PCNU Subang, Bahtsul Masail, Masjid sebagai Rest Area, PWNU Jabar, Jawa Barat
Bahtsul Masail An-Nahdloh PCNU Subang Putaran ke 15, 30-7-2017.

Sabtu, 29 Juli 2017, Bahtsul Masa’il An-Nahdloh (BMA) PCNU Subang kembali dilaksanakan di Pesantren Hidayatul Muzzaki, Majasari, Cibogo, Subang. Ustadz Deden Abi Warga selaku pengasuh pesantren dan Ketua Tanfidziyah MWC NU Cibogo, menjadi tuan rumah dan ketua panitia pelaksanaan BMA tersebut. BMA putaran ke 15 ini mengambil tema, “Bahtsul Masa’il An-Nahdloh se-Kabupaten Subang dan Halal bi HaIal MWC NU, Muslimat, PAC Ansor dan PAC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah se-Kecamatan Cibogo”. Kegiatan ini dihadiri pula oleh Camat Cibogo Hazizul Hakim M.Si.

Secara umum para peserta menyambut baik kegiatan yang sudah berjalan rutin ini. Selain untuk memperat tali silaturrahim antarpengurus NU, BMA juga bisa membantu memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi dan dihadapi masyarakat sehari-hari.

Dalam tausiyahnya, KH Ridwan Farid yang juga Sekretaris BMA, menyampaikan asal usul kegiatan halal bihalal yang telah menjadi ciri khas muslim Indonesia. Ia mengutip hadits Nabi Saw., “Maa roahul muslimuuna husnan fahuwa husnun ‘indallah”. Sesuatu yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para Ulama), maka itu akan dianggap baik menurut Alloh.

Peserta yang hadir berasal dari 10 MWC NU yang ada di wilayah Subang Utara yaitu Subang, Kalijati, Dawuan, Pagaden Barat, Pagaden, Cikaum, Cibogo, Cijambe, Purwadadi dan Pusakanagara.

Sebagaimana biasa, kegiatan BMA diawali dengan pembacaan kitab Al-Hikam oleh KH Sulaeman, Pengasuh Pesantren Al-Mansyuriyah, Sumbersari, Pagaden. Sementara narasumber BMA adalah KH Satibi, Rais Syuriyah PC NU Subang dan Kyai Jejen Zaenal Mufid S.Sos., pengasuh Pesantren Nurul Anwar Mubtadiin, Wera.

Para peserta BMA membahas bagaimana hukum menggunakan fasilitas masjid tanpa melaksanakan salat di masjid tersebut. Atau menjadikan masjid sebagai rest area. Dengan merujuk 1) Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil ‘Arba’ah juz 10 (h. 286), 2) Raudlatut Tholibin juz 10 (h. 297), 3) Hasyiyah al-Bujairomi juz 1 (h. 3), disimpulkan bahwa menggunakan air tempat wudlu masjid apabila ada syarat (qayid) dari pemberi wakaf (waqif) hanya untuk wudlu, maka hukumnya mutlak untuk wudlu saja. Apabila tidak ada syarat, maka boleh digunakan untuk keperluan yang lain. Adapun makan-minum dan istirahat di masjid terbagi mempunyai tiga hukum, jawaz, makruh, dan haram.

Sebagian peserta merasa kecewa dengan adanya penggabungan acara BMA dengan kegiatan halal bihalal, karena waktu untuk acara utama menjadi tersita. Panitia menampung keluhan tersebut dan akan memperbaiki penyelenggaraan BMA ke-16 yang dijadwalkan dilaksanakan di MWC NU Cijambe.

(E Endang Iskandar/Subang)

Komentari