Barat membuat rambu-rambu dan panduan umum, yang perlu diperhatikan oleh semua da’i NU. Supaya kompak, terorganisir, dan massif, pungkasnya.

Hadir pada acara ini, Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jawa Barat, KH. Asep Saefudin Abdillah. Kiai Asep menyampaikan dinamika restrukturisasi lembaga dan badan otonom (banom) yang ada di lingkungan PWNU Jawa Barat, termasuk LDNU Jawa Barat. Restrukturisasi di tingkat lembaga dan banom, selain untuk mencapai kerja organisasi yang efektif dan efisien, sekaligus amanat Rapat Pleno PWNU Jawa Barat pada awal Januari 2018. Konsekuensi dari restukturisasi adalah rotasi dan mutasi posisi para pengurus. Kiai Asep meyakini, bahwa bagi Nahdliyyin, apapun dan di manapun jabatan dan posisinya, semuanya adalah ladang khidmat. Khidmat inilah menjadi kata kunci warga NU, tegas Kiai Asep, sehingga mereka tidak gila jabatan dan posisi. Hadlrotus Syaikh Hasyim Asy’ari, dikutip Kiai Asep, menjamin, “Siapa yang memperjuangkan NU, aku anggap santriku. Siapa yang menjadi santriku, aku doakan husnul khotimah”.

Acara berakhir seiring dengan kumandang adzan maghrib. Semua peserta menikmati jamuan buka bersama yang sengaja disiapkan sejak awal oleh Ketua LDNU Jawa Barat. Dalam suasana keramahtamahan buka bersama, peserta bersepakat bahwa show must go on. Dengan serbakondisi yang ada, dakwah khas NU harus terus berlangsung tanpa kata putus. Semoga.

Komentari