Alfiyyah Ibnu Malik, Sadang, Garut, PWNU jabar, Jawa Barat
Pesantren Riyadlul Alfiyyah, Sadanag, Wanaraja, Garut.

“Wama yalil mudhofa ya’ti kholafa,
anhu fil i’robi idza ma hudzifa.”

Bagi kalangan pesantren, Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab tata bahasa Arab yang sangat dikenal. Bagi santri tradisi, menghafal seribu bait Alfiyah menjadi semacam pertanda bahwa ia hendak sungguh-sungguh belajar dan mengaji. Ajengan yang tidak menguasai Alfiyah, akan dianggap kurang mantap tingkat keajenganannya. Setiap pesantren tradisi mengajarkan Alfiyah, tetapi ada yang dianggap spesialisnya di Jawa Barat, yakni pesantren Riyadlul Alfiyah, Sadang Tonggoh, Wanaraja, Garut.

Di pesantren Sadang, tradisi mengajarkan Alfiyah adalah warisan orang tua yang dianggap sebagai amanah. Barokah Afliyyah dirasakan oleh keluarga pesantren Sadang dengan minat santri yang tak pernah surut untuk datang berguru, sejak tradisi ini dimulai lebih dari setengah abad. Santri yang datang ke Sadang, hampir dipastikan sudah hafal Alfiyah, setidaknya pernah belajar kitab ini di pesantren yang sebelumnya mereka kunjungi. Oleh karena itulah Sadang menjadi sangat dihormati.

Pengajaran Alfiyah Sadang diakui mengadopsi pengajaran dari pesantren Sukaraja, yang letaknya tak jauh dari Sadang. Pada masa DI/TII, pengajaran kitab itu di Sukaraja terhenti, dan salah seorang santrinya yang bernama Utsman, memboyong tradisi itu ke Sadang. Pesantren Sadang sendiri didirikan oleh KH. Arif dan dilanjutkan oleh KH. Muhammad Yusuf. Pada era Ajengan Yusuf ini, Sadang dikenal sebagai salah satu pusat tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Baru pada awal 1950-an, ketika Ajengan Utsman tampil sebagai pengasuh, ia memulai sebuah era, dan menamakan pesantrennya sebagai Riyadlul Alfiyah. Sekalipun ia bukan satu-atunya murid pesantren Sukaraja, Utsman dianggap memiliki cara tersendiri dalam mengajar yang menjadi semacam ciri khasnya sehingga terkenal sebagai Alfiyah Sadang.

Rupanya tradisi pengajaran Alfiyah hendak terus dijaga di Sadang. Hal itu bisa dilihat dari pengalaman Ajengan Atang Badruttamam, salah seorang pengasuh pesantren Sadang. Sejak usia belum akil balig, Atang sudah diperkenalkan dengan Alfiyah. Sang ayah, memperdengarkan nazhoman tentang tata bahasa Arab itu sambil bercengkrama dengan si anak. Aceng Atang –anak ajengan di wilayah Garut lazim diimbuhi “aceng” di depan namanya–, sedikit demi sedikit menghafal bait demi bait. Sekira usia 10 tahun, ia sudah menghafal setengah dari 1.000 bait kitab tersebut. Kelak, Atang Badruttamam melakukan hal yang sama kepada anaknya. Begitu pula saudaranya yang lain yang meneruskan pengasuhan pesantren.

KH. Syarif Hidayatullah, salah seorang pengasuh pesantren di Sadang, telah menyiapkan pula generasi pelanjutnya. Anak-anaknya, seperti Aceng Ulumuddin, sudah ikut mengajar santri. Dengan pola seperti itu, regenerasi pengajaran Alfiyah di Sadang, tetap terjaga dan masih diakui kelebihannya oleh para santri dan ajengan di Jawa Barat. Seorang santri yang sudah belajar Alfiyah, hafal dan mengerti isinya, merasa belum sempurna jika belum tabarrukan ke Sadang. Pada hari-hari biasa, santri Sadang berjumlah sekitar 60 orang. Tetapi pada bulan-bulan pasaran, Rajab-Sya’ban-Ramadan, jumlahnya bisa mencapai 400, datang dari pelosok Jawa Barat, seperti pada Ramadan tahun ini.

Ibnu Aqil, Al-Khudlori, Alfiyyah Ibnu Malik, Sadang, Garut, PWNU Jabar, Jawa Barat
Syarah Ibnu Aqil atas Alfiyyah Ibnu Malik dan Hasyiyah Al-Khudlori atas Syarah Ibnu Aqil.

Alfiyah begitu populer di kalangan pesantren tradisi. Kitab ini merupakan salah satu warisan dari kejayaan Islam di Eropa (Spanyol), seperti tampak pada nama penulisnya yang menerakan kata Al-Andalusi (Andalusia) di belakang namanya. Popularitas itu antara lain ditandai dengan komentar para ulama atas kitab ini yang tak kurang dari 40 buah dalam bentuk syarah dan hasyiyah. Bait-bait Alfiyah itu disebut matan, penjelasan atasnya disebut syarah, dan keterangan lebih luas tentang syarah dinamakan hasyiyah. Akan tetapi yang biasa dikaji, sebagaimana di Sadang, hanya beberapa saja, antara lain: Ibnu Aqil, Bahauddin, Khudlori, Ibnu Hamdun, dan Asymuni. Kelimanya adalah komentator yang paling dikenal atas Alfiyah.

Sebagaimana ilmu alat yang lain, kecintaan dunia pesantren terhadap Alfiyah adalah bagian dari manifestasi kecintaan mereka terhadap Al-Qu’ran. Medan kajian paling utama dari kesungguhan mereka mengkaji Alfiyah adalah ayat-ayat suci firman Allah itu. Mereka ikut menjaga kesucian Al-Quran dari kesalahan baca yang akan berakibat pada kekeliruan makna. Menjadi sebuah kepuasan batin ketika para santri itu mampu menerapkan kajian Alfiyah mereka pada ayat-ayat Al-Quran. Di sini terasa kebenaran firman Allah bahwa Dia telah menurunkan Al-Quran dan akan senantiasa menjaganya. Terbukti, tidak hanya ayat-ayatnya yang dihafal umat Islam, melainkan juga kedalaman tata bahasa dan maknanya.

Begitu cintanya komunitas pesantren tradisi pada nazhoman ini sehingga tidak cukup dengan menghafalnya dari depan, dari bait pertama hingga terakhir. Sebagian dari mereka menunjukkan kecerdasannya dengan menghafalnya dari belakang, dari bait keseribu hingga ke bait perdana. Istilahnya, menghafal secara disungsang. Bait-bait Alfiyah yang memiliki bahar (matra) rojaz, pun memudahkan pembaca untuk menyenandungkannya dengan berbagai lagu. Dari lagu yang mepende (meninabobokan) hingga lagu yang ngahudangkeun (membangunkan), bahkan dengan cengkok yang nyunda sekalipun.

Di antara bait-baitnya bahkan kerap dijadikan bahan ceramah. Salah satu yang populer adalah bait pada bagian mudhof. Disebutkan, wama yalil mudhofa ya’ti kholafa, anhu fil i’robi idza ma hudzifa. Bait ini diartikan bahwa seorang santri yang belajar pada ulama (mudhof diasosiasikan kepada ulama) suatu saat akan menjadi pengganti dalam kehidupan ini ketika sang ulama itu telah mangkat. Di Sadang, semangat regenerasi pengajaran Alfiyah, itu antara lain berpijak pada bait ini. Jadi, Alfiyah memang tak sekedar bait-bait tata bahasa, di dalamnya ditemukan pula kearifan tentang hidup.

(Iip Yahya)

Komentari